Menakar Balon Wali Kota Bukittinggi 2020-2025


Kamis, 04 Juli 2019 - 07:35:39 WIB
Menakar Balon Wali Kota Bukittinggi 2020-2025

Oleh : Muhammad Nur Idris

 

Tahun 2020 nanti akan digelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak  di Indonesia, ada sekitar 270 daerah yang akan melaksanakannya. Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri menyebutkan 270 daerah itu dengan rincian;  9 untuk pilkada provinsi, 224 pilkada kabupaten dan 37 pilkada kota. Khusus untuk provinsi Sumatera Barat terdapat  1 pilkada provinsi Sumatera Barat, 11 pilkada kabupaten yakni; Solok, Dharmasraya, Solok Selatan, Pasaman Barat, Pasaman, Pesisir Selatan, Sijunjung, Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam dan Lima Puluh Kota. Sementara untuk kota terdapat 2 daerah yakni  Kota Solok dan Kota Bukittinggi.

 

Sehubungan dengan pilkada serentak itu sudah banyak calon kepala daerah yang muncul atau dimunculkan oleh masyarakat serta media terutama melalui Sosmed alias Media Sosial. Namun penulis pada kesempatan ini hanya khusus mencoba menakar peluang bakal calon untuk pilkada Kota Bukittinggi yang merupakan pilkada barometernya provinsi Sumatera Barat. Memang belum banyak nama-nama yang muncul, apalagi yang sudah berani terang-terangan muncul atau bersosialisasi dengan alat peraga yang biasa menghiasi jalan-jalan di kota wisata ini. Itu sah-sah saja karena kebiasaan demokrasi pilkada, para calon biasanya tenang-tenang sambil menunggu pengumuman tahapan pilkada dari KPU dan pelantikan anggota DPRD Kota Bukittinggi periode 2019-2024 pada 7 Agustus 2019 yang akan datang.

 

Karena persoalan untuk maju tidak terlepas dari partai politik (parpol), baik berdasarkan perolehan suara partai dan/atau berdasarkan perolehan kursi di parlemen atau gabungan partai dengan syarat-syarat tertentu. Atau bisa saja terjadi sejarah kembali pilkada Kota Bukittinggi melalui jalur perseorangan atau independen seperti periode 2015-2020 yang dilakukan oleh Ramlan Nurmatias dan Irwandi yang kini menjabat sebagai Walikota dan Wakil Walikota Kota Bukittinggi. Yang menjadi catatan disini adalah, seberapa peluang calon nanti yang benar-benar bisa maju atau terdaftar di KPUD Kota Bukittinggi.

 

Berdasarkan hasil pemilihan umum legislatif (pileg) 2019 lalu di Bukittinggi, perolehan suara parpol di Bukittinggi yakni; Partai Gerindra meraih suara terbanyak dengan 10.365 suara,  Partai Demokrat diposisi kedua dengan 10.227 suara, PKS diposisi ketiga dengan 8.993 suara, selanjutnya posisi keempat dan seterusnya diraih PAN dengan 8.032 suara, Golkar 5.472 suara, PPP dengan 4.620 suara, Nasdem 3.962 suara, PKB dengan 2.164 suara, PDIP dengan 1.671 suara, PBB dengan 1.652 suara, Hanura dengan 1.542 suara, Berkarya 1.222 suara, Garuda dengan 298 suara, Perindo dengan 175 suara, PSI dengan 138 suara dan PKPI tidak mendapat suara.

 

Sementara berdasarkan perolehan kursi di DPRD Bukittinggi hasil pileg 2019 yakni; Gerinda memperoleh (5 kursi), PKS memperoleh (5 kursi), Demokrat (4 kursi), PAN (3 kursi), PPP (2 kursi), Nasdem (2 kursi), dan PKB (1 kursi). Sementara partai PDIP, PBB, Hanura, Berkarya, Garuda, Perindo, PSI dan PKPI tidak dapat memperoleh kursi di DPRD Kota Bukittinggi. Berdasarkan aturan periode sebelumnya, untuk mengajukan pasangan calon walikota dan wakil walikota Bukittinggi oleh partai politik atau gabungan partai politik dengan persyaratan perolehan paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi di DPRD Bukittinggi atau 25 persen dari akumulasi suara yang sah dari hasil pemilu anggota DPRD Bukittinggi tahun 2019. Sementara untuk jalur perseorangan atau independen dengan syarat harus didukung paling sedikit 6,5 persen dari jumlah penduduk Kota Bukittinggi.

Berkaca dari hasil Pileg 2019 yang baru lalu, hanya 8 parpol yang berhasil memperoleh kursi di DPRD Kota Bukittinggi. Dimana hanya dua parpol yang memenuhi 20 persen kursi di DPRD Bukittinggi yang bisa mengusung sendiri pasangan calon walikota dan wakil walikota Bukittinggi yakni Gerindra (5 kursi) dan PKS (5 kursi). Sementara enam parpol lain atau parpol yang tidak mempunyai kursi di DPRD Bukittinggi dapat mengajukan pasangan calon dengan cara bergabung, baik bergabung dengan jumlah perolehan kursi dan/atau gabungan akumulasi suara yang sah dari hasil pileg 2019.

 

Kebiasaan partai politik akan memprioritaskan katua-ketua parpol atau petinggi pengurus dan kader parpol untuk diusung maju. Kalau itu memang terjadi maka diprediksikan Partai Gerindra punya Ismunadi Syofyan yang merupakan ketua Gerindra yang juga anggota DPRD Sumbar serta Beni Yusrial yang kini jadi Ketua DPRD Bukittinggi dan Ade Rizki Pratama yang kini anggota DPR-RI. PKS punya petinggi partai Rafdinal yang kini anggota DPRD Sumbar dan Marfendi serta kader terbaiknya Syaiful Efendi yang kini anggota DPRD Bukittinggi. Begitu juga Partai  Demokrat punya Ismet Amzis mantan Walikota Bukittinggi dan Rusdi Nurman sebagai ketua partai.

 

PAN punya Rahmi Brisma sebagai ketua partai yang pada pilkada 2015-2020 pernah maju sebagai calon wakil walikota berpasangan dengan Harmazaldi. Golkar sebagai partai pemenang pada pemilu 2014 lalu punya Trismon yang kini wakil ketua DPRD Bukittinggi dan Jon Edwar sebagai ketua partai Golkar, serta PPP ada Rismaidi sebagai ketua partai dan Irman yang baru terpilih sebagai anggota DPRD Bukittinggi dari PPP. Sementara partai-partai lain belum terdengar siapa calon yang akan dimajukan sebagai balon walikota dan wakil walikota Bukittinggi. Dari sederet nama yang dipunyai partai-partai diatas, yang sudah hangat dibicarakan akan maju itu, dari Gerindra (Ismunadi Syofyan, Beni Yusrial dan Ade Rizki Pratama), PKS (Marfendi atau Syaiful Efendi), Demokrat (Ismet Amzis), PAN (Rahmi Brisma), Golkar (Trismon) dan yang lain masih sekedar cerita lapau saja atau mungkin karena sesuatu hal menunggu dengan siapa berkoalisi.

 

Diluar para petinggi dan kader partai diatas, terdapat beberapa nama tokoh dan perantau kurai yang juga hangat dibicarakan untuk maju sebagai balon walikota atau wakil walikota seperti; H. Buyung (pengusaha), DR. Feri Haikal (pengusaha),  Irza Raferi (Swasta), Fahrizal Basir (TNI), H. Nelson Septiadi (pengusaha) namun Nelson tidak mungkin maju sekiranya putra sulungnya Ade Rizki Pratama ikut pula mencalon, Chairunnas (pengusaha). Sementara dari kalangan birokrat yang disebut-sebut akan didorong maju seperti Yuen Karnova (sekda Bukittinggi), Baharyadi (Kepala Bapelitbang), Melfi Abra (Kadis Pendidikan), Fery Chofa (Kadiskominfo Lima Puluh Kota).

 

Walaupun belum dapat dihitung secara pasti, Penulis mencoba menakar arah partai politik dalam pilkada Bukittinggi 2020 berdasarkan perolehan kursi dan fatsun-fatsun yang ada. Ada dua partai yang memperoleh 5 kursi Gerindara dan PKS yang bisa mengusung sendiri dan partai lain harus berkoalisi. Maka diperediksi akan ada 4 pasangan calon yang akan muncul. Hitungannya Gerindra bisa mengusung sendiri 1 pasang (5 kursi), PKS sendiri mengusung 1 pasang (5 kursi), koalisi PAN dan Demokrat mengusung 1 pasang (7 kursi), Golkar, PPP, Nasdem dan PKB mengusung 1 pasang (8 kursi) dengan asumsi berpandangan pengalaman koalisi yang telah dilakukan mengikuti koalisi pada partai pusat selama ini di Pilpres.

 

Yag menarik dibicarakan dalam pilkada Bukittinggi 2020-2025 ini, adalah pencalonan Ramlan Nurmatias dan Irwandi yang kini menjabat Walikota dan Wakil Walikota periode 2015-2020. Banyak pembicaraan dan pertanyaan yang muncul seperti; apakah keduanya akan maju bersama berpasangan kembali?, dengan apa kendaraan kedua tokoh ini maju sebagai balon walikota atau wakil walikota Bukittinggi periode 2020-2025 nanti?. Apakah keduanya akan maju kembali sebagai calon perseorangan seperti periode yang lalu atau akan memakai partai politik maju bersama atau mencari pasangan baru sendiri-sendiri? Sampai hari ini penulis belum dapat menakarnya.

 

Sungguhpun begitu, penulis berkeyakinan bahwa Ramlan atau Irwandi tidak akan maju dari jalur independen seperti periode sebelumnya dengan pertimbangan mereka akan lebih nyaman dan sudah mengenal dan mempunyai hubungan emasional dengan beberapa petinggi partai dibanding pencalonan pada periode lalu. Pada kacamata partai yang ada dikota Bukittinggi, menurut penulis akan banyak partai melirik Ramlan atau Irwandi karena posisi mereka sebagai incumbent disamping keduanya dianggap sudah berbuat dan berhasil membangun kota Bukittinggi selama lima tahun kepemimpinan berdua. Kalaupun karena sesuatu hal mereka berpisah untuk maju dalam pilkada nanti, penulis memprediksi masing-masing mempunyai peluang hampir sama.

 

Mengenai calon yang akan diusung oleh partai politik, penulis mencoba menakar antara lain apabila Gerindra akan mengusung sendiri maka yang diusulkan yakni Ade Rizki Pratama, Ismunadi atau Beni Yusrial. Penulis tidak yakin mereka akan berani maju karena terkait aturan apabila mereka  maju maka mereka harus siap mundur sebagai anggota dewan. Ade Rizki Pratama mundur sebagai Anggota DPR-RI, Ismunadi mundur dari anggota DPRD Sumbar dan Beni Yusrial harus mundur pula dan  siap kehilanga jabatan sebagai ketua DPRD Bukittinggi. Berdasarkan pengalaman yang sudah, Penulis berkeyakinan ketiganya akan berpikir ulang untuk maju.

 

Sama dengan Gerindara, apabila kader PKS Rafdinal atau Syaiful Efendi akan maju pilkada harus juga ikuti aturan yang mengharuskan mereka mundur sebagai anggota dewan. Ismet Amzis sebagai kader Demokrat yang baru terpilih sebagai anggota DPRD provinsi pemilu 2019, menurut penulis diprediksi tidak berani maju dalam pilkada. Tinggal lagi Trismon dari Golkar dan Rahmi Brisma dari PAN yang keduanya punya pengalaman pernah maju sebagai balon wakil walikota Bukittinggi, penulis masih yakin keduanya akan berpikir ulang untuk maju saat ini. Artinya, kalau menggandalkan calon dari kader partai yang ada di Bukittinggi saat ini dapat dipastikan tidak akan ada yang akan maju atau berpikir ulang untuk maju.

 

Dengan prediksi seperti ini, Penulis mencoba menakar yang akan maju Pilkada Kota Bukittinggi untuk posisi balon walikota tinggal Ramlan Nurmatias dan Irwandi. Kalau seperti ini yang akan ramai diperebutkan adalah pencalonan sebagai wakil walikota. Penulis yakin untuk posisi balon wakil walikota ini akan banyak yang muncul dari kalangan kader partai, termasuk dari birokrat, pengusaha dan serta tokoh perantau. Peluang yang memungkinkan untuk balon wakil walikota bagi kedua patahana ini, adalah kader parpol yang berhasil meminang atau mengusung Ramlan Nurmatias atau Irwandi. Siapa yang akan menang head to head Ramlan dan Irwandi, Wallahu A’lam Bishawab !!!.

 Editor : DNJ
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 28 November 2016 - 00:58:24 WIB

    Menakar Kabar Makar

    Menakar Kabar Makar Kata makar mendadak popular setelah Kapolri menyampaikan adanya potensi makar terkait aksi demonstrasi yang akan berlangsung 2 Desember nanti. Sontak saja ungka­pan Kapolri menuai polemik publik, mengingat aksi 2 Desember ad.
  • Selasa, 21 Juni 2016 - 06:05:07 WIB

    Menakar Antisipasi Banjir di Kota Bengkuang

    Menakar Antisipasi Banjir di Kota Bengkuang Kamis sore, (16/6) ribuan warga Padang mulai resah, hujan lebat yang mengguyur Kota Bengkuang belum berhenti. Azhan Magrib pun mulai menggema di menara masjid, pertanda sore mulai berganti malam. Hampir tiga jam hujan membasa.
  • Rabu, 15 Juni 2016 - 02:34:25 WIB

    Menakar Perppu Hukuman Kebiri

    Menakar Perppu Hukuman Kebiri Maraknya pemberitaan diberbagai media massa tentang kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak telah membuat masyarakat gerah dan mendesak pemerintah untuk memperberat hukuman bagi para pelaku kejahatan seksual. Penambahan.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]