Sawahlunto, Kota Tambang yang Menyimpan Sejarah Penderitaan Pribumi


Rabu, 10 Juli 2019 - 20:02:14 WIB
Sawahlunto, Kota Tambang yang Menyimpan Sejarah Penderitaan Pribumi Lubang Soero di Sawahlunto, Sumatera Barat. (Republika)

HARIANHALUAN.COM-Sawahlunto, salah satu kota yang unik berpenduduk sekitar 53 ribu jiwa di Sumatra Barat. Kota ini baru saja dinobatkan oleh Unesco sebagai warisan budaya dunia. 

Nuansa masa lalu begitu terasa di kota ini. Sejumlah bangunan bergaya arsitektur Belanda. Tapi, di sela keindahan kota, tersimpan banyak lubang bekas tambang. Karena, kota ini didirikan sebagai kota tambang oleh pemerintah kolonial lantaran mengandung batubara dengan kualitas terbaik di dunia.  

Salah satu lubang yang bisa dimasuki masyarakat atau wisatawan adalah Lubang Soero. Lubang itu terletak di Jalan Muhammad Yazid, Sawahlunto. Jaraknya hanya 230 meter dari bangunan kantor PT Bukit Asam Ombilin di jantung Kota Sawahlunto.

Lubang Soero ini merupakan lubang bekas galian tambang batubara pada zaman pemerintahan Hindia Belanda pada 1898 silam yang kini dijadikan objek wisata Pemerintah Kota Sawahlunto.  

Pemandu tamu di Museum Lubang Mbah Soero, Sudarsono mengatakan, kedalaman torowongan ini memiliki enam level masuk ke dalam perut bumi. Tapi, pemerintah hanya membuka satu level saja dengan kedalaman 30 meter, panjang 186 meter. Pihak pengelola tidak membuka semua terowongan karena masih belum aman dimasuki pengunjung. 

Dinamai Lubang Soero karena dulunya ada seorang pekerja tambang bernama Mbah Soero. Dia salah satu pekerja yang disegani para pekerja lainnya. Meski begitu, Mbah Soero sosok yang rajin dan pekerja keras. Sehingga ia dijadikan panutan bagi pekerja lainnya.

Dalam sejarahnya, para pekerja disebut sebagai ‘manusia rantai.'  Manusia rantai dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Manusia rantai dan para pekerja paksa di tambang tersebut tidak hanya pribumi dari Sumatra Barat, melainkan dari daerah lain seperti dari Pulau Jawa dan beberapa provinsi  lainnya. 

Bekerja siang hingga malam serta diberi makanan yang sangat tidak layak. Tak ada pilihan, mereka harus tetap bekerja karena itu satu-satunya alasan agar bisa bertahan hidup.

Tidak sedikit para pekerja tambang yang meninggal. Mayat mereka di kubur di dalam lubang dan juga disembunyikan di dinding-dinding terowongan.

“Bagi Belanda, manusia rantai itu pembangkang yang mengancam. 
Bagi pribumi, mereka itu adalah pahlawan.”


 Sumber : Republika /  Editor : DODI NJ


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 15 Juni 2016 - 02:33:26 WIB

    Sawahlunto, Kota yang Move On

    Kota Sawahlunto pernah diramal akan ja­di kota mati menyusul menipisnya kan­dungan batubara yang menghidupi kota ini sejak tahun 1892 lalu. Saking besarnya kan­dungan si emas hitam itu, kolonial di ja­man itu bahkan mempe.

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM