Di Ajang Silek Arts Festival 2019, Sutradara Arief Malinmudo Berbagi Pengalaman Estetis


Kamis, 22 Agustus 2019 - 11:10:33 WIB
Di Ajang Silek Arts Festival 2019, Sutradara Arief Malinmudo  Berbagi Pengalaman Estetis Arief Malinmudo, Sutradara film Surau & Silek, dan Liam dan Laila berbagi wawasan di ajang SAF 2019.


PADANG,HARIANHALUAN.COM-SILEK Arts Festival 2019 resmi dibuka, dan  pada hari Rabu (21/8/2019) bertempat di auditorium Museum Adityawarman, dilaksanakan dialog spesial terkait silat dalam bingkai film, kali ini penyelenggara Silek Arts Festival mengundang sutradara muda Indonesia, Arief Malinmudo yang lebih awal merilis filmnya berjudul Surau dan Silek pada tahun 2017 lalu.

Dialog interaktif ini diharapkan dapat menjadi sarana memperkaya literasi dan pemahaman masyarakat yang hadir dengan menggali penafsiran Arief Malinmudo terhadap silek yang kemudian ia bingkai dalam sebuah film. Peserta yang hadir datang dari beragam profesi, seperti komunitas film mahasiswa, penggiat film animasi, dan ada juga penulis novel, serta penggiat budaya.

Dialog ini dipandu oleh budayawan Sumatera Barat, Bung Edy Utama. Berbeda dengan dialog pada umumnya, Edy Utama memandu dialog dengan diawali pertanyaan dari audiens. Salah satu peserta dialog memulai dengan bertanya pendapat Arief Malinmudo perihal silek aliran apa yang paling tepat dianggap sebagai silek awal mula di Minangkabau untuk diajarkan pada anak- anak? Apakah silek tuo, silek harimau, kumango dan sebagainya.

Menurut Arief Malinmudo, saat ini sebaiknya kita tidak terjebak dengan status silek apa yang lebih awal, silek mana yang lebih dekat dengan masyarakat, atau silek mana yang lebih mempunyai hakikat yang lebih tinggi, Arief menegaskan, yang terpenting adalah silek- silek yang diajarkan di muatan lokal atau ekstrakulikuler sekolah itu adalah silek yang masih bersandar pada falsafah silek Minangkabau yang sesungguhnya bahwa ; lahia silek mancari kawan, bathin silek mancari Tuhan. Artinya selama tidak ada unsur syirik, khurafat, taklik tak berdasar terhadap guru, serta tetap menjadikan silek sebagai salah satu pembentuk kepribadian , silek apapun boleh boleh saja diajarkan, makin variatif, justru makin baik.
.
Diskusi yang berlangsung lebih kurang 2 jam tersebut makin sore semakin seru, karena turut hadir kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar Dra, Gemala Ranti, M.Si, Direktur Silek Arts Festival Ediwar, M.Hum., Ph.D serta kepala Museum Adityawarman.

Gemala Ranti juga ambil bagian pada sesi dialog, Gemala mengapresiasi prestasi serta dedikasi Arief Malinmudo terhadap budaya Minangkabau, yang telah mengantarkan nilai - nilai kearifan lokal kepada masyarakat dunia lewat film.
.
Para peserta tampak antusias bertanya seputar pengembangan ide cerita, bagaimana cara mempresentasikan gagasan karya dan bagaimana melihat potensi yang ada disekitar. Dialog yang santai tersebut juga tampaknya membuat Arief Malinmudo juga enjoy berbagi pengalaman pada para sineas - sineas yang hadir tentang bagaimana mengelola potensi yang dimiliki, mulai dari sumber daya cerita, alam, serta bagaimana menemukan partner yang satu visi dalam menciptakan sebuah karya.

Ikon Baru Anak Muda Minang

Diakhir diskusi, moderator Edy Utama merangkum tiga poin penting yang menurutnya membuat film surau dan silek hadir diantara krisis film anak - anak di Indonesia dengan karya yang dapat "berbicara" sekaligus menjadikan Arief Malinmudo sebagai ikon baru anak muda Minangkabau yang berbicara lewat karya. Pertama, berkaya dengan sebuah keberanian menawarkan gagasan ideologi. Kedua, pendidikan film itu penting walaupun tidak harus sekolah film, namun bisa lewat beragam cara seperti workshop, magang, serta menemukan metode belajar melalui beragam kanal digital, serta bagaimana melakukan riset yang mendalam membangun nilai dalam sebuah karya film.

.
Sebagaimana yang sudah diketahui masyatakat Indonesia, bahwa film Surau dan Silek merupakan film anak - anak yang diproduksi jauh dari pusat industri film di Indonesia. Nominasi aktor anak terbaik pada Festival Film Indonesia 2017.

Film ini telah ditayangkan dalam event yang dikelola Festival Film, Diplomasi Budaya Negara, Film Distributor & Komunitas di : Australia yaitu dikota Sydney, Melbourne, Perth, Adelaide, Canberra, Brisbane.
Amerika Serikat yaitu di kota Los Angeles, Houston, Washington DC, New York. Italia tepatnya di Florence. Hongkong pada september.Algieria di Afrika Utara Hobart, Australia. Riyadh, Saudi Arabia pada Desember 2018 Brunei Darussalam. Sofia, Bulgaria Januari 2019 pada sebuah festival film Islam terbesar di kawasan Balkan, serta baru - baru ini pada bulan Juli 2019 masih ditayangkan di Kota Marseile pada event La Fete Du Cine Indonesien.
.
Setelah dialog berakhir, Arief Malinmudo juga menyempatkan melihat pameran arsip Silat Minangkabau dan pameran seni visual yang bertemakan silat seperti lukisan, seni instalasi video, komik silat di wahana kanvas, film pendek animasi silat, serta beberapa foto.

"Saya sangat kagum melihat semua karya di galery ini, saya haru melihat silek diterjemahkan dan dinukilkan dalam berbagai bentuk karya seni, ini sungguh mengagumkan".

Arief juga mengapresiasi seluruh tim dan penyelenggara Silek Arts Festival 2019 yang telah memformulakan festival dengan beragam konten yang sangat menarik, mulai dari pertunjukan, semiloka, seminar intenasional, pameran visual, hingga penganugrahan pada tokoh tokoh budaya yang dilakukan di 5 Kota /Kabupaten di Sumatera Barat. Ini sebuah tapak langkah yang perlu dicatat, serta ditumbuh kembangkan dengan baik bersama - sama kedepan," tutup Arief pada Harianhaluan.com. (DNJ)


 Editor : DNJ


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM