Kasus LGBT Terbanyak di Lingkup Kampus dan Sekolah


Selasa, 03 September 2019 - 21:38:45 WIB
Kasus LGBT Terbanyak di Lingkup Kampus dan Sekolah Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Masyarakat Sumbar dihebohkan dengan kasus tertangkapnya pasangan gay yang beridentitas sebagai dosen dan mahasiswa didua kampus swasta berbeda di Sumbar, Senin (2/9). Didapati dari telepon genggam kedua pelaku LGBT tersebut sejumlah video porno hubungan sejenis. Kasus tersebut seakaan menguak bahwa dunia pendidikan di Sumbar tidak lepas dari pelaku LGBT.

dr. Armen Ahmad mengatakan, jumlah pelaku LGBT di lingkup kampus dan sekolah di Sumbar dapat dikatakan banyak.

"Dulu ada yang bilang sekitar 15.000 orang, padahal lebih dari itu. Jumlah/presentase pelaku LGBT di sekolah dan kampus yang ada di Sumbar, kita tidak bisa pastikan karena tidak ada data tentang itu. Akan tetapi saya bisa bilang di kawasan kampus dan sekolah pelakunya terbilang banyak. Jika ketemu 1 orang pelaku LGBT maka ada 100 orang LGBT di sekitar populasinya. Sedangkan kemarin ada 2 dan itu dari dua kampus swasta yang berbeda, maka setidaknya ada 200 orang di sekitar ruang lingkup mereka. Kita mencarinya dari data HIV/Aids tapi siapa-siapa saja orangnya itu yang kita tidak tahu," ungkap dr. Armen Ahmad.

Meskipun sekolah dan kampus merupakan kawasan intelektual, dr. Armen menambahkan banyak faktor yang bisa memicu adanya fenomena LGBT di kampus.

"Meskipun mereka orang terpelajar, kaum intelektual banyak penyebabnya bisa jadi sewaktu kecil pernah disodomi, pengasuhan waktu kecil, trauma masa lalu, pendidikan, pemahaman agama yang tidak bagus, tidak ada sex education dari orang tua sejak kecil sedangkan anak ingin tau banyak hal maka mereka mencari tau sendiri tanpa pendampingan, faktor lingkungan, pengaruh teknologi zaman sekarang yang sangat mudah diakses dalam genggaman, stigma dari masyarakat yang menilai pernikahan harus sempurna baik dari segi financial, dsb sehingga banyak orang yang mengalami krisis akan stigma tersebut dan memilih mencari pasangan sejenis karena menganggap kepuasannya terpenuhi," kata dia.

Pelaku LGBT, tutur dr.Armen tidak hanya berasal dari kalangan yang kurang pendidikan, bahkan yang telah S3 pun ada yang merupakan pelaku LGBT.

"Karena pelaku LGBT ada dari semua kalangan. Dari yang miskin, sedang, berkecukupan hingga kaya raya. Dari yang muda, paruh baya, hingga tua. Dari yang SD hingga S3, apapun profesinya ada. Ada itu 3-4 prang pasien saya usianya sudah 70 tahun," ungkapnya.

Ia menambahkan pelaku LGBT dapat diantisipasi melalui pendidikan dan edukasi yang menyertakan pelaku LGBT secara langsung.

"Antisipasimya bagaimana? Seluruh pihak harus turut serta. Orangtua harua ikut andil memberikan pengawasan, pendampingan dan kenali dengan siapa saja anaknya bergaul, mengajari sex education dari dini, kemudian tanya keinginan anak-anak kalau ada yang ingin menikah tapi terkendala biaya, fasilitasi agar hal-hal tidak dionginkan tidak terjadi. Kemudian antisipasi yang paling penting itu di lingkungan selplah dan kampus adalah menyampaikan informasi secara massive, ditampilkan pelaku LGBT itu dihadapan kelas, ini lo akibatnya karena kalau orang kesehatan yang koar-koar tidak akan didengar, kalau pelaku nya sendiri yang bilang kan ada itu buktinya," kata dia.

Selain itu, dr. Armen juga mengusulkan pemerintah tidak tutup mata dengan LGBT.

"Bila perlu dan saya rasa sangat ampuh, pemerintah daerah maupun pihak swasta bisa saja mewajibkan semua pegawainya melakukan tes HIV sekali 1 tahun, juga bagi pasangan yang akan menikah melakukan tes HIV, seleksi masuk sekolah dan kuliah syaratnya lulus HIV, pasti akan kocar kacir dan dapat menjadi antisipasi berkembangnya LGBT," paparnya.

Sejalan dengan itu, aktivis penanggulangan LGBT, Tan Rajo khairul Anwar menuturkan hal yang senada bahwa pelaku LGBT di lingkungan kampus terbilang banyak.

"LGBT banyak di sumbar, saya tidak bisa sebut angka pasti yang jelas ribuan jumlahnya dan itu tersebar di kabupaten/ kota. Mereka ada dimana-mana, ada dilembaga pendidikan, seperti sekolah menengah dan perguruan tinggi, ada juga di lembaga pemerintah dan swasta," ungkapnya kepada Haluan, Selasa (3/9).

Ia juga menjelaskan banyak faktor yang jadi pencetus munculnya prilaku LGBT.

"LGBT banyak hal yang menyebabkan mereka berubah perilaku, bisa karena trauma terhadap lawan jenis, faktor ekonomi, ikut-ikutan bahkan trend. Mereka banyak berkembang disekolah dan kampus karena dijadikan trend disamping mereka membentuk perkumpulan ataupun organisasi komunitas mereka," jelas khairul.

Ia menegaskan, untuk mengatasinya, pemerintah dan semua kalangan harus turut serta. "Solusinya, pemerintahan semua elemen masyarakat harus meyakini bahwa mereka ada disekitar kita, dan secara bersama-sama harus kita waspadai kalau itu hal yang bertentangan dengan norma," ucapnya. (h/mg-yes)

loading...
Reporter : Yesi /  Editor : HSP

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]