Rumah Makan Family Benteng Disegel, 20 Karyawanya Terancam Kehilangan Pekerjaan


Senin, 16 September 2019 - 20:32:40 WIB
Rumah Makan Family Benteng Disegel, 20 Karyawanya Terancam Kehilangan Pekerjaan Ilustrasi

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.COM – Sengketa sewa meyewa antara pengusaha Rumah Makan Family Benteng dengan pemilik lahan di Jalan Jenderal Sudirman Bukittinggi berlanjut. Puncaknya sore tadi, Senin (16/9), pemilik lahan menyegel lokasi rumah makan yang cukup terkenal di kota wisata tersebut.

Tidak ada perlawanan dari pemilik atau karyawan rumah makan saat memasang plang pengumuman itu. Namun, salah seorang karyawan yang tidak menyebutkan namanya meminta pengacara untuk tidak langusng memagar jalan masuk, namun diizinkan berjualan hingga jam 10 malam.

"Kami meminta pengacara tidak langsung memagar jalan masuk, namun diizinkan berjualan hingga sambal kami habis. Saya sudah melaporkan hal ini kepada pemilik rumah makan," katanya.

Ia menambahkan, kemungkinan rumah makan tempat ia bekerja tidak akan buka lagi. Ia pun tidak bisa memastikan nasib 20 orang karyawan yang bekerja di sana.

"Rumah makan family benteng di Bukittinggi ini ada dua cabang, selain di jalan Sudirman ada lagi cabang di Benteng Pasar atas, jumlah karyawan di sini ada 20 orang dan di Family Benteng Pasar Atas ada 19 orang," ungkapnya.

Rumah makan yang sangat terkenal dengan ayam popnya di Bukittinggi itu menunggak sewa tanah dan bangunan sejak bulan Mei lalu.

Pemilik tanah dan bangunan Sawiratul Arfiah Razif melalui kantor pengacara Raya Law Firm Padang memasang plang papan pengumuman dan memapagar jalan masuk rumah makan, Senin (16/9) sekitar pukul 17,30 WIB.

Pemasangan plang papan pengumuman yang bertuliskan dilarang memasuki atau memanfaatkan tanah bangunan ini, jika melakukan aktivitas akan dikenakan ancaman hukuman 9 bulan kurungan penjara.

Pengacara Raya Law Firm, Zulkifli mengatakan, sebelum pemasangan plang itu, pihaknya sudah beberapa kali melakukan negosiasi dengan pemilik rumah makan namun tidak ada kata kesepakatan.

Karena, tidak dapat kata kesepakatan maka pihaknya sudah tiga kali melayangkan somasi dan somasi terakhir diberikan pada tanggal 23 Agustus lalu.

"Somasi yang kita layangkan tidak juga diindahkan, maka selanjutnya kita meminta pihak rumah makan untuk mengosongkan tanah dan bangunan," terangnya.

Menurutnya, kontrak sewa lahan itu sudah berlangsung sejak tahun 2007 lalu atau sudah dua priode dan diperpanjang 2 tahun terhitung tahun 2017.

"Kontrak sewa tanah sudah berlangsung sejak tahun 2007 dan berakhir Mei lalu," kata Zulkifli usai memasang plang pengumuman.

Ia menjelaskan, selama ini kontrak tanah dan bangunan itu bervariasi awalnya Rp90 juta per tahun selanjutnya naik menjadi Rp110 juta pertahun dan terakhir Rp150 juta pertahun.

"Sebenarnya, klaim kami sudah memberikan toleransi kepada pemilik rumah makan selama 3 bulan. Jika pemilik rumah makan tidak terima silahkan mengajukan keberatan ke pengadilan," ungkapnya. (*)


Reporter : Yursil /  Editor : DavidR


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM