Terdampak Kabut Asap, Kualitas Udara di Bukittinggi Menurun


Rabu, 18 September 2019 - 16:17:21 WIB
Terdampak Kabut Asap, Kualitas Udara di Bukittinggi Menurun ilustrasi

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.COM - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, berdampak pada munculnya kabut asap, yang mulai menyelimuti hampir seluruh wilayah di Sumatera Barat.

Berdasarkan data yang dihimpun melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun GAW Bukit Kototabang di Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam, tercatat ada sejumlah Kota dan Kabupaten di Sumbar diselimuti kabut asap, seperti Kota Padang, Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Kepala BMKG Stasiun GAW Bukit Kototabang, Wan Dayantolis, mengatakan, kondisi saat ini terjadi penurunan kualitas udara untuk wilayah Sumbar. Pada ada Jumat (13/9) lalu, memang menjadi kondisi udara terparah di Bukittinggi. Sementara Sabtu dan Minggu kualitas udara mulai membaik. Namun, pada Senin hingga Rabu (18/9), kualitas udara kembali menurun.

“Pola angin menunjukkan bahwa angin bergerak dari wilayah timur dan selatan Sumatera, mengarah ke wilayah Sumatera Barat. Hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan terus menurunnya kualitas udara di Sumatera Barat,” kata Wan Dayantolis, ketika menggelar dialog di Balaikota Bukittinggi, Rabu (18/9).

Untuk parameter kualitas udara ujarnya, berdasarkan pantauan pada 3 hari terakhir pola angin bervariasi dari timur hingga selatan, dan berdasarkan prakiraan hujan dasarian I dan II September 2019, curah hujan rendah diperkirakan terjadi di wilayah tengah hingga selatan Sumatera.

“Sementara untuk jarak pandang di Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padang Pariaman, terpantau 6 Km dan jarak pandang di Stasiun pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang terpantau sejauh 2 Km. Berdasarkan pantauan jarak pandang di Bandara Internasional Minangkabau dan Bukit Koto Tabang, kondisi jarak pandang ini mengalami penurunan dan bekurang," jelasnya.

Menurut Wan Dayantolis, jika hotspot pada sekitar Sumbar dan beberapa provinsi terdekat terus meningkat dan curah hujan masih terus berkurang perlu diwaspadai dampaknya terhadap kondisi kualitas udara di wilayah Sumatera Barat. Bahkan, pada malam hari pun menjadi kondisi yang cukup berbahaya bagi kesehatan warga.

Sementara itu Assisten II Setdako Bukittinggi Ismail Djohar juga terus mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, baik siang maupun malam hari. Apalagi, dari keterangan BMKG Koto Tabang, musim kemarau diprediksi akan lebih panjang dan awal musim hujan mulai pada 10 hingga 20 hari kedepan.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi pembakaran sampah, jerami serta mengurangi terjadinya kebakaran lahan. Mari kita menggunakan masker saat keluar rumah. Kalau bisa, kurangi aktivitas di luar ruangan," ungkapnya.

Menurutnya, Pemko juga akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait, untuk mengadakan shalat istisqa atau shalat minta hujan. "Jika turun hujan, masyarakat juga diharapkan dapat menghindar. Karena kadar asam dari hujan dicampur kabut asap akan tinggi. Ini rentan dengan penyakit kulit, serta berpengaruh pada kebersihan pakaian," tukas Ismail. (h/tot)

 

loading...
Reporter : Gatot /  Editor : HSP

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]