Kisah Pemadam Karhutla: Pantang Balik Sebelum Padam, Kecuali Gegara Ini..?


Senin, 23 September 2019 - 22:41:16 WIB
Kisah Pemadam Karhutla: Pantang Balik Sebelum Padam, Kecuali Gegara Ini..? Petugas gabungan melakukan pemadaman api karhutla di Kelurahan Terkul, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (20/2/2019).

PEKANBARU, HARIANHALUAN.COM – ‘Pantang pulang sebelum padam’, motto ini merupakan harga mati bagi pemadam kebakaran. Begitu juga halnya ‘Pantang pulang sebelum menyala’ motto ini juga harga diri bagi petugas PLN saat  memperbaiki  listrik padam.

Namun ada kisah  menarik bagi petugas pemadam kebakaran  hutan dan lahan di  Riau. Besarnya kobaran api yang  membakar semak belukar hingga  pepohonan hutan lebat tidak membuat  merek gentar. Api  membumbung, semangat mereka  pun melambung.

 

Tetapi dibalik perjuangan heroik memadamkan Karhutla itu, ternyata ada yang bisa membuat tim pemadam kebakaran itu balik kanan. Ya, ternyata bukan kobaran api yang membuat mereka takut, melainkan seekor ular cobra yang memang terkenal ganas dan memiliki bisa mematikan.

Kisah ini dialami Tim Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Daerah Operasi (Daops) Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Mereka menemukan ular kobra ketika bertugas.

Ketua Tim Manggala, Rengat Syailendra menjelaskan kejadian itu dialami sebulan yang lalu. Saat itu, ia bersama timnya tengah memadamkan api di lahan gambut.

"Kejadiannya sekitar sebulan yang lalu. Waktu itu, tim kita sedang memadamkan api kebakaran lahan gambut di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan," ungkap Rengat Syailendra, seperti dikutip Kompas.com, Senin (16/9/2019).

Ular kobra muncul dari semak belukar yang sedang terbakar di siang hari. Melihat ular kobra tersebut, para petugas langsung bergegas melarikan diri.

Kendati demikian, ular kobra itu tidak menyerang. Bahkan, ular kobra tersebut juga langsung kembali masuk ke semak.

"Tim langsung lari. Kemudian ularnya masuk ke semak," kata Rengat Syailendra.

Meski tak menyerang, Rengat Syailendra mengakui hal itu sempat membuat timnya ketakutan. Sehingga, ia meminta anggotanya untuk waspada.

Misalnya saat melakukan pemadaman malam, tim harus memastikan terlebih dulu apakah daerah tersebut merupakan habitat satwa liar.

"Kami harus selalu waspada terhadap hewan buas, salah satunya ular. Apalagi kalau ada rencana pemadaman malam, syaratnya harus dipastikan dulu areal terbakar bukan habitat satwa liar khususnya ular beracun," jelasnya.

Lahan yang telah terbakar dianggap lebih aman ketimbang daerah semak-semak.

Dikutip dari Tribunnews, Satelit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, ada 73 titik api di Riau hingga Senin (16/9/2019).

Dengan rincian Kabupaten Rokan Hilir 40 titik, Pelalawan 12 titik, Inhil 6 titik, Dumai 5 titik, Inhu dan Kuansing masing-masing 3 titik dan Kampar bersama Bengkalis masing-masing 2 titik.

Sedangkan di provinsi lain masih terpantau 423 titik, Jambi 60 titik, Babel 58 titik, Lampung 55 titik, Kepri 18 titik, Sumut 8 titik, Sumbar 4 titik dan Bengkulu 2 titik. (*)

loading...
 Sumber : BBS/RMC /  Editor : DavidR
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]