Kualitas Udara Mulai Membaik, Sumbar akan Diguyur Hujan Tiga Hari ke Depan


Kamis, 26 September 2019 - 00:26:42 WIB
Kualitas Udara Mulai Membaik, Sumbar akan Diguyur Hujan Tiga Hari ke Depan Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Kualitas udara Sumatera Barat perlahan-lahan mulai meningkat. Hujan yang turun sejak Senin (23/9) malam menjadi penyebab utama membaiknya udara Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi akan terus berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, Wan Dayantolis menyebut, pantauan GAW pada Rabu (25/9) pagi mencatat konsentrasi PM10 telah berada di bawah baku mutu, yaitu 47 mikrogram/m³, dan AOD menunjukan indeks <1, yang berarti tingkat partikulat pada pada lapisan atmosfer sudah berada pada kondisi baik.

"Namun pada beberapa daerah, terutama yang berada di pesisir pantai, udara masih terlihat kabur meski jarak pandang >5 km. Hal ini lantaran hujan yang belum merata, sehingga belum membersihkan seluruh partikel polutan di udara," ujarnya kepada Haluan, Rabu (25/9).

Sebelumnya, pada Minggu (22/9) dan Senin (23/9) kemarin, sebaran PM10 mencapai level maksimum dengan sebaran tertinggi di wilayah timur dan perbukitan Sumbar. Bahkan, sempat menyentuh kategori BERBAHAYA, yaitu sebesar 487 mikrogram/m³. "Sementara pada wilayah pesisir dan pantai barat, tingkat partikulat akibat sebaran asap masih berada pada level moderat," ujar Wan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yuda Nugraha menyebutkan, dalam dua atau tiga hari ke depan, Sumbar akan terus diguyur hujan yang intensitasnya bervariasi dari ringan hingga sedang. Hujan diperkirakan akan turun pada sore hingga malam hari.

Daerah-daerah berpotensi hujan selama dua atau tiga hari ke depan, kata Yuda, adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, serta Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Hujan yang turun mencuci udara, sehingga partikulat polutan di tertinggal atmosfer ikut terbawa turun ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan kualitas udara di Sumbar mulai membaik," tuturnya.

Kendati begitu, ia juga mengatakan, ada kemungkinan kualitas udara di Sumbar kembali memburuk, tergantung perkembangan titik api di wilayah provinsi tetangga. Apabila titik api di Riau dan Jambi terus bertambah, maka angin yang berhembus dari timur dan tenggara akan membawa partikel-partikel asap kembali ke Sumbar.

"Di Sumbar sendiri, titik api terpantau tidak terlalu banyak dan tidak terlalu memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas udara di Sumbar. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah asap hasil kiriman provinsi tetangga," ujarnya. (h/mg-dan)v

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Kualitas udara Sumatera Barat perlahan-lahan mulai meningkat. Hujan yang turun sejak Senin (23/9) malam menjadi penyebab utama membaiknya udara Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi akan terus berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, Wan Dayantolis menyebut, pantauan GAW pada Rabu (25/9) pagi mencatat konsentrasi PM10 telah berada di bawah baku mutu, yaitu 47 mikrogram/m³, dan AOD menunjukan indeks <1, yang berarti tingkat partikulat pada pada lapisan atmosfer sudah berada pada kondisi baik.

"Namun pada beberapa daerah, terutama yang berada di pesisir pantai, udara masih terlihat kabur meski jarak pandang >5 km. Hal ini lantaran hujan yang belum merata, sehingga belum membersihkan seluruh partikel polutan di udara," ujarnya kepada Haluan, Rabu (25/9).

Sebelumnya, pada Minggu (22/9) dan Senin (23/9) kemarin, sebaran PM10 mencapai level maksimum dengan sebaran tertinggi di wilayah timur dan perbukitan Sumbar. Bahkan, sempat menyentuh kategori BERBAHAYA, yaitu sebesar 487 mikrogram/m³. "Sementara pada wilayah pesisir dan pantai barat, tingkat partikulat akibat sebaran asap masih berada pada level moderat," ujar Wan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yuda Nugraha menyebutkan, dalam dua atau tiga hari ke depan, Sumbar akan terus diguyur hujan yang intensitasnya bervariasi dari ringan hingga sedang. Hujan diperkirakan akan turun pada sore hingga malam hari.

Daerah-daerah berpotensi hujan selama dua atau tiga hari ke depan, kata Yuda, adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, serta Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Hujan yang turun mencuci udara, sehingga partikulat polutan di tertinggal atmosfer ikut terbawa turun ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan kualitas udara di Sumbar mulai membaik," tuturnya.

Kendati begitu, ia juga mengatakan, ada kemungkinan kualitas udara di Sumbar kembali memburuk, tergantung perkembangan titik api di wilayah provinsi tetangga. Apabila titik api di Riau dan Jambi terus bertambah, maka angin yang berhembus dari timur dan tenggara akan membawa partikel-partikel asap kembali ke Sumbar.

"Di Sumbar sendiri, titik api terpantau tidak terlalu banyak dan tidak terlalu memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas udara di Sumbar. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah asap hasil kiriman provinsi tetangga," ujarnya. (h/mg-dan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Kualitas udara Sumatera Barat perlahan-lahan mulai meningkat. Hujan yang turun sejak Senin (23/9) malam menjadi penyebab utama membaiknya udara Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi akan terus berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, Wan Dayantolis menyebut, pantauan GAW pada Rabu (25/9) pagi mencatat konsentrasi PM10 telah berada di bawah baku mutu, yaitu 47 mikrogram/m³, dan AOD menunjukan indeks <1, yang berarti tingkat partikulat pada pada lapisan atmosfer sudah berada pada kondisi baik.

"Namun pada beberapa daerah, terutama yang berada di pesisir pantai, udara masih terlihat kabur meski jarak pandang >5 km. Hal ini lantaran hujan yang belum merata, sehingga belum membersihkan seluruh partikel polutan di udara," ujarnya kepada Haluan, Rabu (25/9).

Sebelumnya, pada Minggu (22/9) dan Senin (23/9) kemarin, sebaran PM10 mencapai level maksimum dengan sebaran tertinggi di wilayah timur dan perbukitan Sumbar. Bahkan, sempat menyentuh kategori BERBAHAYA, yaitu sebesar 487 mikrogram/m³. "Sementara pada wilayah pesisir dan pantai barat, tingkat partikulat akibat sebaran asap masih berada pada level moderat," ujar Wan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yuda Nugraha menyebutkan, dalam dua atau tiga hari ke depan, Sumbar akan terus diguyur hujan yang intensitasnya bervariasi dari ringan hingga sedang. Hujan diperkirakan akan turun pada sore hingga malam hari.

Daerah-daerah berpotensi hujan selama dua atau tiga hari ke depan, kata Yuda, adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, serta Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Hujan yang turun mencuci udara, sehingga partikulat polutan di tertinggal atmosfer ikut terbawa turun ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan kualitas udara di Sumbar mulai membaik," tuturnya.

Kendati begitu, ia juga mengatakan, ada kemungkinan kualitas udara di Sumbar kembali memburuk, tergantung perkembangan titik api di wilayah provinsi tetangga. Apabila titik api di Riau dan Jambi terus bertambah, maka angin yang berhembus dari timur dan tenggara akan membawa partikel-partikel asap kembali ke Sumbar.

"Di Sumbar sendiri, titik api terpantau tidak terlalu banyak dan tidak terlalu memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas udara di Sumbar. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah asap hasil kiriman provinsi tetangga," ujarnya. (h/mg-dan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Kualitas udara Sumatera Barat perlahan-lahan mulai meningkat. Hujan yang turun sejak Senin (23/9) malam menjadi penyebab utama membaiknya udara Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi akan terus berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, Wan Dayantolis menyebut, pantauan GAW pada Rabu (25/9) pagi mencatat konsentrasi PM10 telah berada di bawah baku mutu, yaitu 47 mikrogram/m³, dan AOD menunjukan indeks <1, yang berarti tingkat partikulat pada pada lapisan atmosfer sudah berada pada kondisi baik.

"Namun pada beberapa daerah, terutama yang berada di pesisir pantai, udara masih terlihat kabur meski jarak pandang >5 km. Hal ini lantaran hujan yang belum merata, sehingga belum membersihkan seluruh partikel polutan di udara," ujarnya kepada Haluan, Rabu (25/9).

Sebelumnya, pada Minggu (22/9) dan Senin (23/9) kemarin, sebaran PM10 mencapai level maksimum dengan sebaran tertinggi di wilayah timur dan perbukitan Sumbar. Bahkan, sempat menyentuh kategori BERBAHAYA, yaitu sebesar 487 mikrogram/m³. "Sementara pada wilayah pesisir dan pantai barat, tingkat partikulat akibat sebaran asap masih berada pada level moderat," ujar Wan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yuda Nugraha menyebutkan, dalam dua atau tiga hari ke depan, Sumbar akan terus diguyur hujan yang intensitasnya bervariasi dari ringan hingga sedang. Hujan diperkirakan akan turun pada sore hingga malam hari.

Daerah-daerah berpotensi hujan selama dua atau tiga hari ke depan, kata Yuda, adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, serta Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Hujan yang turun mencuci udara, sehingga partikulat polutan di tertinggal atmosfer ikut terbawa turun ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan kualitas udara di Sumbar mulai membaik," tuturnya.

Kendati begitu, ia juga mengatakan, ada kemungkinan kualitas udara di Sumbar kembali memburuk, tergantung perkembangan titik api di wilayah provinsi tetangga. Apabila titik api di Riau dan Jambi terus bertambah, maka angin yang berhembus dari timur dan tenggara akan membawa partikel-partikel asap kembali ke Sumbar.

"Di Sumbar sendiri, titik api terpantau tidak terlalu banyak dan tidak terlalu memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas udara di Sumbar. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah asap hasil kiriman provinsi tetangga," ujarnya. (h/mg-dan)

PADANG, HARIANHALUAN.COM — Kualitas udara Sumatera Barat perlahan-lahan mulai meningkat. Hujan yang turun sejak Senin (23/9) malam menjadi penyebab utama membaiknya udara Sumbar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi akan terus berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, Wan Dayantolis menyebut, pantauan GAW pada Rabu (25/9) pagi mencatat konsentrasi PM10 telah berada di bawah baku mutu, yaitu 47 mikrogram/m³, dan AOD menunjukan indeks <1, yang berarti tingkat partikulat pada pada lapisan atmosfer sudah berada pada kondisi baik.

"Namun pada beberapa daerah, terutama yang berada di pesisir pantai, udara masih terlihat kabur meski jarak pandang >5 km. Hal ini lantaran hujan yang belum merata, sehingga belum membersihkan seluruh partikel polutan di udara," ujarnya kepada Haluan, Rabu (25/9).

Sebelumnya, pada Minggu (22/9) dan Senin (23/9) kemarin, sebaran PM10 mencapai level maksimum dengan sebaran tertinggi di wilayah timur dan perbukitan Sumbar. Bahkan, sempat menyentuh kategori BERBAHAYA, yaitu sebesar 487 mikrogram/m³. "Sementara pada wilayah pesisir dan pantai barat, tingkat partikulat akibat sebaran asap masih berada pada level moderat," ujar Wan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Minangkabau, Yuda Nugraha menyebutkan, dalam dua atau tiga hari ke depan, Sumbar akan terus diguyur hujan yang intensitasnya bervariasi dari ringan hingga sedang. Hujan diperkirakan akan turun pada sore hingga malam hari.

Daerah-daerah berpotensi hujan selama dua atau tiga hari ke depan, kata Yuda, adalah Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, serta Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Hujan yang turun mencuci udara, sehingga partikulat polutan di tertinggal atmosfer ikut terbawa turun ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan kualitas udara di Sumbar mulai membaik," tuturnya.

Kendati begitu, ia juga mengatakan, ada kemungkinan kualitas udara di Sumbar kembali memburuk, tergantung perkembangan titik api di wilayah provinsi tetangga. Apabila titik api di Riau dan Jambi terus bertambah, maka angin yang berhembus dari timur dan tenggara akan membawa partikel-partikel asap kembali ke Sumbar.

"Di Sumbar sendiri, titik api terpantau tidak terlalu banyak dan tidak terlalu memberi pengaruh yang signifikan terhadap kualitas udara di Sumbar. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah asap hasil kiriman provinsi tetangga," ujarnya. (*)

loading...
Reporter : Dani /  Editor : DavidR
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 17 Oktober 2019 - 18:34:08 WIB

    Kualitas Udara Turun, Kota Solok Liburkan Sekolah

    Kualitas Udara Turun, Kota Solok Liburkan Sekolah SOLOK, HARIANHALUAN.COM -- Wali Kota Solok Zul Elfian mengeluarkan surat edaran pemberitahuan untuk meliburkan sekolah mulai dari PAUD/TK sampai dengan tingkat SMA/SMK. Pemkot Solok meliburkan sekolah sejak hari ini, Kamis (.
  • Ahad, 13 Oktober 2019 - 10:23:33 WIB

    Kualitas Udara Jambi Kembali Buruk pada Minggu Pagi

    Kualitas Udara Jambi Kembali Buruk pada Minggu Pagi JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Jambi kembali diselimuti kabut asap pekat pada Minggu (13/10) selama dua hari terakhir sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla)..
  • Rabu, 18 September 2019 - 16:17:21 WIB

    Terdampak Kabut Asap, Kualitas Udara di Bukittinggi Menurun

    Terdampak Kabut Asap, Kualitas Udara di Bukittinggi Menurun BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.COM - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, berdampak pada munculnya kabut asap, yang mulai menyelimuti hampir seluruh wilayah di Sumatera Barat..
  • Sabtu, 14 September 2019 - 10:00:05 WIB

    Jangan Keluar Rumah atau Gunakanlah Masker, Kualitas Udara di Dharmasraya Semakin Sangat Tidak Sehat

    Jangan Keluar Rumah atau Gunakanlah Masker, Kualitas Udara di Dharmasraya Semakin Sangat Tidak Sehat  DHARMASRAYA,HARIANHALUAN.COM-Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di Kabupaten Dharmasraya oleh Dinas Lingkungan Hidup bekerjasama BMKG,  Jumat 13 September 2019    pukul 10.00 WIB s/d 12.00 WIB didapat hasil PM10.
  • Kamis, 12 September 2019 - 17:03:53 WIB

    Kualitas Udara Menurun, Payakumbuh Waspada Kabut Asap

    Kualitas Udara Menurun, Payakumbuh Waspada Kabut Asap PAYAKUMBUH, HARIANHALUAN.COM - Kabut asap dari daerah lain ternyata mulai berdampak terhadap kawasan Kota Payakumbuh. Kualitas udara di Kota Randang itu dinyatakan mulai menurun. Hal itu tercantum dalam surat edaran Pemko Pay.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]