Kisah Pilu Perantau Minang di Papua! Amai… Kami Ingin Pulang


Ahad, 29 September 2019 - 23:55:13 WIB
Kisah Pilu Perantau Minang di Papua! Amai… Kami Ingin Pulang

Laporan: Okis Mardiansyah

PAINAN, HARIANHALUAN.COM - Sebuah teras rumah berlantaikan keramik sederhana beratap seng terletak di tepi sawah yang baru saja dipenuhi pelayat.

Tak jauh dari sana terlihat seorang perempuan setengah baya kurus duduk di sofa lusuh dekat pohon kelapa. Matanya sembab berkaca-kaca sembari terisak tangis. Ia terus saja menangisi kepergian tiga anak dan seorang cucunya yang meninggal dalam kerusuhan di Wamena, Papua.

Perempuan itu adalah Raulis 65 tahun. Tiga anaknya adalah Syafrianto K 36 tahun, Japriantoni 24 tahun, dan Hendra Eka Putra 22 tahun. Cucunya adalah Riski 3,5 tahun. Sementara istri Syafrianto, menantunya bernama Putri 30 tahun hingga kini dalam keadaan kritis dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit umum daerah Jayawijaya.

Hal ini bermula saat demonstrasi berakhir rusuh di Wamena, Senin, 23 September 2019, massa membabi buta membakar toko Syafrianto. Semua terjebak di dalamnya, kecuali Putri yang berhasil melompati jendela. Namun sungguh tragis, dalam pelariannya Putri di bacok perusuh.

Dua hari sebelum kejadian itu, Syafrianto menelepon Raulis, "Amai, kami ingin pulang."

Amai adalah bahasa daerah Minang Kabau yang artinya ibu. Raulis menceritakan telepon terakhir anaknya itu kepada wartawan Jumat, 27 September 2019.

Raulis, ibu 10 anak itu menitikan air mata mengenang peristiwa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Telepon itu menjadi pesan terakhir baginya, artinya anaknya pamit untuk selamanya, dan berpulang menghadap Yang Maha Kuasa.

Mimpi Kehilangan Tiga Ekor Ayam Jantan

Pada Jumat sore itu, cuaca terlihat mendung di Padang Cupak, Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar). Raulis bersama suaminya Kasdir 70 tahun, tak henti-hentinya disalami para pelayat, tetangga dan kerabat yang turut berbelasungkawa atas tragedi keluarganya di Wamena.

Raulis masih ingat, sepekan sebelum peristiwa itu terjadi, ia sering bermimpi aneh. Mimpi yang sama berulang-ulang terjadi. Ia mengaku kehilangan tiga ekor Ayam Jantan, kemudian mimpi melihat bunga warna-warni bertebaran di dalam rumah bermekaran dan wangi.

"Ya, saya berpikir mimpi itu hanyalah bunga tidur," tuturnya lirih dengan wajah sembab dikarenakan terlalu sering menangis.

Ia berusaha kuat dan tegar menahan air matanya, tapi kantung mata yang kendur itu tak sanggup lagi. Sesekali bulir bening itu jatuh juga ke pipi.

Kecamuk batin tampak jelas di raut wajahnya. Namun apa daya, ia hanya bisa pasrah menerima cobaan tersebut, meski belum sepenuh hati ikhlas.

"Padahal sebelum hari kejadian itu, ia bakal mengirim uang, tapi yang dikirim justru jasadnya," katanya lagi.

Sesaat Mobil Jenazah Datang

Dilokasi terlihat pelayat tumpah ruah memadati rumah Raulis. Halaman rumah dibanjiri pelayat dari berbagai penjuru, termasuk tim Pemkab Pessel. Para pelayat berdatangan sejak sore. Menjelang malam, kerumunan warga masih ramai menunggu kedatangan mobil ambulan pembawa jenazah.

Sesekali terdengar suara berbisik warga sekitar yang penasaran kapan datangnya.

"Informasinya, hari ini sudah sampai. Tapi mana mobil ambulannya," ucap seorang laki-laki paruh baya bertanya pada pelayat disebelahnya

Tak berselang lama, perlahan terdengar sirine mobil ambulan membawa jenazah. Makin lama semakin jelas suaranya. Saat mobil pengangkut empat jenazah itu sampai, tangis pun pecah. Bahkan diantara keluarga korban ada yang tak sadarkan diri.

Sejumlah pemuda berbadan tegap berduyun mendekati mobil jenazah dan membantu mengangkat peti jenazah.

Tapi, Raulis dan Kasdir justeru menjauh. Ia tak tahan melihatnya, seluruh tubuhnya melemas, tulang-belulang serasa rapuh saat itu. Ia mendekap erat anak-anaknya yang lain, seakan tak mau ditinggalkan lagi.

Merantau ke Wamena

Syafrianto K merantau ke Wamena lima tahun silam, mengikuti jejak kakaknya, Eman 42 tahun. Beruntung, Eman selamat dari aksi brutal Wamena.

Ia anak ke 5 dari 10 bersaudara. Jafriantoni dan Hendra Eka Putra anak ke 9 dan ke 10 bersaudara. Sejak kecil ia sudah merasakan beratnya beban hidup sebagai keluarga petani miskin di kampungnya.

Masa mudanya, sepulang sekolah, membantu sang ayah menggarap sawah dan ladang yang tak begitu luas.

Kasdir ingat, suatu ketika usai bekerja di sawah, anaknya itu berbisik lirih kepadanya.

"Ambo cukuik tamat SMP sajo, Ayah. Bialah adiek nan sikolah. Ambo manolong Ayah sajo (Saya cukup tamat SMP ini saja, Ayah. Biarlah adik yang sekolah. Saya membantu Ayah saja)," kata Kasdir menirukan ucapan Syafrianto saat itu. Ia mengaku melihat kesungguhan dan ketulusan anak itu pada raut wajahnya yang polos.

Saat itu, Syafrianto paham benar kondisi ekonomi keluarga. Orang tuanya bekerja keras demi menghidupi 10 saudaranya. Sebagai petani kecil, hal itu tentu bukan perkara yang mudah.

Hati Kasdir seperti disayat sembilu mendengar ucapan anaknya itu. Tapi apa daya, memang begitu adanya. Sejak saat itu Syafrianto menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa pernah mengeluh, tak kenal lelah, ia bekerja di sawah dan ladang demi masa depan ke empat adiknya. Membahagiakan kedua orang tua menjadi tujuan utama hidupnya.

Hari terus berlalu, bulan berbilang, tahun berganti. Beban hidup kian berat. Hasil dari bertani dirasa tidak cukup lagi untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari.

Akhir kata, Syafrianto memberanikan diri meninggalkan kampung halamannya. Ia bertekad mengadu untung di rantau orang. Menyusul kakaknya ke Tanah Papua.

Terngiang di telinganya sebuah filosofi di Minang, Krakatau Madang di Hulu. Babuah, Babungo Balun. Marantau Bujang Dahulu. Di Kampuang Paguno Balun. (Krakatau Madang di Hulu. Berbuah, Berbunga Belum. Merantau Bujang Dahulu, di Kampung Berguna Belum).

Syafrianto berpikir, jika tetap bertahan di kampung, kemungkinan adik-adiknya akan bernasib sama dengannya. Bahkan tidak bisa melanjutkan sekolah.

"Ia dari dulu sudah jadi tulang punggung keluarga kami," ujar Kasdir mengingatnya.

Berbekal tekad yang kuat, ketekunan dan kejujuran, Syafrianto terbilang sukses di perantauan. Usaha warung kelontong yang dikelolanya berkembang sangat pesat.

Sekolah adik-adiknya dapat diselesaikan. Rumah yang dulu semi permanen, berubah menjadi permanen. Ia kemudian mulai memboyong adik laki-lakinya ke Bumi Cendrawasih itu.

Anak yang Baik

Semasa kecil, Syafrianto dikenal sebagai anak yang baik. Berkepribadian kuat dan sangat berbakti pada kedua orang tuanya, sanak saudara maupun lingkungan sekitar.

Ia tak segan membantu sesama, aktif dalam beberapa kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungannya. Terkenal alim, rajin beribadah.

Hal itu diungkapkan Aidil 29 tahun, warga yang tinggal dekat dengan keluarga Kasdir.

"Saya kenal baik dengan almarhum. Dia suka bergaul dan tak suka mengganggu," kata Aidil.

Wali Nagari Lakitan Utara, Afrizal, mengatakan hal serupa. Afrizal kebetulan adalah paman Syafrianto.

Afrizal menyebut Syafrianto adalah anak yang sangat penurut dan patuh.

"Dalam kekerabatan di keluarga kami, dia terkenal sebagai penjemput yang jauh, pemanggil yang dekat. Amanah. Tidak ada urusan yang tidak diselesaikan olehnya," ujar Afrizal.

Namun apa hendak dikata, takdir berkata lain. Ia telah mendahului kita semua.

"Kinantan panaiak (orang yang rajin silaturahmi) itu sudah tiada. Menyisakan luka mendalam bagi kami keluarga,"ucapnya.

Selamat jalan Syafrianto. Selamat jalan Riski. Selamat jalan Hendra Eka Putra, Japriantoni. Semoga Husnul Khotimah. Mudah-mudahan diberi tempat yang mulia di sisi-Nya. Aamiin ya rabbal alamin. (*)

Reporter : Okis | Editor : DavidR

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]