Petualangan La Nyalla Menuju Singgasana Ketua DPD RI: Dari PSSI, Korupsi Hingga Hoaks Jokowi


Rabu, 02 Oktober 2019 - 11:36:52 WIB
Petualangan La Nyalla Menuju Singgasana Ketua DPD RI: Dari PSSI, Korupsi Hingga Hoaks Jokowi Grafis/detik.com

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM – Mantan Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti terpilih menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2019-2024. Senator asal Jawa Timur itu menyisihkan kandidat lainnya pada pemilihan yang dilangsungkan tengah malam tadi, Selasa (1/10).

Rekam jejaknya yang kontroversial malang melintang sejak di dunia usaha, olahraga, hingga panggung politik membuat public terheran.

Dalam proses pemungutan suara untuk memilih Ketua DPD RI, Selasa (1/10) tengah malam, La Nyalla maraup 47 suara, beda tipis dari anggota DPD asal Maluku Nono Sampono yang mendapatkan 40 suara. Di bawahnya, ada senator asal Kalimantan Timur Mahyudin (28 suara), dan senator asal Bengkulu Sultan Bachtiar Najamuddin (18 suara).

La Nyalla Mahmud Matalitti (60) sendiri berasal dari keluarga saudagar besar asal Bugis, Sulawesi Selatan, yang cukup berpengaruh di Surabaya. Meski begitu, La Nyalla pernah bekerja serabutan di usia muda. Ia kemudian dapat menjelma sebagai sosok pengusaha berpengaruh di Surabaya.

Mengutip dari situs pribadinya, www.lanyallamm.com, lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya (1977-1984) itu pernah menjabat Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur, Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.

Pamornya makin tampak saat mulai berkiprah di PSSI. Di organisasi ini, ia sempat menjabat Komite Eksekutif (Exco), Wakil Ketua Umum PSSI, hingga akhirnya bisa menjabat sebagai Ketua Umum PSSI (2015 - 2016).

Pada periode kepemimpinan La Nyalla itu, PSSI baru saja dijatuhi sanksi oleh Menpora Imam Nahrawi akibat kebijakan PSSI soal hasil rekomendasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) yang tidak meloloskan Arema Malang dan Persebaya Surabaya ke liga.

Di tengah konflik tersebut, La Nyalla diterpa kasus korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2011 - 2014 saat menjadi Ketua Kadin Jatim. Ia kemudian ditetapkan tersangka. Kongres Luar Biasa PSSI memutuskan untuk memaksa La Nyalla mundur.

Namun, majelis hakim Pengadilan Tipikor memvonisnya bebas pada 27 Desember 2016.

 

Panggung Politik


La Nyalla pernah menjadi bagian tim sukses Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto saat Pilpres 2009. Lima tahun kemudian, ia kembali jadi bagian timses Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dia pun menjadi bagian Partai Gerindra.

Januari 2018, La Nyalla mengaku dimintai mahar politik Rp40 miliar diduga oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jika ingin dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Timur. Pihak Gerindra membantah dan menyebutnya gagal mencari partai koalisi di Pilkada Jatim.

Memasuki penghujung 2018, Ia lantas bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB), partai besutan Yusril Ihza Mahendra yang putar haluan mendukung Jokowi.

Setelah bergabung PBB, La Nyalla menggelar konferensi pers untuk mengungkap pengakuan telah menyebarkan fitnah soal Jokowi pada Pilpres 2014. Saat itu, La Nyalla masih menjadi anggota timses Prabowo-Hatta.

Fitnahnya adalah bahwa Jokowi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), pemeluk agama Kristen, serta keturunan China. Selain itu, La Nyalla juga mengaku membantu penyebaran tabloid Obor Rakyat hingga 100 truk. Kabar tersebut disebar oleh La Nyalla lewat broadcast menggunakan Blackberry.

Dia kemudian memutuskan untuk mendaftar sebagai calon anggota DPD RI periode 2019-2024. Saat itu, ia bersaing dengan 29 nama bakal calon lainnya untuk memperebutkan empat kursi senator yang mewakili daerah pemilihan Jatim.

La Nyalla berhasil meraih lebih dari 2,2 juta suara atau peringkat kedua di bawah Evi Zainal Abidin yang meraup 2,4 juta suara.

"Terima kasih kepada rakyat Jatim yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjalankan amanah ini," ujarnya.

Sehari di DPD, kiprahnya langsung moncer dengan meraih posisi Ketua Sub-Wilayah Barat II secara aklamasi. Hingga kemudian pada sidang paripurna, La Nyalla meraup suara terbanyak suara dalam voting penentuan posisi Ketua DPD yang diikuti 136 anggota DPD.

Senator asal Jawa Timur itu meraih suara terbanyak dengan 47 suara. Sedangkan kandidat ketua lainnya yakni

senator asal Maluku Nono Sampono yang mendapatkan 40 suara, senator asal Kalimantan Timur Mahyudin yang memperoleh 28 suara, dan senator asal Bengkulu Sultan Bachtiar Najamuddin yang meraup 18 suara. Sementara satu surat suara dinyatakan tidak sah karena abstain.

"Saudara-saudara yang tertinggi dengan persetujuan Sidang Paripurna La Nyalla Mattalitti," kata pimpinan Sidang Paripurna Sabam Sirait.

Proses pemungutan suara sendiri akhirnya dilakukan setelah sebanyak 134 anggota DPD tidak mencapai musyawarah mufakat untuk memilih Ketua DPD periode 2019-2024.

Polemik sempat terjadi setelah proses pemungutan suara berlangsung lantaran jumlah anggota DPD yang sebelumnya dinyatakan hadir secara fisik di Ruang Rapat Paripurna berbeda dengan jumlah surat suara yang telah digunakan untuk memilih Ketua DPD.

Jumlah anggota DPD yang hadir secara fisik sebelumnya dinyatakan sebanyak 132 orang, namun jumlah surat suara yang digunakan dinyatakan sebanayak 134 surat suara.

Akhirnya polemik itu berakhir setelah pimpinan Rapat Paripurna sementara DPD Jialyka Maharani meminta maaf lantaran terdapat dua anggota DPD yang telah menggunakan hak suara namun belum mengisi daftar hadir sebelumnya.

Kemenangan La Nyalla dalam pemilihan ketua DPD itu disambut dengan pembacaan selawat. (*)

 


 Sumber : cnnindonesia /  Editor : DavidR


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM