Di Lapangan Ada..! Pertamina: Tidak Ada Istilah Pengecer Penjualan LPG 3 kg


Jumat, 18 Oktober 2019 - 23:59:13 WIB
Di Lapangan Ada..! Pertamina: Tidak Ada Istilah Pengecer Penjualan LPG 3 kg Pertamina Sidak ke salah satu pangkalan di kawasan Ulak Karang terkait aturan penjualan gas 3 kg di tingkat pangkalan, Jumat (18/10). WINDA

PADANG, HARIANHALLUAN.COM- Meski Pertamina telah menegaskan bahwa tidak ada istilah pengecer dalam penyaluran gas elpiji 3 kilogram, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak warga selaku konsumen yang terbiasa membeli gas melon tersebut bukan di pangkalan resmi.

Warga mengaku, kebutuhan terhadap gas tak bisa selalu terpenuhi oleh pangkalan, sehingga warung dan tempat lain menjadi pilihan.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang warga Alai Parak Kopi Okta (42) yang mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan gas melon tersebut di warung dekat rumahnya. Karena gas tersebut tersedia saat ia membutuhkan gas.

"Kalau belinya di pangkalan itu ada hari-harinya, paling dua tiga hari saja tersedia gas. Selebihnya gas kosong. Jika saat kita butuh gas kosong, tidak mungkin beli di pangkalan juga, terpaksa ke pengecer atau warung dengan harga yang tidak tetap berkisar Rp25.000 sampai Rp30.000," ungkap Okta.

Senada dengan Rahmi, warga Komplek Filano Parak Karakah bahwa gas 3 kg tersebut dibelinya di warung. Pasalnya, di pangkalan tidak selalu tersedia setiap hari.

"Kami maunya itu pangkalan bisa sedia stok setiap hari. Supaya kami tidak beli lagi ke warung dengan harga yang tinggi. Tapi jika pangkalan saja sering kosong mau tak mau dengan terpaksa kami harus beli dengan harga yang ditetapkan oleh warung karena ini menyangkut kebutuhan," terang Rahmi.

Lain lagi yang dirasakan oleh pelaku usaha gorengan di kawasan Pasar Alai dengan inisial nama R (23) yang mengaku membeli gas di tempat yang berbeda. Karena ini kebutuhan untuk berjualan, ia harus berkeliling membeli gas melon tersebut di pangkalan yang tersedia meskipun jauh.

"Saya membeli gas gunanya untuk berjualan goreng. Jadi saya harus mencari harga yang murah yaitu di tingkat pangkalan. Sedangkan pangkalan tempat saya tinggal stoknya sering kosong. Terpaksa saya harus berkeliling ke pangkalan lain untuk mencarinya. Karena selain ingin mencari harga yang murah, juga harus saya stok sekitar dua atau tiga tabung untuk dibawa jualan," ujar R.

Sementara, Officer Communication &Relations Pertamina MOR I Haris Yuananza saat inspeksi mendadak, Jumat (18/10) menegaskan bahwa tidak ada istilah pengecer dalam penyaluran gas bersubsidi tersebut.

Ia menekankan, penyaluran gas melon tersebut dari Pertamina hanya sampai di titik pangkalan untuk didistribusikan kepada masyarakatnya miskin.

"Jadi pangkalan hanya boleh mendistribusikan kepada masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan sebesar Rp17.000 per tabung. Jika ada pangkalan bermain seperti menjual kepada pengecer atau pelaku UMKM seperti rumah makan dengan harga tidak sesuai maka itu telah menyalahi aturan yang ditetapkan," kata Haris.

Ia juga menjelaskan, bagi pangkalan telah ada aturan untuk mendistribusikan gas tersebut dengan persentase 60 per 40 persen dari alokasi bulanan. Pembagian persentase tersebut tergantung pangkalan masing-masing yang mana sesuai kebutuhannya. 

"Jadi maksud alokasi dari persentase tersebut mana yang lebih besar masyarakat miskin atau pelaku usaha mikro tergantung lokasi sekitar pangkalan tersebut. Yang menentukannya ialah pangkalan itu sendiri," lanjut Haris.

Ia melanjutkan, jika ada pangkalan yang bermain dalam pendistribusian, maka pihak Pertamina akan memberlakukan sangsi sesuai aturan. Mulai dari sangsi administratif yaitu pengurangan kuota, sampai pemutusan hubungan usaha.

"Jika masyarakat mengetahui adanya permainan ditingkat pangkalan bisa segera melaporkannya kepada kami. Maka kami akan melakukan penelusuran serta memberlakukan sangsi tersebut," tandasnya. 

Salah satu pemilik pangkalan di Ulak Karang Saharuddin saat ditanyai mengaku mendapatkan gas 3 kg dari agen satu kali dalam seminggu lebih kurang 200-250 tabung. Gas tersebut katanya habis dijual dalam waktu dua hari.

"Kami menjual gas dengan harga Rp17.000 sesuai HET. Karena kuotanya dibatasi, gas tersebut bisa habis dalam waktu dua hari saja. Setelahnya gas kosong sampai waktu yang ditentukan kembali atau satu minggu lagi," terang Saharuddin.

Saharuddin juga mengaku menjual gas kepada masyarakat sekitar dan bahkan juga ada beberapa yang membeli paling banyak lima sampai 10 tabung. Lebih dari itu, ia tidak akan menjualnya.

"Yang membeli sampai 10 tabung itu hanya beberapa, kebanyakan hanya satu dan dua tabung saja. Itupun saya lihat dulu, apakah itu warga sekitar sini atau tidak. Kami lebih mendahulukan warga sekitar," tuturnya. (h/win)

Reporter : WINDA /  Editor : DODI NJ
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]