Fenomena Coral Bleaching di Perairan Padang, Ini Kata Peneliti


Selasa, 22 Oktober 2019 - 12:04:30 WIB
Fenomena Coral Bleaching di Perairan Padang, Ini Kata Peneliti Fenomena coral bleaching di perairan Padang.

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Menanggapi fenomena coral bleaching di perairan Padang, peneliti terumbu karang, Indrawadi Mantari menyebut, kondisi tersebut terjadi karena banyak proses yang terjadi di dasar laut. Asap di udara dan terumbu karang di dasar laut, tapi keduanya akan saling mempengaruhi dalam proses kehidupan. 

Ancaman kabut asap semakin parah menyelimuti sebagian Pulau Sumatera, tidak terkecuali pesisir pantai sepanjang pantai barat Sumatera. Kondisi itu dikhawatirkan dapat mematikan ekosistem terumbu karang di pantai barat Sumatra. Terumbu Karang adalah hewan yang berasosiasi dengan tumbuhan, untuk pertumbuhannya terumbu karang melakukan fotosintesis. 

"Proses fotosistesis itu sendiri sangat dipengaruhi oleh tersedianya cahaya matahari yang cukup sebagai 'pembakar' atau energi," kata Indrawadi. 

"Pada kondisi yang lebih parah lagi adalah ketika bencana asap disertai dengan kondisi kemarau yang berkepanjangan akibat El Nino, suhu peraiaran menjadi naik," jelasnya kemudian. 

Butuh waktu bertahun-tahun untuk recoverynya. Sejak tahun 2000 hingga sekarang, pertumbuhan terumbu karang baru sekitar 35 persen. Jika terjadi blooming lagi, kondisinya akan kembali nol. Pertumbuhan terumbu karang itu sangat lambat. Hanya 2,5 cm per tahun, dan kita harus menunggu paling cepat 20 tahun untuk melihatnya. 

"Pertumbuhan kembali atau recovery itu terjadi baik secara alamiah maupun ilmiah (bantuan manusia). Alamiah karena terjadi transplantasi alami yang kemudian tumbuh tunas-tunas baru dalam jangka waktu cukup panjang untuk menjadi dewasa," ujarnya.

Karenanya, jika kabut asap terus berlanjut hingga tiga bulan ke depan, blooming fitoplanton dikhawatirkan dapat terjadi lagi. Kita tidak tahu, kapan kabut asap kiriman itu kapan akan berakhir, tergantung dari upaya pemerintah provinsi tetangga untuk menyelesaikan penyebab kebakaran hutan di daerah mereka.

Sebelumnya, terumbu karang seluas 0,4 hektare di kawasan Pantai Manjuto, Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, tengah mengalami proses pemutihan (bleaching). Kerusakan tersebut salah satunya disebabkan oleh fenomena kabut asap yang beberapa bulan terakhir mengepung wilayah Sumatera Barat.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri menyebut, apabila pemutihan ini terus berlanjut, maka akan berujung pada matinya terumbu karang. Hal ini tentu juga akan berdampak pada keberlangsungan biota ikan yang hidup di perairan tersebut.

"Hari ini tim dari DPK Sumbar telah turun langsung meninjau lokasi pemutihan terumbu karang tersebut.  Ada beberapa penyebab utama pemutihan tersebut. Salah satunya adalah karena adanya kabut asap yang melanda Sumbar," katanya kepada Haluan, Senin (21/10) kemarin. (*)

 Editor : Agoes Embun
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]