Gelombang PHK Massal Landa Perbankan, Pengamat: Terpapar Kelesuan Ekonomi Global


Jumat, 01 November 2019 - 00:58:08 WIB
Gelombang PHK  Massal  Landa Perbankan, Pengamat: Terpapar Kelesuan Ekonomi Global HSBC salah satu perbankan global yang mulai melakukan PHK karyawannya. (dok.SH)

JAKARTA,HARIANHALUAN.COM-Dunia perbankan dilanda  gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari melanda bank-bank di Eropa telah melipir sampai ke tanah air. Mengutip data Biro Riset Infobank, sepanjang 2014 hingga 2018 terjadi pengurangan tenaga kerja di 114 bank umum sebesar 38.831 dan sampai akhir 2019 jumlahnya bisa melebihi 40.000 orang. 

Menurut  pengamat perbankan Paul Sutaryono yang juga mantan Assistant Vice President Bank Negara Indonesia (BNI),  kabar terkait banyaknya karyawan bank yang di PHK itu adalah suatu tanda sektor ini terpapar kelesuan ekonomi global. 

Baca Juga : Konversi Bank Riau Kepri ke Bank Syariah, Disosialisasikan pada Nasabah non Muslim

"Kalau dirata-rata per tahun berarti 8.000 orang (di PHK). Tetapi jangan lupa kini banyak karyawan bank yang resign atas permintaan sendiri. Itu termasuk PHK. Apa alasan resign? Tak mencapai target, takut tidak bisa lanjut, maunya karir cepat tercapai, bosan, tidak tahan bekerja dalam tekanan dan lain-lain. Tetapi itu juga berarti industri perbankan terpapar kelesuan ekonomi saat ini," ungkapnya dilansir sinarharapan.co, Kamis (31/10).
 

Selain itu, perkembangan teknologi juga ikut menyeret pelemahan ekonomi perbankan dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang ini. Produk-produk financial technologi (fintech), menurut Paul, salah satu pemicunya. 

Baca Juga : Ramadan dan Idul Fitri, BI Riau Siapkan Uang Tunai Rp 4,5 Triliun

 "Tentu juga karena serbuan fintech. Sisi positifnya, bank terpacu untuk ikut menggali aneka produk berbasis teknologi. Bank pun mengerem pembukaan cabang konvensional. Upaya itu baik untuk mengerek tingkat efisiensi," dia menambahkan. 

Sebagai informasi, para bankir di dunia termasuk di Indonesia sedang mengarungi masa ujian sejak lima tahun terakhir. Seperti hasil survei McKinsey & Co, lebih dari setengah bank di dunia terlalu lemah untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang cenderung melambat. 

Baca Juga : Pengembang Bangun Rumah di Lahan Fatsum, Warga Terus Lakukan Aksi Penolakan

Kendati demikian, perbankan Indonesia dinilai cukup baik. Namun, banyak bank yang juga tertekan oleh lemahnya perekonomian dan turut mempengaruhi pertumbuhan kredit serta kualitas aset yang kemudian mempengaruhi pendapatan perbankan. 

Imbasnya, bank-bank harus melakukan restrukturisasi untuk memperbaiki kualitas aset produktif yang menurun, termasuk melakukan pemangkasan biaya untuk meningkatkan efisiensi untuk mencetak profit. Cara yang dilakukannya antara lain mengurangi jaringan kantor serta jumlah pegawai. (*)

Baca Juga : Investor China Bakal Buka Tambang Batu Bara

 

Editor : Dodi | Sumber : Sinarharapan
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]