Angka Kematian Ibu di Sumbar Meningkat, Mentawai Jadi Atensi


Rabu, 06 November 2019 - 16:51:43 WIB
Angka Kematian Ibu di Sumbar Meningkat, Mentawai Jadi Atensi ilustrasi angka kematian ibu melahirkan

HEALTH, HARIANHALUAN.COM -- Kabupaten Kepulauan Mentawai yang indah dan terkenal sebagai miniatur Indonesia karena ragamnya suku dan agama yang hidup di sana, masih mencatat angka kasus kematian ibu melahirkan yang memprihatinkan. Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyebutkan bahwa di tahun 2017 terdapat 113 kasus kematian ibu. 

Jumlah tersebut bahkan meningkat dibandingkan tahun 2016 silam dengan jumlah 108 kasus. Kasus kematian ibu dan bayi di Sumatera Barat terjadi hampir merata di 17 Kabupaten Kota, salah satunya Mentawai. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesdai mengungkapkan bahwa kematian ibu melahirkan di provinsi ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu perdarahan (33,6%) dan hipertensi (23,9%).

Baca Juga : Ketua TP PKK Siak Bagiakan Bantuan Sembako untuk Korban Banjir

Hal tersebut dibenarkan dr. M. Riedha, MSc, salah satu alumni program Pencerah Nusantara yang ditugaskan di Puskesmas Sikakap, Kepulauan Mentawai, antara tahun 2012-2013. Kasus kematian ibu saat melahirkan akibat perdarahan pun pernah ditangani langsung oleh dr. Riedha. 

Jumlah kasus kematian ibu akibat perdarahan di Mentawai di periode tersebut berjumlah 2 kasus. Ketiganya meninggal pasca melahirkan akibat perdarahan, karena terlambatnya dirujuk, dan penanganan yang tepat dari dokter. Alih-alih mereka masih ditangani dukun bersalin. 

Baca Juga : Kasus Karhutla, PT Berlian Mitra Inti Ditetapkan Sebagai Tersangka

“Setibanya di Puskesmas, pasien yang dirujuk dari desa yang sangat jauh lokasinya ini, sudah kehabisan darah dan tidak dapat tertolong lagi,” ungkapnya.

Selain karena perdarahan, dr. Riedha menguraikan bahwa penyebab kematian ibu melahirkan di Sikakap cukup kompleks. Kombinasi antara kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dan distribusi tenaga kesehatan yang kurang merata, padahal tata laksana praktik para tenaga kesehatan dinilainya sudah baik. 

"Proses persalinan sesuai standar prosedur operasional dibantu bidan dan perawat, terdapat program pencegahan risiko bekerjasama dengan dusun, berjalannya kelas ibu hamil, tercatatnya pendataan ibu hamil, hingga adanya kampanye edukasi." tambahnya.

Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa akses terhadap ketersediaan darah dan distribusi bantuan darah yang tepat waktu serta tepat sasaran sangatlah penting, karena akan mampu menyelamatkan jiwa ibu melahirkan dengan kasus perdarahan. Akses transportasi dan ketersediaan listrik saat ini di Puskesmas Sikakap disebutkannya belumlah optimal. 

“Jika jembatan yang menghubungkan antar kecamatan putus, seperti yang kami alami saat itu, maka medan yang dihadapi akan semakin sulit. Kami perlu menempuh waktu 12 jam menuju pusat Kota Padang dengan menggunakan kapal,” kisahnya.

dr. Riedha berharap, perbaikan layanan kesehatan dengan bantuan teknologi bagi daerah terpencil dan kepulauan, bukanlah semata-mata sebuah mimpi dan sekedar wacana, melainkan dapat diwujudkan untuk menjadi nyata. "Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, para pembuat kebijakan, pegiat kesehatan, serta sektor swasta untuk dapat menghadirkan solusi inovatif yang secara cepat dapat membantu menekan angka kematian ibu melahirkan di tempat ini,” tutupnya. (Ayutya)

Editor : Agoes Embun | Sumber : istimewa
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]