Garam di Desa di Kalimantan Ini dari Gunung, Bukan dari Laut


Kamis, 07 November 2019 - 14:29:14 WIB
Garam di Desa di Kalimantan Ini dari Gunung, Bukan dari Laut Ilustrasi

KRAYAN, HARIANHALUAN.COM - Garam biasanya diproduksi di pesisir laut, kan? Tidak melulu. Krayan di pedalaman hutan Kalimantan, contohnya. Di sini garam dibuat di dataran tinggi alias pegunungan.

Tanah Krayan memang spesial. Tidak hanya ditumbuhi oleh beras organik saja, mereka juga punya garam gunung. Ya, garam yang benar-benar diproduksi di pegunungan.
Wartawan yang berkunjung ke Krayan, Kalimantan Utara beberapa waktu lalu, tak hanya disuguhkan dengan alam hijau nan cantik saja. Namun alamnya juga punya keunikan, salah satunya garam gunung ini.

"Menurut hasil penelitian Universitas Padjajaran tahun 2018 lalu, garam Krayan sangat unik, mulai dari letaknya, potensinya, itu sangat tinggi. Konon air asin yang terjebak karena proses geologi yang terbentuk karena jutaan tahun yang lalu, dimana pada saat krayan ada di dasar samudra," ungkap Camat Krayan Induk, Helmi Huda Asfikar.
Helmi juga menjelaskan bahwa karena proses geologi ini air asin terjebak di dalam terowongan yang sangat panjang. Inilah yang menjadi sumber dari air asin, bahan untuk membuat garam.

"Proses geologi yang lama, terjebaklah air asin ini di terowongan yang sangat panjang yang mereka sebut dengan jaringan sabuk Pegunungan Kuching. Sehingga sumur-sumur garam itu terdapat di perbatasan Indonesia memanjang sepanjang sampai ke Malaysia," tambahnya.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak Camat, wartawan pun langsung bergerak ke salah satu rumah produksi garam gunung Pa' Nado.
Rumah ini berada Long Midang, dan tak jauh dari posko TNI yang menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia.
Sebelum kita menuju ke rumah garam gunung ini, kamu harus melapor dulu ke posko penjagaan dan memperlihatkan identitas. Tentu juga harus kamu sampaikan keperluan berkunjung ke rumah produksi garam.

Di sana penulis pun bertemu dengan dengan wanita paruh baya bernama Salama. Dia adalah salah satu petani garam gunung yang telah bekerja di sana hampir selama 60 tahun.

"Awalnya, kita mengambil air asin dulu di sumur yang ada di belakang rumah. Kemudian air di masukan ke dalam drum dan direbus selama 12 jam hingga terlihat bulir-bulir garam," ungkap Salama membuka cerita proses pembuatan garam.
Proses garam gunung tak berhenti di sana. Nantinya garam harus dijemur hingga kering dan barulah di packing.

"Nanti endapan garam kita angkat dari drum, terus dikumpulkan di atas meja semuanya. Setelah semua terkumpul kita jemur hingga kering. Setelah semuanya kering, nanti kita bungkus-bungkus," jelasnya.

Dalam sehari petani garam di rumah produksi Pa' Nado bisa menghasilkan hingga 26 Kg. Semua itu selalu ludes terjual dalam sehari.

"Paling banyak kita produksi bisa hingga 26 Kg sehari, tergantung cuaca. Kalau musim hujan kita hanya bisa produksi 10-15 kg saja, dan kalau musim kemarau biasanya di atas 20 kg," tambah Salama.
Tentu traveler penasaran apakah perbedaan garam gunung dengan garam laut. Salamah pun memberikan jawabannya.

"Kalau garam gunung harganya mahal, dan garam laut murah. Juga garam gunung bagus untuk membuat sayur karena dia tidak mengubah warna sayur dan juga tidak cepat basi," tutup Salimah.

Nah, jika traveler penasaran dengan proses pembuatan garam gunung seperti apa, datanglah langsung ke sini. Biasanya mereka mulai menimba sumur saat siang hari.

Serta bila ingin melihat garam yang sudah jadi dan proses pengangkatannya, datanglah pagi-pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA. Karena inilah jam mereka mengangkat endapan garam dari wadah drum.(*)


 Sumber : Detik.com /  Editor : NOVA


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Agustus 2016 - 03:18:56 WIB
    BUAT HUJAN BUATAN

    1 Ton Garam Disebar di Langit Riau

    1 Ton Garam Disebar di Langit Riau PEKANBARU, HALUAN — Sebanyak 1 ton garam sudah disebar di langit Riau guna menghasilkan hujan buatan sebagai upaya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah. Kendati begitu, hingga kini titik panas masih.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM