Pengrusakan Hutan Mangrove Pessel, Saksi Sebut Sodetan Diperluas Wabup Rusma Yul Anwar


Kamis, 07 November 2019 - 19:00:05 WIB
Pengrusakan Hutan Mangrove Pessel, Saksi Sebut Sodetan Diperluas Wabup Rusma Yul Anwar Sidang dugaan pengrusakan lingkungan dan hutan bakau (Mangrove) di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan terus bergulir dengan terdakwa Wakil Bupati Pessel, Rusma Yul Anwar.

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Saksi kasus dugaan pengrusakan lingkungan dan hutan bakau (Mangrove) di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat menyebutkan sodetan di lokasi terus diperluas dan diperdalam oleh terdakwa Rusma Yul Anwar.

"Sebelumnya lahan tersebut sodetannya masih dangkal dengan lebar sekitar 4 meter. Dan tidak bisa dilalui kapal," kata Masrial yang dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Negeri Kelas I A Padang, Kamis (7/11).

Hanya saja, lanjut dia, setelah dibeli oleh terdakwa yang juga merupakan Wakil Bupati Pesisir Selatan sodetan tersebut diperdalam dan diperlebar menjadi lebih kurang 15 meter dengan panjang 60 meter. Material dari proses tersebut dibuang di sisi sodetan yang di sana terdapat Mangrove.

Ia yang saat itu berprofesi sebagai kepala tukang, mengaku membangun dua unit pondok berukuran 6X8 meter di lokasi dengan memperkerjakan dua tukang dan satu lagi pekerja atas permintaan terdakwa.

"Saat itu, saya diberi upah Rp150 ribu per hari, tukang Rp125 ribu per hari dan pekerja Rp100 ribu per hari," tuturnya.

Ia menambahkan, satu unit pondok dibangun di atas bukit dan satunya lagi di bawah antara bukit dan bibir pantai, sebelum pondok itu dibangun terlebih dahulu lokasi pembangunannya diuruk menggunakan alat berat.

Dalam sidang tersebut, James Eddy dan Heru Saputro Cs juga menghadirkan saksi lainnya yakni Benrusdi, pada kesempatan itu ia menyebutkan, selain bekerja sebagai pembantu tukang ia diminta oleh terdakwa menanam beberapa pohon di sekitar lokasi seperti bunga, durian dan tanaman lainnya.

Sementara saksi lainnya, Gen mengaku diminta oleh terdakwa memotong kayu jenis Cempedak yang ada di lokasi dengan upah Rp1,5 juta per kubik. Kayu tersebut diolah menjadi balok dan lembaran papan.

Pada sidang sebelumnya yang digelar Selasa (29/10), saksi Rifkaldi yang merupakan Kepala Seksi Penataan Ruang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pesisir Selatan, menyebutkan, bangunan yang didirikan terdakwa berada di kawasan hutan lindung, pembangunan sodetan yang digunakan untuk menyandarkan kapal juga mengakibatkan rusaknya mangrove.

Hal itu ia pastikan setelah mengecek titik koordinat dan selanjutnya mencocokannya dengan citra satelit, khusus sodetan luasnya terus bertambah rentang waktu 2015 hingga 2017.

"Kasus ini merupakan dugaan perusakan hutan lindung dan penimbunan hutan bakau (mangrove) di kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI, Pesisir Selatan, pada 2016," tuturnya.

Dalam dakwaan kesatu, Rusma Yul anwar dikenakan pasal 98 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sementara dakwaan kedua pasal 109 Undang-undang republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. (h/kis)

 

 

 


Reporter : Okis /  Editor : Heldi


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM