Premium di Sumbar Kian Langka..!! Antrean Panjang Tiap Hari Menghiasi SPBU


Jumat, 08 November 2019 - 00:51:41 WIB
Premium di Sumbar Kian Langka..!! Antrean Panjang Tiap Hari Menghiasi SPBU ANTREAN PANJANG - Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dalam satu bulan terakhir kembali langka di Sumbar. Hal ini menyebabkan terjadinya antrean panjang di SPBU. Terlihat, antrean panjang yang terjadi di SPBU Ampang, Rabu (6/11). HELDI SATRIA

PADANG, HARIANHALUAN.COMBahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang dalam satu bulan belakangan kian langka. Hal ini dibuktikan dengan antrean panjang yang terjadi hampir diseluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Kota Padang.

Pantauan Haluan, hampir tiap hari terjadi antrean panjang disejumlah SPBU di Kota Padang. Misalnya SPBU Jati, SPBU Ampang, SPBU Gunung Pangilun dan SPBU Tabing. Rata-rata anteran terjadi pada mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Beberapa petugas SPBU saat ditanya Haluan mengenai penyebab terjadinya antrean panjang pembelian BBM subsidi jenis premium ini dikarenakan adanya pembatasan pasokan dari pihak pertamina.

“Hari ini hanya kebagian jatah setengah tanki premium saja. Dalam beberapa jam saja sudah habis,” sebut salah seorang petugas SPBU yang enggan disebutkan namanya kepada Haluan.

Minimnya pasokan BBM jenis premium ini disinyalir juga membuat “mafia” premium mulai bermain. Beberapa mobil juga terlihat 3 sampai 5 kali sehari ikut antrean panjang membeli BBM jenis premium di salah satu SPBU di Kota Padang.

Begitupun yang terjadi di SPBU nomor 14.251.525 yang tidak jauh dari Universitas Baiturrahmah. Disini, juga terjadi antrean premium yang sangat panjang. Tidak hanya premium, antrean panjang juga terjadi bagi pengguna Bio Solar yang didominasi truk.

Ada Indikasi Penyelewengan Premium dan Solar

Menyikapi hal ini, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumbar, Irsyad menduga ada indikasi penyelewengan dan penimbunan sehingga menimbulkan kelangkaan BBM jenis premium dan solar di beberapa SPBU di Kota Padang. Ia menyebut, pihaknya bersama Pertamina dan Hiswana Migas tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan tersebut.

"Kalau terkait pasokan, sebenarnya tidak ada masalah. Kami sudah cek. Bahkan, Pertamina juga sudah melakukan penambahan kuota. Hanya saja, dari informasi yang kami terima, ada dugaan penyelewengan premium dan solar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Itu yang tengah kami selidiki sekarang," ujar Irsyad kepada Haluan, Rabu (6/11).

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sumbar, Suwirpen meminta Pertamina bersama pemerintah segera menyelesaikan persoalan ini. Pasalnya, kelangkaan premium dan solar ini telah mengganggu aktivitas masyarakat Kota Padang. Tak hanya karena menimbulkan kemacetan panjang hingga berkilo-kilometer, kelangkaan dibeberapa SPBU juga mengganggu para pedagang yang akses toko atau kiosnya tertutup oleh antrean panjang kendaraan bermotor.

"Sudah ada beberapa pengaduan masyarakat yang masuk ke DPRD Sumbar. Ada yang meminta pasokan premium dan solar ditambah, meski harus menaikkan harga jual. Namun ada juga yang minta pasokan ditambah, tapi harga tetap sama. Apapun itu, kami tetap meminta untuk segera ditambah pasokan premium dan solar ini, karena sudah sangat mengganggu sekali. Belum lagi masyarakat yang harus antre berjam-jam untuk mendapatkan premium. Berapa banyak coba waktu yang terbuang," tuturnya.

Pertamina Klaim tak Kurangi Suplay

Dilain pihak, Unit Manager Comm Rel CSR Pertamina MOR I Roby Hervindo menegaskan kalau pihak Pertamina tidak pernah melakukan pengurangan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium.

"Sampai saat ini, tidak ada pengurangan penyaluran. Premium disalurkan tetap sama dengan bulan lalu," ujar Roby pada Haluan, Rabu (6/11).

Roby menjelaskan, untuk kapasitas pasokan ke setiap SPBU tidak bisa sama antara SPBU satu dengan yang lainnya. Hal tersebut karena faktor kapasitas tangki dan kebutuhan setempat.

"Terkait antrean, Pertamina tidak bisa melarang karena jika konsumsi naik, tentu berimbas pada yang antre jadi lebih banyak. Jadi kuota hanya menggambarkan kebutuhan saja. Tidak bisa dijadikan patokan," terang Roby.

Sementara, untuk Sumbar saat ini penyaluran BBM jenis solar sudah mencapai 114 persen. Artinya sudah disalurkan melebihi kuota sebanyak 14 persen.

"Berbeda dengan Solar, yang penyalurannya dibatasi oleh kuota karena menggunakan APBN. Jadi, jika penyalurannya sudah melebihi maka kami akan membatasi supaya tetap tersedia selama satu tahun," sebutnya.

Penting untuk edukasi ke publik, sambung Roby bahwa kendaraan masa kini sudah tidak pantas menggunakan premium. Berikan kesempatan bagi angkot, kendaraan-kendaraan usaha kecil yang mengkonsumsi premium.

"Jika yang menggunakannya tepat maka kami rasa kuota yang disediakan cukup," tukasnya.  (h/hel/len/win/mg-dan/mg-mal)

 


Reporter : TIM HALUAN /  Editor : Heldi


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM