Pak Nadiem Tolong Jangan Ganti Kurikulum


Senin, 25 November 2019 - 12:51:15 WIB
Pak Nadiem Tolong Jangan Ganti Kurikulum Reno Fernandes

“Apa yang paling ditakuti oleh Guru adalah pergantian kurikulum. betapa tidak dampaknya,  akan menambah beban Guru, Peserta didik dan Orangtua dan tentunya akan membebani keuangan Negara untuk merencanakan dan melaksankan kurikulum baru tersebut ”

 

Tulisan: Reno Fernandes

Dosen Sosiologi Universitas Negeri Padang

 

Wacana pergantian kurikulum yang diamanahkan Presiden Jokowidodo pada periode keduanya ini kepada menteri Pendidikan Nadiem Makarim sontak mendapat beragam reaksi dari masyarakat ada yang kontra namun tidak sedikit juga yang mendukung dengan argumentasi yang beragam. Beberapa usulun pergantian kurikulum baru bermunculan diantaranya dari Ikatan Guru Indonesia yang menyampaikan 10 jenis usulannya untuk perbaikan pendidikan di Indonesia. Masukan melalui surat terbuka juga diberikan oleh salah seorang Dosen Universitas Gadah Mada, pesan dalam surat yang viral tersebut meminta menteri Nadiem Makarim jernih dalam berpikir dan hati-hatilah dalam bertindak. Isi surat tersebut juga meminta menteri Nadiem sebagai orang baru di Institusi pendidikan untuk memegang teguh prinsip comprehensive understanding, coordination and sustainable development.

Perdebatan tentang penetapan prioritas tujuan pendidikan dan penyusunan kurikulum merupakan hal biasa pada era dunia yang dinamis yang sarat kemajuan teknologi dan pengetahuan. Karena itu, bukan hal yang mudah untuk menyamakan persepsi tentang mata pelajaran dan organisasi materi pelajaran dalam kurikulum. Dengan kata lain, melimpahnya volume pengetahuan, bervariasinya filsafat pendidikan dan beragamnya teori belajar dan pengembang kurikulum membuat seleksi materi ajar, pemilihan kegiatan belajar, penetapan pengalaman belajar, serta sistem evaluasi kurikulum dan pembelajaran, akan melalui suatu proses perdebatan yang tidak mudah. Pada satu sisi perubahan kurikulum dapat dipahami sebagai suatu dinamika konstruktif mengingat setiap pakar pendidikan dan pengambil kebijakan memiliki pandangan yang beragam dalam memandang pendidikan. Selain itu perubahan kurikulum adalah sesuatu yang harus dilakukan secara berkelanjutan karena merupakan suatu konsekuensi logis atas tuntutan dan tantangan zaman.

Menimbang beragamnya pemikiran mengenai kurikulum pendidikan yang menentukan kualitas manusia yang dihadirkan oleh institusi pendidikan tersebut perlu juga kita sejenak untuk berfikir jernih sehingga perbaikan kurikulum tidak terkesan emosional dan menganggap pemikirannya paling benar. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak pembaca untuk merenungkan sejauh mana kurikulum kita telah berjalan dan apa yang perlu dilakukan untuk perbaikan pendidikan. Setidaknya tulisan ini dapat menggambarkan bagaimana dinamika kurikulum di Indonesia dan Relevansi Kurikulum 2013 pada era dinamis yang disebut Revolusi 4.0 ini.

Dinamika Kurikulum di Indonesia

Semenjak era Reformasi digulirkan, perubahan kurikulum yang terjadi di Republik ini terkesan syarat kepentingan politik dan ego penguasa. Betapa tidak kurikulum pertama yang lahir pasca Reformasi adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum Pendidikan ini lahir pada tahun 2004 pada masa Presiden Megawati dan Pada tahun 2006 belum cukup berumur 2 tahun harus diganti dengan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. KTSP bertahan cukup lama hingga akhir 2013 dan digantikan dengan kurikulum 2013. Dinamika kurikulum pendidikan di Indonesia tidak berhenti sampai disana, tidak lama setelah hadirnya pemerintahan Jokowidodo, menteri pendidikan di era itu mengeluarkan Permendikbud Nomor 160 tahun 2014 sebagai peraturan penghentian penggunaan kurikulum 2013 pada sebahagian sekolah dan pemberitahuan revisi kurikulum yang dilaksanakann hingga tahun 2016. Dalam peraturan menteri yang ditanda tangani Anies Baswedan tersebut memerangkan bahwa peberlakuan kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara bertahap pada semua jenjang sekolah dasar dan menengah di Indonesia hingga tahun ajaran 2019/2020. Data dari Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud pada tahun 2018 masih terdapat sekitar 78.000 sekolah yang baru akan dilaksanakan implementasi Kurikulum 2013 (Kompas, 2018).

Jadi sebenarnya selama kurang lebih  5 tahun kepemimpinan presiden Jokowidodo pendidikan di Indonesia tidak memiliki standar yang sama. Pada sebahagian sekolah sudah menggunakan Kurikulum 2013 dan disebahagian sekolah lainnya masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai landasan menjalankan praktek pembelajaran.

Tidak hanya itu, implementasi Kurikulum 2013 pada sekolah yang telah ditetapkan sebagai pelaksana kurikulum 2013 menurut penulis masih jauh panggang dari pada api.  Betapa tidak berdasarkan berbagai penelitian tentang implementasi kurikulum 2013 yang penulis lakukan dan penelusuran dari berbagai jurnal ilmiah, ditemukan sebahagian besar guru tidak mengerti cara menerapkan kurikulum 2013.  Berdasarkan analisis content yang penulis lakukan terhadap 174 judul skripsi pada topik kependidikan dan pengajaran di jurusan sosiologi Universitas Negeri Padang dari tahun 2014-2019 didapatkan data yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran yang dilaukan oleh Guru Sosiologi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang dilarang dalam kurikulum 2013 yaitu  teacher centered learning  dengan menggunakan metode ceramah. Sementara dalam standar proses kurikulum 2013 dinyatakan bahwa pendekatan yang harus digunakan oleh guru dalam mengajar adalah student centered learning dengan menggunakan model-model pembelajaran yang menunjang keaktifan siswa. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada guru matapelajaran sosiologi, namun juga terjadi pada mata pelajaran lain seperti yang diungkap pada penelitian (Hutagalung & Simarmata, 2015), (Halim, Didimus Tanah Boleng, & Labulan, 2019) dan (Eka Trisianawati, 2016).

Urgensi Pergantian Kurikulum?

Berdasarkan pemaparan diatas pertanyaan yang harus kita jawab dan renungkan adalah “Sudah Patutkah Kurikulum 2013 diganti?”Jawaban sekaligus sikap yang akan penulis berikan adalah Belum saatnya kurikulum 2013 di ganti yang baru. Mengingat sebenarnya institusi pendidikan di Indonesia belum menerapkan Kurikulum 2013 secara menyeluruh sehinga indikator evaluasi kurikulum belum dapat dipenuhi  yaitu sejauh mana tujuan kurikuler atau standar kompetensi lulusan yang ditetapkan kurikulum 2013 sudah tercapai.

Secara substansi hemat penulis, kurikulum 2013 masih berjalan pada zaman yang relevan. Dapat dijelaskan kurikulum 2013 berakar dari landasan filosofi bangsa Indonesia, landasan sosiologis, psikopedagogis, teoritis dimana dapat dirangkum dalam tujuan kurikulum 2013 yaitu untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara,dan peradaban dunia.

Kemendikbud periode sebelumnya melalui kurikulum 2013 revisi merumuskan pembelajaran abad 21 sebagai paradigma baru dalam Institusi Pendidikan yang menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Litbang Kemdikbud, 2013). Adapun penjelasan mengenai framework pembelajaran abad ke-21 menurut (BSNP:2010) dirumuskan dalam keterampilan 4C diantaranya Critical-Thinking and Problem-Solving Skills, Communication and Collaboration Skills, Creativity and Innovation Skills. Selain itu pada kurikulum 2013 juga dikembangkan Literasi teknologi informasi dan komunikasi, serta Penguatan Pendidikan Karakter pada Pengembangan Karakter (Character Building) dan Nilai Spiritual (Spiritual Value). Keselurah standar pendidikan di Indonesia ini dirumuskan menjadi Indonesian Partnership for 21 Century Skill Standard (IP-21CSS).

Jadi, sebagai penutup opini ini penulis ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan Kebudayaan Nadiem Makarim. Perbedaan pendapat tentang tujuan, isi , metode dan evaluasi kurikulum adalah hal yang biasa. Usulan-usalan yang diberikan oleh pakar, pengamat, dan praktisi pendidikan akan berjalan sesuai dengan cara pandang yang didukung dengan argmentasi teori pendidikan dan tentunya bertujuan sama yaitu memajukan Pendidikan di Indonesia. Namun tidak ada salahnya kita sedikit menghargai hasil kerja panjang pendahulu yang telah merancang dan menetapkan kurikulum 2013 sebagai panduan pendidikan kita. Kurikulum 2013 belum dilaksanakan secara maksimal sehingga sangat prematur untuk menyatakan kurikulum ini gagal atau sudah usang.

Kedepan menurut saya tugas pak Menteri membuat regulasi agar kurikulum ini dapat dijalankan oleh semua pihak dan Guru dengan baik dan efektif, sebagaimana yang telah bapak lakukan telah melakukan Inovasi dibidang transportasi. Saya memaknai, selama ini bapak tidak membuat alat transportasi baru, tapi membuat Ojek sebagai alat transportasi yang sudah ada ditengah masyarakat indonesia berjalan efektif dan modern yang membuat Ojek naik kelas dan bermanfaat untuk semua kalangan. Begitu juga hendaknya bapak membuat inovasi pada institusi pendidikan kita.

Akhir kata, saya bermohon, Pak Nadiem Jangan Ganti Kurikulum.

 Selamat hari Guru Nasional

“Jangan lagi membebani Guru. Mari makmurkan Guru agar pendidikan menjadi jalan memakmurkan Bangsa” (*)


 Sumber : tulisan /  Editor : Heldi


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 04 Desember 2019 - 16:56:26 WIB

    SPFC dan Manajemen Sepakbola

    SPFC dan Manajemen Sepakbola Hampir seluruh publik Sumbar, baik itu pecinta sepakbola maupun tidak, mengetahui nasib Semen Padang FC (SPFC) di gelaran Liga 1 Indonesia edisi 2019 ini. Jadi, kiranya, tak menarik lagi untuk diulas. Bisa jadi, sebagian dar.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM