Pariwisata Sumbar dan Semangat Kearifan Lokal


Selasa, 26 November 2019 - 17:51:54 WIB
Pariwisata Sumbar dan Semangat Kearifan Lokal

"Usah tabang sumbarang tabang / Jikok lai takuik datang galodo / Urang kampuang, sawah jo ladang Nan taniayo // Danga pasan unggeh jo buruang / Tolonglah kami nan lamah nangko / Rimbo tampek kami balinduang / Jan ditabang juo."

Syair lagu Tiar Ramon di atas, yang berjudul Pasan Buruang, menyiratkan kearifan lokal di Minangkabau yang seharusnya menjadi acuan kita saat merumuskan program-program pariwisata di Sumatera Barat (Sumbar).

 

Edriana, SH, MA
(Direktur Program Women Research Institute)

 

Sumbar punyai potensi pariwisata yang tak dimiliki daerah lain. Keindahan alamnya merupakan paduan dari pegunungan dan danau serta laut. Pertanian dan perkebunan yang luas menambah keindahan alam dengan kualitas udara yang sangat baik. Modal dasar pariwisata itu, apabila dikelola dengan benar, tentu akan bisa menjadikan Sumbar sebagai salah satu lokasi pilihan utama wisatawan, yang tentunya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat, kunjungan wisatawan asing yang masuk melalui imigrasi Sumbar pada Juni 2018 mencapai 4.549 orang, atau naik cukup siginifikan (51,53%) ketimbang angka pada Mei 2018 yang tercatat hanya 3.002 orang. Bila rata-rata wisatawan asing itu mengeluarkan uang Rp3 juta, maka uang yang beredar dari mereka kurang lebih Rp13,647,000,000,-

BPS menyebutkan, kunjungan wisatawan asing pada Juni 2018 memberikan kontribusi sebesar 0,35%  dari total wisman yang berkunjung ke Indonesia yang tercatat sebanyak 1.318.028 orang. Hal ini menunjukkan bahwa Sumbar belum menjadi pilihan pertama untuk berkunjung. Masalahnya, selain sarana dan prasarana penunjang, tentu yang tidak kalah penting adalah belum mantapnya cara pandang masyarakat bahwa pariwisata akan mendatangkan keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Cara pandang ini penting agar masyarakat ikut aktif menyediakan prasarana seperti MCK yang bersih dan pelayanan ramah sesuai dengan napas budaya Keminangkabuan.

Pada libur lebaran tahun 2017 lalu, menurut Dinas Perhubungan Sumbar, tercatat jumlah masyarakat Minangkabau yang mudik mencapai 3,5 juta orang. Angka itu sangat fluktuatif dengan berbagai alasan. Kembali kita rata-ratakan, jika setiap orang mengeluarkan uang di kampung halamannya Rp1 juta, maka dapat dibayangkan berapa jumlah uang yang beredar di Sumbar selama periode itu.

Pariwisata Berbasis Lingkungan

Pengembangan pariwisata di Sumbar harus didasarkan pada pemahaman akan keterkaitan dan keterikatan antara lingkungan dan adat. Alam dan tanah di Minangkabau mempunyai ikatan kuat dengan adat yang merupakan nilai-nilai lokal yang diwariskan oleh nenek moyang. Walau sebenarnya, ada juga orang Minang yang memanfaatkan hutan untuk kepentingan pribadi, sehingga mengabaikan aturan adat dan berujung perusakan lingkungan.

Pelanggaran-pelanggaran seperti itu perlu ditindaklanjuti. Apalagi, Niniak Mamak dan Nagari sudah sepakat untuk mendukung pengelolan hutan dan lingkungan secara benar. Keberadaan Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) adalah sebentuk apresiasi kepada Niniak Mamak dan Nagari yang telah berkomitmen menjaga alam.

Pengembangan pariwisata di ranah Minang pun harus berangkat pada kekhasan hubungan antara adat dan alam itu, agar tidak terjadi benturan antara pengembangan ekonomi dengan tata adat dalam Nagari. Pihak swasta dan pemerintah daerah yang berencana membuat kegiatan pariwisata dalam skala besar, tapi mengabaikan hubungan antara adat dan lingkungan, tentunya akan menghadapi tantangan berat. Pengembangan pariwisata itu, bagaimana pun, harus selaras dengan terjaganya nilai-nilai adat dan kelestarian alam. 

Pariwisata untuk Kesejahteraan Berbasis Adat

Apabila dikelola dengan benar, pariwisata adalah lumbung ekonomi yang bisa menyejahterakan masyarakat. Permintaan terhadap jasa penginapan, transportasi, kuliner, dan jasa-jasa lain, akan mendongkrak perekonomian lokal. Oleh karenanya pengembangan pariwisata di Sumbar harus dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal, tapi tetap menjaga hubungan adat dan lingkungan.

Pelibatan masyarakat dalam mengelola industri jasa seperti pariwisata menjadi penting untuk menjaga sarana dan prasarana agar tetap bersih, dan pelayanan tetap terjaga prima. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengembangan pariwisata berbasis  lingkungan antara lain: 

(1) pariwisata kebudayaan untuk mengenalkan nilai-nilai lokal di ranah Minang. Pariwisata jenis ini akan mendekatkan masyarakat dan wisatawan dengan jati diri daerah setempat. Sebagai nagari dengan budaya Islami yang sangat tinggi, maka destinasi wisata halal sangat penting. Wisata halal harus menjadi prioritas, karena ketersediaan fasilitas yang bersih dan spirit melayani yang prima, merupakan dua perilaku Islami yang sudah dimiliki oleh masyarakat Minang. Walau tidak sedikit juga pengalaman saya sendiri mendapati tempat ibadah dan MCK yang kurang terjaga kebersihannya, serta masyarakat yang sangat acuh terhadap ketidakberesan tersebut.  

(2) Pariwisata kuliner dan kerajinan yang akan mendekatkan wisatawan dengan produk-produk lokal dan makanan khas daerah di Sumbar. Patut diingat, bahwa kunjungan wisatawan ke tidak hanya untuk memuaskan kerinduaan untuk menikmati pemandangan alam, tetapi juga untuk menikmati kuliner lokal dan membawa pulang kerajinan tangan khas daerah sebagai bukti kunjungan mereka ke Sumbar. Potensi ini tidak hanya mengikat wisatawan untuk datang kembali, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM di Sumbar. UMKM sendiri adalah kekuatan masyarakat Minang. Dengan pariwisata, kegiatan UMKM akan menjadi primadona untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat.

(3) Pariwisata dengan cara membawa wisatawan tinggal menginap di rumah warga. Dengan pola ini, wisatawan dapat menikmati kuliner khas warga hingga pergi ke sawah dan kebun untuk menyelami aktivitas warga sehari-hari. Wisata ini memberi kesempatan kepada wisatawan untuk memperoleh pengalaman menjadi “masyarakat lokal”. Upaya menginapkan wisatawan di rumah warga ini juga dapat mendatangkan pendapatan bagi warga melalui sewa penginapan, makan, dan paket wisata lainnya. Pastinya sebelum ini diterapkan, Pemda harus melakukan standardisasi fasilitas dan pelayanan agar wisatawan tidak kecewa dengan paket yang disediakan.

Di ranah Minang, prinsip “tanah ulayat” membuat kepemilikan tanah oleh pihak luar sulit terjadi karena berbenturan dengan aturan adat. Sehingga tanah-tanah di Minangkabau belum dimanfaatan dengan baik untuk pariwisata yang didasarkan pada adat dan budaya. Program ini dapat dikemas sebagai upaya untuk memperkenalkan wisatawan dengan kehidupan masyarakat di nagari-nagari dengan alam yang indah dan asri.

Beralih dari itu semua, salah satu contoh kegiatan sport turism yang sedang dielu-elukan penyelenggaraannya adalah Tour de Singkarak. Iven skala nasional bahkan internasional ini berangkat dari ide awal mempromosikan wisata dan menghidupkan perekonomian masyarakat. Tetapi sayangnya, acara yang begitu besar itu tidak lagi diikuti dengan pesta rakyat di setiap daerah yang termasuk rute dalam balapan. 

Alangkah baiknya, bila pemerintah daerah saling koordinasi agar setiap daerah yang disinggahi pebalap itu menggelar pesta rakyat. Sehingga pesta rakyat itu sendiri akan sama populernya dengan balap sepeda itu sendiri.

Pesta rakyat seperti itu diyakini akan menarik lebih banyak wisatawan ke Sumbar dan akan benar-benar menjadi agenda strategis kepariwisataan di Sumbar. Amat disayangkan, jika TdS akhirnya hanya menjadi kegiatan yang membebani anggaran daerah, karena tidak banyak daerah yang dapat memanfaatkannya untuk peningkatan aktivitas perekonomian.

Basamo mako manjadi; adalah moto daerah yang luar biasa yang harus diterapkan dalam wujud kerja sama antara pemerintah dan swasta, baik di pusat, daerah, dan masyarakat lokal, dalam mengembangkan pariwisata di Sumbar. (*)


 Sumber : Rilis /  Editor : Heldi


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM