Festival Kapujan, Tak Sekedar Mempertahankan Budaya dan Tradisi Dikesunyian Lembah Perbukitan


Jumat, 06 Desember 2019 - 15:14:50 WIB
Festival Kapujan, Tak Sekedar Mempertahankan Budaya dan Tradisi  Dikesunyian Lembah Perbukitan Pertunjukan Ombongan Kapujan di Festival Budaya dan Tradisi Kapujan, Nagari Rangkiang Luluih Kabupaten Solok. Ist

FEATURE,HARIANHALUAN.COM-Di kabupaten Solok tepatnya di Kecamatan Tigo Lurah, ada satu jorong yang sangat eksotis dikelilingi oleh kondisi hutan yang masih sangat asri dan diapit perbukitan yang menjulang, jorong ini bernama Jorong Kapujan, nagari Rangkiang Luluih. 

Memang secara lokasi, Jorong Kapujan, nagari Rangkiang Luluih sangat jauh dari pusat kabupaten solok, butuh waktu hampir tiga jam dengan akses jalan yang masih sangat minim, apalagi dari pusat provinsi Sumatera barat, Kota Padang, butuh waktu hampir 4 jam untuk menjangkau jorong Kapujan. 

Baca Juga : Kenaikan Tarif PPN: Kontradiksi Opsi di Tengah Pandemi

"Namun dibalik keheningan dan hijau dedaunan pepohonan di hutan, jorong Kapujan, tidak lepas dari detak zaman. Meskipun masih minim akses informasi dan telekomunikasi serta infrastruktur jalan yang masih terbatas, Jorong Kapujan tidak kehilangan daya kreativitas," jelas Nabhan Aiqani, pegiat lingkungan  Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Jumat (6/12/2019). 

Di kesepian lembah perbukitan itu, ada sekelompok pemuda yang masih memiliki tanggung jawab moral untuk mengenalkan Kapujan ke luar dengan tetap mempertahankan eksistensi budaya dan nilai lokal. 
"Mereka, dengan penuh semangat tetap berupaya membangun kreativitas melalui berbagai pageralaran kesenian dan budaya lokal. Mereka inilah yang kemudian menghimpun diri dalam IP2K (Ikatan Pemuda Pelajar Kapujan)," paparnya.

Baca Juga : Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan

Terobosan besar yang mereka sumbangkan untuk Kapujan adalah mengangkatkan satu even budaya dengan mengusung tema “Festival Kapujan.” Festival ini diadakan satu hari penuh, pada hari Kamis, 05 Desember 2019, yang dipusatkan di sebuah lapangan di Jorong Kapujan.

 Festival ini dihadiri oleh Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Solok, perwakilan KKI Warsi serta dukungan penuh kegiatan dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Sumbar.

Ketika memasuki lokasi acara, alunan bunyi saluang dan ombongan, sudah hiruk saling bersahut-sahut, seakan menyambut siapapun yang datang berkunjung,

“Festival Kapujan merupakan yang perdana, dengan mengambil tema Membangkitkan budaya Minangkabau di Tanah Kapujan. Tujuan festival ini diadakan agar masyarakat kembali pada kesenian dan budaya lama di nagari rangkiang luluih, terutama kaum muda. Supaya minat kaum muda kembali untuk memahami dan menumbuhkan rasa kecintaan akan budaya menjadi meningkat,” terang Dori Herdianto, selaku ketua Pelaksana Festival Kapujan. 

Ada beberapa pagelaran kesenian tradisional Kapujan yang ditampilkan. 

Semuanya khas dan identik dengan budaya Kapujan, hanya saja selama ini di kelompok pemuda, kesenian tradisional tidak lagi menarik untuk dipelajari, kesenian tradisional seakan terlupakan.

Kesenian tradisional yang ditampilkan berupa Kapujan ombongan yakni alat musik pukul, seperti gong,  khas kapujan, Randai, Silek dengan pedang, talempong kayu, tari piring, shalawek dulang-rebana, dan sebagai inovasi kekinian juga dilagukan saluang dangdut. 

Ada 14 orang anak muda yang terlibat pada penampilan Randai Kapujan, serta 6 orang yang memainkan ombongan. Mereka semua adalah pemuda asli Kapujan. “Mereka membutuhkan waktu seminggu untuk proses latihan. Pelatihnya adalah langsung dari tuo kampung Kapujan,” tutur Dori.

Selain atraksi kesenian, masyarakat juga disuguhkan kuliner-kuliner khas Kapujan yang barangkali sudah jarang disuguhkan, kecuali pada momen tertentu. 

“Ada lamang lunto (lamang dengan tekstur lebih lunak), samba kieh pisang mudo, onde-onde sipuluik hitam, dan sikunik. Kuliner dipersiapkan oleh kelompok Ibu-ibu di jorong Kapujan, juga dilibatkan para pemudi, agar keberlangsungan kuliner tetap terjaga,” terang Dori.  

Ia bahkan tidak menyangka di gelaran perdana Festival Kapujan, akan mampu menarik antuasiasme masyarakat. Semua unsur masyarakat yang ada di Kapujan turut serta untuk menyukseskan acara.

“Masyarakat terutama di Jorong Kapujan terlibat sepenuhnya, dari kelompok ibu-ibu, anak-anak, apalagi pemuda. Kami juga mengundang masyarakat kecamatan Tigo Lurah hadir  untuk mengikuti seluruh pagelaran di Festival Kapujan, bahkan masyarakat dari nagari Batu Bajanjang turut menyemarakkan festival yang berlangunsung sehari penuh ini,” tambah Dori.

Bukan Sekadar Festival

Festival Kapujan bukan hanya sekadar pergelaran yang sarat dengan penampilan budaya dan kuliner tradisional sebagai upaya merawat tradisi leluhur ditengah gempuran modernisasi di kalangan kaum muda. 

Ada banyak nilai filosofis terkait upaya untuk menjaga serta melindungi kawasan alam yang masih sangat asri di Jorong Kapujan. 

“Kami memikirkan dengan sangat detail untuk persiapan acara. Kami memanfaatkan potensi yang ada di alam, seperti bambu untuk bahan dasar tenda dan dekorasi panggung festival. Ada penegasan bahwasanya antara masyarakat dan alam adalah dua hal yang tidak terpisahkan satu sama lain,” terang Dori. 

Kondisi ini didukung pula oleh usulan hutan nagari Rangkiang Luluih yang saat ini tengah proses verifikasi di KLHK. Berdasarkan Permen LHK Nomor P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 tentang Perhutanan Sosial, dijelaskan bahwa dalam pemanfaatan hutan desa diakomodir juga terkait pemanfaatan jasa lingkungan. 

Bentuk dari pemanfaatan jasa lingkungan salah satunya berupa pengembangan potensi ekowisata, termasuk Festival Kapujan.

“Di Jorong Kapujan, KKI Warsi aktif untuk melakukan pemberdayaan dalam konteks pengembangan potensi hutan dan Sumber Daya Alam. Pada gelaran Festival Kapujan, Warsi ikut serta berkolaborasi membangun peran aktif pemuda dan bagaimana potensi budaya yang ada bisa di kembangkan dan di promosikan ke pihak luar,” kata Beni Dahna, Fasilitator Komunitas KKI Warsi. 

Ia menyambungkan bahwa andil Warsi lebih pada membangun sinergi dengan pemuda Kapujan untuk mengekspos potensi ekowisata, etnowisata, serta eduwisata melalui pelbagai media yang ada. 

Kedepannya, diharapkan, Festival Kapujan bisa menjadi agenda tahunan di nagari dan didukung sepenuhnya oleh pemangku kebijakan dari tingkat nagari hingga level provinsi. 

“Mimpi besar kami adalah Festival Kapujan bukan hanya dikenal di tingkat nagari atau kecamatan tigo lurah saja, tapi meluas hingga setidaknya tingkat kabupaten Solok,” pungkasnya.(dn)

Editor : DODI NJ | Sumber : KKI-Warsi
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]