Soal Ujian SD di Kabupaten Solok Dinilai Lecehkan Nabi Muhammad SAW, Disdikpora Akan Usut Tuntas


Kamis, 12 Desember 2019 - 16:33:02 WIB
Soal Ujian SD di Kabupaten Solok Dinilai Lecehkan Nabi Muhammad SAW, Disdikpora Akan Usut Tuntas KEPALA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Solok, Zulkisar saat memberikan klarifikasi di Arosuka, Kamis (12/12) terkait kasus soal ujian semester SD di Kec. Junjung Sirih yang dinilai meresahkan masyarakat. WANDI MALIN

AROSUKA, HARIANHALUAN.COM — Dinas pendidikan pemuda dan olahraga Kabupaten Solok akan memberikan sanksi tegas terhadap pihak-pihak yang terkait dengan pembuatan soal ujian semester I kelas IV SD di Kecamatan Junjung Sirih Kab. Solok yang sudah meresahkan masyarakat. Soal ujian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut dianggap telah melecehkan pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan ummat Islam.

“Kami telah melakukan klarifikasi dengan memanggil semua pihak yang terkait, mulai dari pembuat soal, kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), editor soal hingga pengawas. Kalau terbukti bersalah, akan kami beri sanksi,” ujar Kadis Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Solok Zulkisar,S.Pd,M.Pd di Arosuka, kepada Haluan Kamis (12/12).

Dalam soal pilihan ganda tersebut, diberikan pertanyaan tentang "sikap Nabi Muhammad yang tidak patut kita teladani". Kalimat tersebut dinilai sebagai penghinaan terhadap pribadi Rasulillah Salallahu 'alaihi wassalam sebagai Uswatun hasanah atau suri tauladan yang baik baik bagi ummatnya.

Beredarnya soal tersebut di sejumlah media sosial telah membuat masyarakat terusik pihak terkait untuk mengusut persoalan tersebut agar tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Apalagi kini, kasus pelecehan nabi ini viral di beberapa media online, baik yang terbit di Sumatera Barat maupun media nasional. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok pun bereaksi kemudian memanggil seluruh pihak terkait untuk dimintai keterangan.

Selain itu, Dinas Pendidikan telah membatalkan soal ujian agama untuk Kelas IV ujian dan harus melakukan ujian ulang mata pelajaran agama Islam di seluruh SD di Kecamatan Junjung Sirih. “Kami sudah menarik soal tersebut dan membatalkan hasil ujian yang digelar pada hari Senin (9/12) lalu itu. Ujian ulang akan digelar pada Selasa depan,” terangnya.

Zulkisar mengakui, kesalahan itu terjadi bukan terletak pada pembuat soal tapi pada tingkat Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) yang merevisi soal ujian, dalam hal ini “R” Kepala SDN 12 Paninggahan. Pihak terkait telah mengakui kesalahannya dan membuat penyataan maaf secara tertulis.

“Soal ujian tersebut dibuat oleh Veri Herianto, S.Pd.I, seorang guru agama yang masih berstatus CPNS. Karena akan mengikuti pelatihan prajabatan, soal yang dibuatnya dititipkan pada K3S untuk diperiksa dan direvisi. Pada tahap inilah soal itu terjadi perubahan dari naskah sebelumnya yang akhirnya menimbulkan keresahan masyarakat,” ujar Zulkisar.

Terkait sanksi yang akan diberikan, Zulkisar menyebutkan untuk tahap awal akan memberikan sanksi administrasi berupa teguran. “Namun jika nanti dari hasil investigasi yang dilakukan terbukti kesalahan, jika dia adalah pejabat, akan kami copot dari jabatannya. Sedangkan jika hanya guru biasa, sanksinya berupa pemindahan tugas,” ucapnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Kelompok kerja Kepala Sekolah (K3S) Junjung Sirih Gusni Lendra, SH mengaku, tidak ada unsur kesengajaan menistakan diri Nabi Muhammad SAW dalam pembuatan soal, yang telah mengusik kenyamanan ummat Islam tersebut. “Kami semua muslim, tidak ada niat untuk menyengaja menghina dan melecehkan pribadi Nabi Muhammad. Kami juga manusia yang tak luput dari kesalahan,” ucapnya lirih.

Menyikapi persoalan tersebut, Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok masih mendalami munculnya soal ujian Pendidikan Agama Islam (PAI) semester I kelas IV Sekolah Dasar di kecamatan Junjung, Kabupaten Solok yang dinilai melecehkan Nabi Muhammad SAW. "Yang jelas, kita masih mendalami terkait munculnya soal ujian yang sangat meresahkan masyarakat dan umat Islam ini,” sebut Sekretaris Umum MUI Kabupaten Solok, Elyunus, Kamis (12/12) di Arosuka.

Menurutnya, kejadian tersebut masuk ranah penistaan agama atau tidak, itu tergantung dari hasil investigasi yang bakal dilakukan oleh Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Solok bersama pihak terkait. Tapi yang jelas, kata dia, persoalan itu harus dilihat dari dua sisi, baik dari mekanisme kelembagaan di dinas itu sendiri dan juga perbuatan yang menyebabkan munculnya soal ujian yang bertentangan dengan keyakinan umat Islam.

Secara kelembagaan, proses penyelesian terhadap kejadian itu diserahkan pada yang pihak terkait. Secara perbuatan yang berpotensi menyinggung perasaan umat Islam akan dilakukan pendalaman lebih lanjut. "Kita akan gali lebih dalam lagi terkait munculnya soal ujian tersebut, kita klarifikasi kepada semua pihak terkait sesuai dengan prosedur yang ada, kita tidak akan memberikan putusan tanpa kajian yang mendalam," sebut Elyunus.

Ditegaskan Elyunus, kalau secara harfiah, soal tersebut jelas-jelas bertentangan dengan keyakinan umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang mulia dan jauh dari sifat dan sikap seperti yang dimuat di soal ujian itu. "Kalau ini masuk ke ranah penistaan agama atau tidak, kita akan dalami lagi, tapi sejatinya munculnya soal seperti itu tergantung niat, kalau itu kesalahan yang tidak disengaja tentu ada pertimbangan lain," sebutnya.

Namun demikian, pihaknya juga akan menilai sejauh mana karakter orang yang terlibat dalam membuat soal. Kalau memang ada kecendrungan unsur kesengajaan tentu ada proses lebih lanjut dan sanksi. "Kalau sekarang mereka yang membuat soal seperti ini sudah terkena sanksi secara sosial, kalau secara hukum tentu kita lihat nanti proses yang kita lakukan bersama pihak terkait," tutupnya. (h/ndi)

 

 

Reporter : WANDI MALIN /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]