Icha, Sang Bidan Desa Berjuang Selamatkan Lansia Jauh di Perkampungan Sana


Selasa, 31 Desember 2019 - 18:16:14 WIB
Icha, Sang Bidan Desa Berjuang Selamatkan Lansia Jauh di Perkampungan Sana Bidan Hardinisa Syamitri sedang memeriksa kesehatan salah seorang lansia di ruangan pemeriksaan Pustu Nagari Talang Anau.

BAHAGIA melihat orang sehat, begitulah prinsip hidup Hardinisa Syamitri, salah seorang bidan desa yang mengabdi di pedalaman perkampungan sepi Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Apalagi bisa mengubah paradigma masyarakat kampung untuk bisa sehat secara medis merupakan kebahagiaan luar biasa bagi Hardinisa. Demi bisa menyehatkan masyarakat disana, apapun dilakukan bidan 35 tahun itu. Bahkan, wanita yang akrab disapa Bidan Icha itu, rela hidup sendiri, jauh diperkampungan sepi dan terpisah dari suami tercinta, berhari-hari lamanya.

Oleh: Dadang Esmana

Daerah perkampungan, jauh dari keramaian, masih kental jasa dukun sebagai alternatif pengobatan. Dengan ilmu gaib yang  dipercaya dimiliki si dukun, sehingga berbagai penyakit bisa disembuhkan melalui ilmu mistik dengan  ramu-ramuan bercampur mantra.

Hardinisa Syamitri memegang penghargaan Satu Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk. Bidan yang akrab disapa Icha itu, menerima penghargaan pada 2013 lalu dari  kategori kesehatan.

Kepala pusing, tubuh panas dingin, keringan bercucuran membasahi badan dan kurang nafsu makan berhari-hari lamanya. Dalam bahasa medis semuanya itu adalah gejala demam atau penyakit tifus. Tetapi,  bagi penduduk diperkampungan, semuanya itu merupakan akibat diguna-guna dan dipercaya hanya dukun yang bisa mengobatinya.

Begitu lah yang terjadi di Jorong (dusun-red) Luak Begak, Nagari (desa-red) Talang Anau, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota sebelum mengabdinya Hardinisa Syamitri sebagai bidan desa disana.

Jorong  Luak Begak, merupakan salah satu perkampungan sepi  dengan 144 kepala keluarga. Jarak rumah yang terpisah-pisah, membuat perkampungan  paling ujung di Nagari Talang Anau itu teras sepi dan sunyi.  Apalagi, lokasi perkampungannya  berada  dibalik-balik perbukitan tinggi yang berlapis-lapis.   

Untuk sampai ke daerah dengan ketinggian 1.000 meter diatas laut itu, tidak lah gampang dan butuh perjuangan ekstra. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota. Dengan menempuh satu setengah jam perjalanan darat. Akses jalan ke sana tidak lah mulus, harus  melewati  jalan aspal berlobang. Kemudian, akses jalan  tidak datar seperti di perkotaan, melainkan mendaki, bertanjakan dan berkelok-kelok tajam dengan jurang-jurang  dalam di samping kiri-kanan.

Jalan itu pun tergolong kecil, hanya selebar 3 meter dan dilintasi untuk satu mobil. Apabila ada mobil lain yang melaju  dari arah berlawanan,  terpaksa kendaraan berhenti dipinggir jalan yang mendaki.  Hijaunya hutan pinus yang tumbuh di lereng-lereng tebing perbukitan dan merdunya sautan burung-burung di ranting pepohonan, setidaknya mampu mengusir  rasa was-was akan ancaman keselamatan selama perjalanan. Terutama  ancaman dari ekstrimnya  kondisi akses jalan yang berkelok-kelok dan disambut jurang dalam.

“Selamat datang di Nagari Talang Anau, begini lah kondisi kampung ini,” sapa Hardinisa Syamitri ketika ditemui Haluan di Puskesmas Pembantu (Pustu)  Nagari  Talang Anau pada Jumat (6/12/2019) pagi. Dengan berpakaian kaos omblong lengan panjang dan celana training hitam serta rambut ditutupi jilbab warna abu-abu yang masih meletak ditubuh bidan cantik itu, Icha seolah baru saja berolahraga sebelum haluan.com sampai ke Pustu tempat dia mengabdi.

Icha pun sudah mengetahui tujuan Haluan mendatanginya. Pagi itu, didalam ruangan Pustu  Nagari Talang Anau, cuma terdapat beberapa pasien saja yang akan melakukan pemeriksaan kesehatan oleh Icha. Kemudian di luar Pustu juga terlihat sepi. Di jalan depan Pustu sesekali hanya melintas sepeda motor yang dikendarai oleh warga tanpa helm yang hendak pergi ke ladang mereka.

“Kemarin ini, sudah banyak wartawan yang menghubungi saya. Katanya mereka ingin wawancara saya melalui telpon,” ucap Icha. Hardinisa Syamitri atau lebih akrab disapa bidan Icha itu, merupakan salah satu penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards  2013 kategori kesehatan yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk .

Icha, Besar dan Sekolah Di Rantau, Mengabdi di Kampung Halaman

Menjadi seorang bidan, adalah impian sebagian wanita, apalagi ketika mulai beranjak dewasa. Bersegaram putih, melayani ibu-ibu hamil dan mengurus persalinan dengan gaji yang sangat menjanjikan. Sehingga profesi bidan jadi dambaan kawula muda, Hardinisa Syamitri atau Icha salah satunya.

Sejak kecil, ketika  masih duduk dibangku Sekolah Dasar, Hardinisa Syamitri sudah bercita-cita ingin menjadi seorang bidan. Tujuannya hanya satu, bisa menyehatkan masyarakat. Setelah menempuh pendidikan dari SD hingga SMA di tanah rantau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, cita-cita Icha menjadi seorang bidan, tak pernah luntur.  Untuk mewujudkan cita-citanya itu, wanita  kelahiran 2 Mei 1984 tersebut mulai menimba ilmu kebidanan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi pada 2003 lalu.

Tiga tahun kuliah, Hardinisa Syamitri berhasil menyelesaikan pendidikan kebidanannya dengan memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan. “Memang sudah dari kecil ingin menjadi bidan,” terang Hardinisa Syamitri ketika memulai pembicaraan.

Icha termasuk  gadis yang beruntung dibandingkan teman-teman se-angkatannya. Tak butuh waktu berlama-lama bagi Icha dalam mewujudkan impiannya jadi nyata. Setelah diwisuda tahun 2005, setahun kemudian dirinya diangkat jadi PNS di kampung halamannya ketika umur masih 22 tahun. “Saya memang dari Kabupaten Limapuluh Kota, bapak dan ibu asli Koto Tinggi. Tetapi, saya lahir dan sekolah di Kabupaten Agam. Sekarang ini, pulang kampung untuk mengabdi,” ucapnya lagi.

Koto Tinggi, merupakan salah satu nagari yang berada di Kecamatan Gunuang Omeh dan  bertetangga dengan nagari tempat Icha mengabdi saat ini. Jarak kedua nagari pun tidak terlalu jauh, hanya dibatasi dua bukit yang menjulang tinggi.

Pertengahan 2006 lalu, setelah Surat Keputusan pengangkatan PNS Hardinisa Syamitri sebagai  bidan desa diterima dari Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota, saat itu lah pertama kali dirinya menginjakkan kaki di Nagari Talang Anau. “Awalnya memang tidak tahu dimana itu Jorong Luak Begak. Sempat juga bertanya-tanya soal Luak Begak. Sebelum kesana, informasi yang didapat dari orang dinas, penempatan saya berada tidak jauh dari kota. Tetapi setelah sampai ke tempat sesuai dengan yang di SK, ternyata lokasinya berada jauh diperkampungan,” ucap Icha lagi.

Tak berlistrik, jalan tanah dan berlumpur begitulah kondisi Jorong Luak Begak pertama kali Icha sampai disana. Kondisi itu perparah lagi tidak adanya akses komunikasi. “Pertama kesana, ponsel tidak ada artinya di Luak Begak. Ya seperti hidup di daerah pedalaman,” terang Icha.

Meski demikian, bidan cantik itu tidak patah semangat ditempatkan jauh diperkampungan untuk mengadi demi menyehatkan masyarakat desa. Malahan Icha bersemangat bisa ditempatkan jauh dari keramaian. “Tidak masalah saya ditempatkan dimana, yang penting bisa menyehatkan masyarakat. Namanya juga bidan desa, harus siap ditempatkan dimana saja,” katanya.

Di Jorong Luak Begak itu, ada salah satu bangunan tua semi permanen. Bangunan yang tak terawat dan sudah bersemak itu, dulunya merupakan rumah Kepala Jorong Luak Begak. Dibangunan itulah Icha memulai karir nya sebagai bidan desa. “Tinggal disana, praktek sebagai bidan desa juga disana. Pertama kesana, bangunan itu tidak terawat. Kayu-kayu penyanggah rumah, banyak yang patah. Kemudian dindingnya pun ada yang copot. Belum lagi, atap rumah ada yang bocor,” kenang Icha.

Hari pertama dinas disana, Icha bukan langsung bekerja  melayani pasien yang ingin berobat ataupun memeriksa kesehatan warga. Malahan sepanjang siang hari, Icha disibukkan untuk mengurus rumah tua yang akan ditempatinya. Didampingi beberapa orang perangkat nagari disana, mereka saling bergotong-royong untuk mengganti material rumah yang tak terawat dan sudah dimakan usia. “Ada beberapa orang yang bergotong-royong saat itu. Kayu-kayu lapuk diganti, dinding-dinding berlobang ditutupi. Bangunan tua bekas rumah kepala jorong akhirnya bisa untuk ditempati,” katanya.

Meski sudah diperbaiki tetapi rumah tersebut sebenarnya jauh dari kata layak untuk ditempati apalagi bagi bidan secantik Icha. Dinding rumah yang masih kusam karena tidak dicat ulang, beberapa bagian atap masih bocor. “Rumah yang ditempati, kerap juga kebanjiran. Air hujan tergenang sampai ke lantai. Ini yang saya alami pertama dinas disana. Semuanya minim, minim fasilitas dan minim penerangan,” katanya.

Lentera dan senter, merupakan senjata bagi Icha sebagai sumber cahaya dikala gelap malam datang. Mau tidak mau, Icha pun harus melalui masa-masa sulit awal pertama datang ke Jorong Luak Begak itu.

Mental Icha sebagai bidan desa dan mengabdi jauh di perkampungan, memang luar biasa. Diusia muda, mengabdi dengan keterbatasan fasilitas bahkan Icha memberanikan diri hidup sendirian di rumah tua. “Di rumah itu, saya sendirian. Tidak ada teman tidak ada saudara. Ya berani saja,” ucap Icha.

Awal-awal mulai berdinas di Posyandu Luak Begak, Icha mencoba untuk beradaptasi dengan masyarakat kampung disana. Satu-persatu masyarakat didatangi Icha. Tetapi, kehadiran Icha di Luak Begak itu malahan bukan disambut positif masyarakat nya. Icha sebagai bidan desa, malah terkesan aneh bagi masyarakat Luak Begak.

“Waktu itu, kehadiran saya memang aneh bagi masyarakat disana karena belum ada bidan atau tenaga medis yang sampai ke Luak Begak itu. Masyarakat juga tidak tahu apa itu bidan. Sehingga, kehadiran saya memang tidak dianggap,” ucapnya.

Masyarakat Luak Begak masa itu, katanya Icha, masih percaya dengan pengobatan melalui dukun. Sakit sedikit, hanya dukun lah yang bisa mengobatinya. “Paradigma masyarakat sini, kalau sakit berobatnya ya melalui dukun,” katanya lagi.

Sebulan berdinas, Icha pun terus berupaya untuk bersosialisasi pentingnya seorang bidan dan beradaptasi dengan masyarakat disana. Tetapi upaya yang dilakukan Icha belum membuahkan hasil. Bahkan, Icha sendiri dianggap musuh untuk menghalang-halangi praktik dukun disana. “Saya dianggap musuh, para dukun merasa tersaingi dan mereka berpikir kehadiran saya akan mengurangi pendapatan mereka sebagai dukun. Ada 14 sampai 16 dukun yang aktif mengobati warga yang sakit,” terang Icha.

Yang menyedihkan Icha, Posyandu tempat dirinya mengabdi, tidak pernah disinggahi pasien yang sakit. Malahan keluarga pasien lebih memilih mengantar anggota keluarga mereka ke rumah dukun daripada Posyandu tempat Icha mengabdi. “Waktu itu saya di depan Posyandu, ada warga yang melintas dan kelihatannya mau melahirkan. Ketika saya tanya mau dibawa kemana, dijawab mau mengantar anggota keluarganya ke rumah dukun. Mereka, lebih memilih ke dukun daripada dibawa ke Posyandu. Padahal saya sudah menyapa mereka. Ini yang membuat saya sedih,” katanya lagi.

Ditengah hidup sendirian, Icha sering bermenung dan memikirkan bagaimana cara menghadapi masyarakat tempat dia mengabdi. “Sekitar dua bulan berdinas, saya mulai ada teman. Ada mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi melakukan praktik disini. Kami bersama untuk menghadapi sulitnya merubah paradigma masyarakat Luak Begak terhadap pengobatan melalui dukun tersebut,” ucap Icha.

Didatangi Anak Dukun, Asal Mula Keberhasilan Icha Merubah Paradigma

Tengah malam diawal Januari 2007 lalu, merupakan asal mula Hardinisa Syamitri atau lebih akrab disapa bidan Icha berhasil merubah paradigma masyarakat Luak Begak terhadap perdukunan disana. Ketika itu, bidan Icha tak sengaja didatangi seorang ibu muda dengan perutnya membesar. Ibu muda yang berumur sekitar 27 tahun itu, tengah hamil besar dan sepertinya mau melahirkan.

Setelah mempersilahkan masuk ke Posyandu, Icha pun bergegas menyiapkan seluruh peralatan medis untuk persalinan ibu muda itu. “Sedang siap-siap akan persalinan, datang seorang ibu yang sudah paruh baya dan dikenal sebagai dukun beranak di Luak Begak. Saya sempat kaget juga atas kedatangan dukun tersebut,” ucap Icha.

Datang dengan wajahnya yang kusam, dukun beranak tersebut  ternyata tak lain adalah orang tua dari ibu muda yang akan melahirkan tersebut. “Kok dibawa ke sini (Posyandu), kenapa tidak dibawa ke rumah saja,” ucap Icha meniru percakapan dukun beranak dengan anak wanitanya yang akan melahirkan tersebut.

Dari raut wajahnya, kata Icha, dukun beranak tersebut kesal karena anaknya lebih memilik Icha dibandingkan dirinya untuk persalinan. Icha terpaksa diam saja  dan tidak merespon perkataan orang tua dari ibu muda tersebut. Icha pun terus memberikan pertolongan persalinan bagi ibu muda itu.

Tak lama berselang, keluarlah bayi mungil dari selangkang ibu muda yang tengah berbaring ditempat persalinan itu. “Bayi lahir tetapi tidak menangis sedikitpun. Saat itu orang tua dari ibu muda tersebut langsung panik,” kata Icha.

Kemarahan dukun tersebut malah menjadi-jadi mengetahui cucunya tidak menangih setelah dilahirkan. “Bagaimana ini, bagaimana lagi. Itu apa aku katakan, kenapa dibawa kesini. Dirumah kan bisa melahirkan,”kata Icha meniru ucapan kekesalan dari dukun tersebut.

Meski dibawah tekanan dari sang dukun, Icha memanggapinya santai. Dengan ilmu yang didapat semasa kuliah, Icha mampu menyelesaikan permasalah tersebut. Icha sudah diajarkan bagaimana cara menghadapi bayi yang baru lahir dalam kondisi tidak menangis tersebut. Melalui ilmu medis yang dimiliki, akhirnya bayi mungil itu mengeak-ngeak.

Spontan, dukun beranak tersebut terdiam. Dukun itu berjalan  menghampiri Icha yang sedang menggendong cucu nya. “Dari sana, dukun itu mulai sadar. Ternyata bidan itu penting,” kata Icha.

Sejak kejadian itu, secara perlahan, Posyandu tempat Icha mengabdi yang duku sepi akhirnya mulai didatangi warga disana. Satu persatu masyarakat mulai meninggalkan pengobatan melalui dukun. “Posyandu mulai ramai dan saya terus bersosialisasi dengan masyarakat,” katanya.

Hari demi hari, kehadiran Icha di Luak Begak mulai dirasakan masyarakat sana. Apapun penyakit yang menyerang, Icha lah tempat mengadu bagi warganya. Tak hanya masyarakat biasa, dukun pun ikut berobat kepadanya. Secara berangsur-angsur, praktek dukun mulai ditinggalkan warga disana.

Bentuk Komunitas, Rangkul Para Lansia Untuk Hidup Sehat

Prihatin dengan kondisi kesehatan masyarakat yang jarak mendapatkan perhatian secara medis, membuat Icha jadi tersentuh. Dengan prinsip hidup bahagia melihat orang sehat, apapun cara dilakukan Icha terhadap warga tempat dirinya mengabdi sebagai bidan desa. Awal-awal dinas di Jorong Luak Begak, Icha tak henti-henti untuk merangkul masyarakat terutama kalangan lansia untuk berobat kepadanya.

Tingginya kepercayaan msyarakat terhadap pengobatan melalui perdukunan, kondisi itu bagaiman sebuah tembok tinggi yang harus diruntuhkan Icha. Berkat sabar,tekun dan kerja keras akhirnya Icha mampu melakukan itu dengan kondisi minimnya fasilitas.

“Saya datangi orangtua satu persatu. Saya sampaikan pola-pola hidup sehat kepada mereka. Kemudian, terpenting adalah pengobatan melalui medis ini,”katanya Icha. Setiap lansia yang didatangi Icha, beragam anggapan dari mereka. Ada yang cemooh, ada yang tidak acuh tak acuh dan  yang merespon positif. “Saya maklum saja, apalagi kehadiran bidan baru saat itu mereka rasakan,” katanya lagi.

Terhadap lansia yang beranggapan pentingnya kesehatan melalui medis, dirangkul Icha untuk bergabung bersama komunitas yang didirikannya. Yakni komunitas Sehat Jasmani dan Rohani atau disingkat dengan Seroja.

Awal-awal Seroja berdiri,kata Icha,  hanya beberapa lansia saja yang mau ikut bersama dikomunitasnya itu. Meski hanya bisa dihitung jari, Icha tidak pernah patah hati untuk terus merangkul lansia lain demi menyadarkan diri mereka untuk terus hidup sehat.

Sekali seminggu, Icha mengumpulkan anggota Seroja di Posyandu tempat dirinya bekerja. Disana, Icha melakukan banyak kegiatan bersama para lansia. Dari senam pagi, pemeriksaan kesehatan hingga penyuluhan pentingnya hidup sehat. Seiring dengan waktu dan mulai ditinggalkannya praktek perdukunan, kehadiran Seroja mulai dilirik lansia lain.

Setiap pekan, jumlah anggota Seroja terus bertambah. Semakin banyak anggota Seroja, Icha tidak saja fokus pada kesehatan lansia saja. Icha mengembangkan Seroja pada kegiatan kesenian. “Waktu lansia masih muda, mereka pasti memiliki hobi pada seni. Saya berpikir bagaimana melalui Seroja digelar ajang seni untuk mengembalikan hobi lansia yang mulai sirna,”kata Icha.

Icha membuka seni tari, musik tradisional dan rabana bagi lansia. Pengembangan Seroja itu juga direspon positif oleh para lansia. “Lansia sangat terhibur dengan bakat yang sudah lama terpendam itu. Mereka asyik dan merasa kembali muda. Bahkan ada lansia yang menitikkan air mata ketika mengingat masa lalu mereka,” ucap Icha.

Tahun pun berlalu, memasuki 2008, saatnya Icha harus pindah bertugas ke kampung yang lain. Selama 2 tahun di Luak Begak, Icha terbilang sukses mengubah paradigma masyarakat disana terhadap pentingnya bidan desa. Komunitas Sejora juga terus menggiat. Kehadiran Seroja, sangat bermanfaat dirasakan masyarakat. “2008 saya pindah ke Pustu yang ada di pusat nagari. Tugas saya di Luak Begak digantikan oleh bidan lain. Tetapi, saya sesekali tetap mendatangi Luak Begak," kata Icha.

Sejak pindah ke ibukota nagari,Icha tak pernah melupakan tempat pengabdiannya pertama sebagai bidan desa. Sekali seminggu, Icha selalu mendatangi Luak Begak. Jarak Luak Begak dengan ibukota nagari terbilang cukup jauh. Demi kesehatan masyarakat di Luak Begak, Icha rela mendatangi kampung paling ujung tersebut walaupun melintasi jalan tanah berlumpur.

“Antara Luak Begak ke ibukota nagari cukup jauh, ada sekitar 4 kilometer. Sekali seminggu saya tetap ke Luak Begak untuk kegiatan Seroja. Karena tidak bisa bawa motor, untuk kesana saya terkadang naik ojek atau minta bantu sama warga untuk diantar kesana,” katanya lagi.

Sejak pindah ke pusat nagari, Icha tidak berpakaian layaknya seorang bidan. Malahan seperti orang yang hendak pergi ke ladang. Bersepatu boot, baju lusuh dan menyandang tas yang berisi pakaian dinas dan alat-alat kesehatan. “Maklum, jalan ke Luak Begak waktu itu berlumpur. Terkadang saat perjalanan, juga sering terjatuh ke lumpur dijalan. Karena itu ya terpaksa berpakaian biasa dan menyimpan pakaian dinas didalam tas. Sampai Luak Begak, baru pakaian diganti,” katanya lagi.

Sejak pindah, Icha mengembangkan komunitas Seroja di Pustu tempatnya mengabdi. Di Pustu, Icha mengajak lansia lain bergabung bersama Seroja. “Pada 2010, Seroja mulai berkembang. Tidak hanya di Jorong Luak Begak saja. Melainkan sudah mengembang ke 2 jorong lainnya. Sampai saat ini, anggota Seroja sudah ratusan lansia,” ucapnya.

sejak Icha hadir bersama komunitas seroja 13 tahun lamanya, angka hidup di Nagari Talang Anau menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Sebelum kehadiran Icha di sana, rata-rata angka hidup hanya sampai diumur 60 tahun. Tetapi, sejak kehadiran Icha dan dibentuknya komunitas Seroja, angka hidup meningkat sampai 68 tahun. Itu terbukti dari data-data seluruh lansia yang tercatat Pustu Talang Anau. Kehadiran Icha, bagaikan angin segar untuk harapan hidup lebih lama bagi para lansia disana. 

Terpisah Dari Suami, Perjuangan Icha Diapresiasi Bupati

Memasuki tahun 2010, Hardinisa Syamitri melepas masa gadisnya. Pada usia 26 tahun atau empat tahun berdinas, Icha akhirnya menikah. Bidan handalan bagi masyarakat Luak Begak itu, menikah dengan sorang pria bernama Desmihardi yang saat ini  merupakan staff pada Bapelitang Kabupaten Limapuluh Kota.

Demi tugasnya untuk menyehatkan masyarakat perkampungan, Icha rela untuk terpisah dari suami tercinta. “Suami dinas di ibukota kabupaten sedangkan saya dinas di dalam perkampungan disini. Kami jarang bertemu. Setidaknya, sekali seminggu,”curhat Icha. Bidan tersebut, tidak mempermasalahkan untuk perpisah dari suami sementara waktu, yang perpenting Icha bisa mengobati masyarakat yang jauh di perkampungan.

Setiap Sabtu, Icha berangkat dari Nagari Talang Anau menuju Kota Payakumbuh untuk bertemu suaminya. Pada Minggu sore, Icha kembali lagi ke Pustu tempat nya mengabdi. “Saya tinggal sendirian di Pustu ini. Meski tinggal sendiri tetapi saya merasa ramai karena ada ibu-ibu lansia di sekeliling sini," kata Ica lagi. Meninggalkan suami berhari-hari demi kesehatan lansia itu, sudah lama dilakukan Icha.

Sementara, Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi mengapresiasi perjuangan Hardinisa Syamitri yang rela bertugas jauh di perkampungan sana. Bupati pun bangga, ada bidan seperi Icha yang mengabdi tanpa rasa kesal ditempatkan jauh didalam perkampungan. “Saya bangga, ada bidan yang berjuang untuk kesehatan masyarakat seperti Icha ini,” terang Bupati Lima Puluh Kota. Atas pengabdiannya itu, Icha pun sering mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota. 

Terima Satu Indonesia Awards Astra, Hadiah Untuk Lansia

2013 lalu, merupakan tahun yang istimewa bagi Hardinisa Syamitri. Kenapa tidak, ditahun itu pertama kalinya bidan desa itu menerima penghargaan bergengsi tingkat nasional. “Saya terharu dan tak terbayang bagaimana bahagianya saya waktu itu,” kenang Hardinisa Syamitri. Icha, begitu sapaan bidan desa itu, berhasil membawa ke Ranah Minang tropi dan uang tunai dari PT Astra International Tbk.

Dari awal, Icha memang tidak mengetahui dirinya terdaftar sebagai salah satu  kontestan untuk penghargaan Satu Indonesia Awards. Berkat kegigihan dan mampu mengubah hidup para lansia, membuat sejumlah kalangan masyarakat Luak Begak termasuk teman Icha pun tergugah. Secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Icha, temannya mendaftarkan Icha untuk ikut sebagai penerima Satu Indonesia Awards bersama Pt Astra International Tbk.

“Saya memang tidak mengetahui ada penghargaan tersebut. Awal 2013, ada tim dari Jakarta yang menghubungi saya, katanya mau ke Luak Begak untuk melihat aktifitas saya bersama lansia,” kata Icha.

Icha mempersilahkan tim yang jumlah sekitar 6 orang untuk datang ke  perkampungan yang letaknya cukup jauh itu. “Ya mereka datang dan saat sudah berjumpa baru diberitahu saya masuk nominasi penerima Satu ‘Indonesia Awards. Saya sendiri tidak percaya karena tidak pernah ikut dalam penghargaan tersebut. Setelah mendalami infomasi, ternyata benar adanya,” katanya.

Berselang beberapa hari, Icha diminta datang ke Jakarta untuk mempresentasikan pengalamannya sebagai bidan desa di Luak Begak. “Ada beberapa juri waktu itu. Mereka adalah orang-orang hebat tetapi saya tidak canggung. Saya menceritakan apa yang sudah saya lakukan di Luak Begak bersama  para lansia dan masyarakat disana,” kata Hardinisa Syamitri.

Seleksi demi seleksi dilalui dan akhirnya Icha berhasil keluar jadi yang terbaik setelah penilaian para juri. “Malam penganugrahan, nama saya terpanggil untuk ke atas pentas dan saya menerima tropi serta uang dari Astra. Saya senang, terharu hingga meneteskan air mata,” ungkap Icha.

Setelah pulang kampung, nama Icha berdengung. Orang-orang bangga atas prestasi yang diperoleh Icha itu. Masyarakat Luak Begak terutama kaum lansia, turut merasa senang dan bahagia. Icha yang dulu kehadiraannya tak disuka, kini sebagai harapan baru untuk kelangsungan hidup sehat bagi warga disana.

“Apa yang saya peroleh adalah berkat dukungan semua pihak terutama teman-teman dan lansia. Penghargaan ini merupakan kenangan sepanjang masa,” tutur Icha. Hadiah yang diterima, berupa uang tunai, tidak digunakan Icha untuk berfoya-foya apalagi memenuhi kebutuhan hidup.

Melainkan, uang puluhan juta tersebut digunakan Icha untuk kebutuhan para lansia di Jorong Luak Begak dan Nagari Talang Anau. “Uangnya digunakan untuk memberi alat musik, alat kesenian dan untuk membeli berbagai kebutuhan dalam menunjang aktiftas lansia di komunitas Saroja,”kata Icha. (*)

loading...
Reporter : Dadang /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]