Ini Risiko Jika Anda Pilih Turun Kelas BPJS Kesehatan


Jumat, 03 Januari 2020 - 10:24:22 WIB
Ini Risiko Jika Anda Pilih Turun Kelas BPJS Kesehatan Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Iuran BPJS Kesehatan secara resmi mengalami kenaikan pada tahun ini. Kenaikan itu terjadi pada seluruh golongan peserta.

Kenaikan iuran BPJS Kesehatan tertuang pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan yang diteken Jokowi pada 24 Oktober 2019.

Dalam beleid tersebut ditetapkan pemberlakuan tarif baru mulai 1 Januari 2019. Penerima Bantuan Iuran (PBI) iurannya naik dari Rp 23.000 menjadi Rp 42.000 per jiwa per bulan. Besaran iuran ini juga berlaku bagi peserta yang didaftarkan oleh Pemda (PBI APBD).

Iuran PBI dibayar penuh oleh APBN. Sedangkan, peserta didaftarkan oleh Pemda (PBI APBD) dibayar penuh oleh APBD.

Bagi peserta yang keberatan dengan kenaikan iuran ini masih ada cara untuk menyiasatinya, yaitu dengan turun kelas kepesertaan. Kepala Humas BPJS Kesehatan M Iqbal Anas Ma'ruf mengatakan, penurunan kelas bisa dilakukan dari 9 Desember 2019 sampai 30 April 2020. Penurunan kelas bisa dilakukan tanpa syarat minimal kepesertaan minimal 1 tahun dan tanpa persyaratan khusus lainnya.

"Penurunan kelas gini, memang bisa dilakukan dengan sekarang dari 9 Desember 2019 sampai 30 April 2020 kalau mau turun kelas, tanpa syarat minimal 1 tahun, tanpa persyaratan khusus, meskipun dalam kondisi nonaktif aktif dia menunggak dia masih bisa menurunkan kelasnya," katanya kepada detikcom, Kamis (2/1/2020).


Lantas, apa risiko turun kelas BPJS Kesehatan?

Iqbal mengatakan, penurunan kelas berdampak ke manfaat non medis. Semakin tinggi kelas, maka semakin tinggi manfaat yang diterima.

Bagi peserta BPJS Kesehatan kelas I akan menerima manfaat ruangan yang berisi dua tempat tidur untuk pasien berbeda. Namun standar terkait hal ini belum jelas.

"Kalau kelas itu perbedaan manfaat non medis, soal kenyamanan, kalau pemerintah di rumah sakit, mengatur misalnya kelas satu, dua bed, dua ranjang. Di tempat lain juga berbeda karena memang standar soal itu belum diatur," ujarnya.

Kemudian untuk peserta kelas II dan III mendapatkan manfaat berbeda dengan jumlah tempat tidur lebih banyak di masing-masing ruangan. Artinya, lebih banyak pasien yang ditempatkan di ruangan yang sama.

"Jadi empat orang kelas dua. Kalau kelas tiga jadi delapan atau sepuluh orang tapi dengan ruangan luas dipisahkan tirai dengan yang lain," sambungnya.

Iqbal menegaskan, meski turun kelas, manfaat medis yang diterima peserta sama. Artinya, penyakit yang diderita peserta tetap dicover BPJS Kesehatan.

"Kalau manfaat medis nggak ada isu, sama, semua jenis penyakit dicover cuma kan orang memilih kenyamanan," tutupnya.(*)
 

loading...
 Sumber : detik.com /  Editor : NOVA
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]