Di Ambang Perang dengan Amerika Serikat, Iran Mungkin Saja Dibantu Rusia dan China


Sabtu, 04 Januari 2020 - 23:15:33 WIB
Di Ambang Perang dengan Amerika Serikat, Iran Mungkin Saja Dibantu Rusia dan China Massa di Irak bakar kedutaan As di Baghdad. REUTERS/Thaier al-Sudani

INTERNASIONAL,HARIANHALUAN.COM-Amerika Serikat membunuh Panglima Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassim Sulaimani dalam sebuah serangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1). Perintah pembunuhan langsung diberikan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Pihak Iran langsung merespons dan berjanji bakal membalas tindakan Amerika Serikat. Hubungan kedua negara pun saat ini bisa dibilang berada di titik nadir.

Potensi terjadinya perang antara keduanya begitu terbuka. Iran dan AS berada di ujung tanduk peperangan. Layaknya AS, Iran juga memiliki sekutu. 

Bahkan, sekutu Iran diketahui merupakan negara-negara yang menjadi lawan AS. Iran diketahui memiliki hubungan baik dengan Rusia dan China.

Lantas akankah Rusia dan China bakal membantu Iran jika perang terjadi? Berikut potret kedekatan Iran dengan China dan Rusia.

Iran, China dan Rusia Latihan Militer Bersama
Militer Angkatan Laut Iran, China dan Rusia latihan bersama di Samudera Hindia dan Teluk Oman pada Desember 2019. Latihan militer AL ini menjadi upaya pencegahan dari tekanan Amerika Serikat.

"Pesan dari latihan ini adalah perdamaian, persahabatan dan keamanan abadi melalui kerja sama dan persatuan ... dan hasilnya akan menunjukkan bahwa Iran tidak dapat diisolasi," kata laksamana armada Iran, Gholamreza Tahani di televisi pemerintah, seperti dikutip dari Reuters.

Iran dan Rusia Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Iran dan Rusia meresmikan tahap rekonstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr di pantai Teluk, Minggu (10/11/2019). Rekonstruksi itu diresmikan oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Ali Akbar Salehi dan wakil kepala badan nuklir Rusia Rosatom, Alexander Lokshi

Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 kilometer (460 mil) selatan Teheran.

Kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama, termasuk Rusia, membatasi beberapa jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Iran, dan produksi bahan bakar nuklirnya. Namun tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.

"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kita akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir," kata Salehi pada upacara tersebut.

Republik Islam memang sedang berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir.

Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga di masa depan, menurut AEOI.

Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Iran untuk reaktor nuklir.


Hubungan China dan Iran
Hubungan China dan Iran semakin melekat, semenjak China mengalami perang dagang dengan Amerika Serikat. China dan Iran menjalin kerjasama di bidang ekonomi. 

Wajar saja, karena keduanya menjadi target Amerika Serikat.(mdc)

 Sumber : Merdeka.com /  Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM