David Bowie, Indonesia, dan Wasiat Tabur Abu Kremasi di Bali


Jumat, 10 Januari 2020 - 14:57:22 WIB
David Bowie, Indonesia, dan Wasiat Tabur Abu Kremasi di Bali Kala mengembuskan napas terakhir pada 10 Januari 2016, David Bowie tak hanya meninggalkan warisan lagu, tapi juga jejak kecintaannya terhadap Indonesia.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Kala mengembuskan napas terakhirnya pada 10 Januari 2016 silam, David Bowie tak hanya meninggalkan warisan lagu-lagu legendaris, tapi juga jejak kecintaannya terhadap Indonesia.

Dunia mulai melihat jejak itu pada 1992, ketika Architectural Digest menerbitkan satu wawancara khusus dengan si Ziggy Stardust dengan foto yang langsung menjadi buah bibir.

Bertelanjang dada, hanya berbalut sarung tenun, David Bowie berdiri di depan vila bergaya Indonesia yang ia dirikan di Kepulauan Karibia.

Namun jauh sebelum itu, sejumlah musisi legendaris Nusantara sebenarnya sudah menjadi saksi "ke-Indonesia-an" Bowie, termasuk Fariz Roestam Moenaf.


"David Bowie mah emang Indonesia banget sih dia," ujar Fariz RM saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di suatu apartemen di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.

Fariz sendiri pertama kali kenal dengan Bowie ketika sedang berkunjung ke rumah musisi sekaligus pebisnis, Setiawan Djodi.

"Setelah itu, sering ngobrol. Pas lagi ngobrol-ngobrol di rumah Djodi, David lagi bikin lagu, terus bilang, 'Fariz, elo bisa enggak bikinin syair bahasa Indonesia?' Terus Djodi bilang, 'Udah, kita kerjain aja,'" tutur Fariz.

Musisi yang genap berusia 61 tahun pada 5 Januari ini pun sepakat membantu Djodi menggarap lagu tersebut. Ia menerjemahkan beberapa penggal lirik ciptaan si Ziggy Stardust.

Lagu berbahasa Indonesia itu kemudian dirilis dalam cakram padat album Black Tie White Noise yang diedarkan khusus di dalam negeri pada 1993.

Jauh sebelum lagu itu dirilis, Bowie juga pernah menyiratkan kecintaannya terhadap Indonesia melalui lagu kolaborasinya dengan Iggy Pop pada 1984.

Berjudul "Tumble and Twirl", lagu itu bercerita mengenai perjalanannya bertualang di Indonesia. Salah satu penggal liriknya berbunyi, "I've seen the city and I took the next flight for Borneo. They say it's pretty, I like the t-shirts in Borneo."

Setelah itu, Bowie juga pernah membuat lagu berbahasa Indonesia bersama Tin Machine yang dirilis pada 1991. Bertajuk "Amlapura", lirik nomor tersebut bercerita tentang salah satu pura di Bali.

Di tahun yang sama, Bowie bersama istrinya, Iman Mohamed Abdulmajid, bahkan mengikuti upacara Malam Satu Sura di Istana Mangkunegaran bersama Setiawan Djodi.

Menurut Fariz RM, setelah itu Bowie kerap menghabiskan waktu di Indonesia. Sebelum meninggal, Bowie bahkan sempat tinggal lama di salah satu pulau di timur Nusantara.

Hingga pada akhir hayatnya, Bowie menuliskan wasiat agar jasadnya dikremasi di Bali berdasarkan ritual agama Buddha setempat.

"Saya memerintahkan eksekutor saya untuk membawa jasad saya ke Bali untuk dikremasi di sana sesuai dengan ritual Buddha di Bali," demikian bunyi surat wasiat Bowie yang dikutip The Independent.

Surat itu kemudian berlanjut, "Jika tidak memungkinkan, maka saya memerintahkan eksekutor mengatur agar jasad saya dikremasi dan abunya ditabur di Bali. (h/cnn)

 Sumber : CNN Indonesia /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM