Upaya Nurani Menekan Keinginan Bunuh Diri


Senin, 13 Januari 2020 - 11:28:24 WIB
Upaya Nurani Menekan Keinginan Bunuh Diri Aktivis Nurani Perempuan WCC bersama Jaringan Peduli Perempuan (JPP) menggelar “Aksi Diam” dalam peringatan Hari Perempuan Internasional, Jumat (8/3/2019), dengan latar baliho promosi Stop Kekerasan Pada Anak dan Perempuan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. IST/Dok. Nurani Perempuan WCC

Perempuan sebagai orang tua tunggal (single parent) begitu rentan tertimpa masalah kejiwaan. Ketidaksiapan materi dan nonmateri membuat ia mudah termakan pengaruh dari luar. Tak jarang, ia terjebak dalam komunikasi bermodus kejahatan, yang kemudian berdampak buruk hingga mulai berpikir mengakhiri kehidupan.

Oleh : Juli Ishaq Putra

Hal itu pernah dirasakan Nyonya X (44), salah seorang perempuan dampingan LSM Nurani Perempuan Women’s Crisis Centre (NP WCC) di Kota Padang, Sumatra Barat. Nyonya X (identitas sengaja ditutup) tak menyangka, perkenalannya dengan seorang lelaki di dunia maya, mengantarnya pada situasi berkeinginan kuat untuk bunuh diri. Nyonya X mulai tertekan dan mengalami depresi luar biasa sejak lelaki yang ia kenali itu mengirim rekaman, setelah keduanya terlibat komunikasi via panggilan video (video call).

Tanpa disadari Nyonya X, ternyata lelaki yang ia harapkan segera menemuinya untuk membahas kelanjutan hubungan mereka, justru berganti peran sebagai pemeras dan pengancam. Padahal, kondisi ekonomi yang sulit adalah alasan utama ia bersedia menuruti kemauan lelaki itu, termasuk melayani permintaan video call di luar batas kewajaran.

"Diam-diam, lelaki itu merekam video call itu, lalu setelah panggilan berakhir, hasil rekaman itu dikirim kembali ke Nyonya X, berikut nomor rekening dan perintah agar mengirim sejumlah uang. Jika tidak dilakukan, lelaki itu mengancam akan menyebarluaskan video sangat tak wajar itu ke publik," sebut Plt Direktur Nurani Perempuan WCC, Rahmi Meri Yenti, saat ditemui Haluan di kantornya, Kompleks Belanti Permai 1 Blok A Nomor 5, Kelurahan Kampuang Lapai, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Jumat (10/1/2020).

Kejadian itu pula yang mempertemukan Nyonya X dengan Nurani Perempuan. Kedatangannya pertama kali ditemani salah seorang kerabat dekatnya. Nyonya X mengaku didera cemas sepanjang hari, hingga sudah makan dan tidur setiap malam. Ia dihantui rasa was-was andaikata orang-orang yang ia kenali di menerima kiriman video dirinya dari lelaki asing itu. "Saya mau mati saja," ujar Meri menirukan Nyonya X, yang berulang kali menyatakan niat bunuh diri setelah kejadian itu.

Dalam kondisi yang serba kekurangan sebagai single parent bagi tiga anak sejak suaminya meninggal dunia, Nyonya X malah harus berusaha agar seorang lelaki asing tak menyebarkan video dirinya yang bersifat sangat pribadi. Semua uang tersisa saat pemerasan pertama terjadi, sejumlah Rp200 ribu, sudah ia kirim. Tapi, itu tak cukup. Pemerasan selanjutnya datang berkali-kali. Beserta ancaman tak berkesudahan.

Setelah menceritakan masalah yang ia hadapinya dengan terbuka kepada Nurani Perempuan, termasuk memperlihatkan video yang dikirim oleh lelaki asing yang menjebaknya itu, Nyonya X diajak oleh relawan pendamping Nurani Perempuan untuk berkonsultasi ke Unit Cyber Crime Polda Sumbar. Namun, kasus yang ia alami masih sangat pelik untuk ditindak, serta butuh biaya tak sedikit.

"Sulit mendeteksi pelaku yang menjebak Nyonya X ini. Sebab, setiap kali video call berlangsung, lelaki itu duduk di bawah cahaya lampu yang membuat wajahnya sangat samar. Sementara, saat dilakukan pengecekan ke profil media sosialnya, ternyata lelaki itu menggunakan akun palsu," sambung Meri.

Usai konsultasi ke Polda Sumbar kemudian disepakati, agar Nyonya X menutup seluruh akun media sosial miliknya, serta mengganti nomor telfon whatsapp-nya. Komunikasi dengan dua teman facebook Nyonya X juga telah dilakukan, sebab menurut Unit Cyber Polda Sumbar, kedua teman itu telah menerima kiriman video pribadi Nyonya X lewat pesan facebook dari lelaki asing itu.

"Untuk menaikkan perkara ini dengan UU ITE dan pasal pemerasan, sebenarnya bisa, tapi dua orang itu juga harus jadi saksi. Sementara, keduanya jauh dari Sumbar. Korban tidak punya kemampuan memfasilitasi kehadirannya. Terlebih, pelaku sulit dikenali, sehingga masalah ini betul-betul kompleks untuk diproses," sebut Meri lagi.

Beberapa waktu setelah tidak lagi beraktivitas di dunia maya dan telah putus kontak dengan lelaki asing itu, kehidupan Nyonya X mulai membaik. Saat ini, yang bersangkutan sudah bisa makan dan tidur dengan pola yang baik. Keinginan untuk bunuh diri pun perlahan hilang. Meski demikian, Nurani Perempuan tetap melakukan pendampingan secara berkala.

Puluhan Kasus Lain

Masalah yang menimpa Nyonya X hanya satu dari 14 kasus yang menimpa perempuan dampingan Nurani Perempuan, yang berujung timbulnya keinginan kuat untuk bunuh diri. Bahkan, sudah ada perempuan dampingan yang mencoba bunuh diri, tetapi urung berhasil dan justru menanggung penyesalan.

"Jumlah pengaduan yang diterima Nurani Perempuan sepanjang 2019 itu ada 105 kasus, baik KDRT, pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Dari konsultasi yang dilakukan, 14 di antaranya menyatakan keinginan kuat untuk bunuh diri. Delapan (8) orang korban kekerasan seksual, termasuk korban cyber seksual. Sedangkan enam (6) orang lagi, korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)," urai Meri.

Meri menarik simpul dua kasus lain dalam perbincangannya dengan Haluan. Pertama, kasus yang menimpa gadis 20 tahun asal salah satu kabupaten di Sumbar, yang menjadi korban pelecehan seksual saat masa kecilnya dengan pelaku salah seorang anggota keluarga kandung. Namun, di situasi itu, korban justru tak mendapat dukungan dari anggota keluarga yang lain, malah cenderung dianggap membual sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

"Korban ini sudah pernah mencoba bunuh diri di jalan raya. Tetapi tidak berhasil. Pengakuannya ke keluarga, itu kecelakaan. Tapi ke Nurani, ia mengaku mencoba bunuh diri. Dia menyesal telah melakukannya, tapi tetap kami kuatkan agar tak lagi mengulangi. Umurnya masih muda, masa depannya tidak boleh dikalahkan oleh trauma," ungkap Meri.

Satu kasus lain yang diceritakan Meri adalah tentang seorang perempuan asal Kota Padang berstatus pegawai negeri, yang menjadi bulan-bulanan kekerasan fisik oleh suami sendiri karena alasan cemburu. Padahal, perempuan itu mengaku tak pernah main mata atau terlibat komunikasi intens dengan lelaki lain.

"Ini kasusnya selalu dituduh selingkuh, lalu dihajar secara fisik terus menerus. Si lelaki ini juga tidak mau cerai karena istrinya pegawai negeri, tentu jadi semacam ATM baginya. Namun, setelah serangkaian diskusi, korban yang berulang kali mengaku ingin bunuh diri ini sudah mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Padang. Sekarang sedang proses," ulas Meri.

Penanganan Pengaduan

Nurani Perempuan WCC telah berdiri sejak 1999. Sejak berdiri, lembaga ini membuka pintu untuk perempuan yang terkena krisis akibat masalah sosial yang mendera keseharian. Dalam menangani pengaduan, Nurani Perempuan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk memberikan solusi terbaik bagi masalah yang dihadapi setiap perempuan dampingan.

"Pengaduan kami terima dengan cara kunjungan dari dampingan, atau kami yang mengunjungi. Korban kami minta bercerita secara terbuka. Kami tekankan agar membawa serta orang yang dipercayai sebagai pendamping utama. Banyak korban mengaku tidak punya orang kepercayaan lagi, di situ kami berperan untuk membangkitkan memorinya, bahwa orang yang bisa dipercayai itu pasti ada. Sebab, memang orang depresi cenderung menutup akses ke siapa pun, dan menaruh curiga berlebihan pada siapa pun," sebut Meri lagi.

Lain kasus, lain pula penanganan. Meri menjelaskan, ada kalanya dampingan yang punya keinginan kuat untuk bunuh diri, keinginannya bisa ditekan dengan cara memberikan pemahaman tentang baik dan buruknya keadaan setelah ia tiada. Terutama bagi mereka yang mempunyai anak, yang di kemudian hari berpotensi jadi sasaran buli karena punya orang tua yang meninggal karena bunuh diri. Anak itu, juga berpotensi depresi karena buli, dan bukan tak mungkin akan jadi pelaku bunuh diri selanjutnya.

Namun, di beberapa kasus yang lebih kompleks, Nurani Perempuan berkoordinasi dengan pihak lain dalam memberikan penanganan. Utamanya dengan Aparat Penegak Hukum (APH), psikolog, psikiater, dinas terkait, dan lain sebagainya. 

"Regulasi atau aturan perundang-undangan yang ada, masih perlu perbaikan di sana-sini. Peraturan Daerah (Perda) Sumbar Nomor 5 tahun 2013 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak pun sampai saat ini belum jelas implementasinya. Turunan Peraturan Gubernur (Pergub) juga belum ada. Jadi, untuk kasus ini, masih harus kerja keras cari solusi," tutup Meri.

Bunuh Diri, Proses Bertahap

Menyikapi munculnya keinginan bunuh diri, terutama di kalangan perempuan, Psikolog dari Universitas Andalas, Septi Mayang Sari menyebutkan, bahwa keinginan bunuh diri timbul setelah ada tahapan gejolak yang terjadi pada diri seseorang. Oleh karena ide dan kesempatan bunuh diri itu munculnya naik turun, maka lingkungan sekitar harus cepat menangkap gejala itu, agar lekas memberikan penanganan.

“Bunuh diri itu butuh proses. Tidak langsung ketemu gunting lalu bunuh diri. Saat ada ide dan kesempatan, keinginan itu naik turun. Di saat naik turun itu, seseorang yang berkeinginan bisa tiba-tiba mencari pehatian agar tidak jadi bunuh diri. Ini yang perlu disimak oleh orang-orang di sekitar orang tersebut,” sebut Septi kepada Haluan, Minggu (12/1/2020).

Septi memaparkan, beberapa gejala umum depresi berat dapat ditangkap dari kebiasaan yang mulai enggan keluar rumah, bahkan enggan keluar kamar. Kemudian, juga enggan bergaul dengan lingkungan sekitar. Saat munculnya gejala seperti itu, maka keluarga, teman, atau tetangga, harus mengajaknya keluar dan bicara.

“Seperti contoh perempuan yang baru berstatus single parent. Jika ia masih punya hubungan dan dukungan yang baik dari keluarga, serta masih punya kesibukan, tentu depresi bisa hindari. Tetapi jika kondisinya kebalikan dari itu, tentu ia rentan terpuruk. Sebab, di tahap pergantian status itu, seseorang harus melakukan penyesuaian. Di saat itu, ia butuh perhatian dan penguatan. Jika ada orang tua atau saudara laki-laki, segeralah ambil peran seolah menjadi ayah bagi anak-anaknya. Berikan perhatian pada si single parent dan anak di single parent itu,” urai Septi.

Namun begitu, sambung Septi, saat seseorang depresi sudah mulai memikirkan bunuh diri, terlebih sudah berdelusi dan berhalusinasi, maka di saat itu teman atau keluarga mesti tampil mengajaknya menemui para profesional seperti dokter, psikiater, psikolog, dan lembaga pendampingan. “Sebab di tahap-tahap tertentu, harus ditangani secara medis,” ucapnya menutup.

Terkait alasan lingkungan yang mendorong seseorang melakukan bunuh diri, Guru Besar Sosiologi Universitas Andalas, Prof. Afrizal juga menyebutkan, bunuh diri disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang memikul masalah yang timbul dari keadaan sosial yang ia alami. Keadaan itu menimbulkan stres berlebihan sehingga bunuh diri dinilai sebagai solusi akhir memecahkan masalah.

“Faktor ketiadaan dukungan sosial membuat seseorang bisa memutuskan bunuh diri. Dia merasa tidak ada yang membantu memecahkan masalah. Ia merasa sendiri. Dukungan sosial tidak terlihat. Situasi di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda. Perhatian dan solidaritas sosial makin menipis. Malah, saat seseorang bermasalah, lingkungan justru membuli, sehingga lingkungan ikut mendorong seseorang melakukan bunuh diri,” sebut Afrizal.

Oleh karena itu, Afrizal menilai untuk menangani orang depresi karena masalah sosial agar tidak memikirkan untuk bunuh diri, maka fungsi keluarga dan lingkungan sosial mesti dihidupkan kembali. “Jika fungsi itu sudah tidak ada, seseorang bermasalah makin rentan mengambil jalan pintas,” tutupnya. (*)


Reporter : Ishaq /  Editor : Heldi


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 21 Juni 2019 - 22:50:23 WIB

    Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran, Upaya Mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data

    Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran, Upaya Mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data RUMAH Gadang, tidak hanya menjadi identitas masyarakat Minangkabau yang sarat akan makna dan filosofi, namun juga menjadi salah satu bentuk sumber daya budaya yang memiliki signifikansi; dari sisi arsitektur, teknis struktur,.
  • Jumat, 03 Juni 2016 - 04:15:39 WIB

    Supaya Puasa Ramadan Diterima Allah

    Supaya Puasa Ramadan Diterima Allah Marhaban yaa Ramadan, tak terasa bulan keberkahan dan bulan penuh rahmat bahkan magfirah akan segera datang menjumpai kita, di mana bulan suci Ramadan berjuta nikmat Allah SWT berikan bagi hambanya yang melakukan puasa, terma.
  • Rabu, 18 Mei 2016 - 03:34:57 WIB

    TMMD Upaya Menjaga Kemanunggalan TNI – Rakyat

    TMMD Upaya  Menjaga Kemanunggalan TNI – Rakyat Keharmonisan dan kebersamaan ataupun kemanunggalan TNI dengan rakyat telah menjadi salah satu pilar untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan merupakan suatu kekuatan yang sangat dahsyat dalam upaya.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM