Viral Dashyatnya Petir Menyambar-nyambar di Taal Volcano, Apa Penyebabnya?


Senin, 13 Januari 2020 - 19:31:54 WIB
Viral Dashyatnya Petir Menyambar-nyambar di Taal Volcano, Apa Penyebabnya? Petir saat Gunung Taal, Filipina, meletus. (Getty Images/Ezra Acayan)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Petir menyambar-nyambar saat Gunung Taal di Pulau Luzon, Filipina, meletus. Fenomena ini juga tampak saat erupsi Gunung Merapi atau Kelud di Indonesia. Meski begitu, jelas terlihat mata, tapi penyebab peristiwa alam ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Video dan foto dashyatnya petir yang menyambar-nyambar di tengah kepulan abu letusan Gunung Taal memang viral di media sosial. Netizen bertanya-tanya soal penyebab fenomena tersebut.

Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko, menjelaskan pada dasarnya petir adalah lompatan listrik dari partikel dengan muatan lebih besar ke arah partikel bermuatan lebih kecil. Muncullah cahaya yang dikenal sebagai petir, diikuti suara gemuruh beberapa detik kemudian sebagai akibat gesekan lompatan listrik dengan udara di sekitar. Lalu, bagaimana itu bisa terjadi saat gunung berapi meletus?

"Petir vulkanik sendiri masih menjadi perdebatan karena kejadian ini kadang terjadi saat ada erupsi gunung berapi," kata Hary kepada wartawan, Senin (13/1/2020).

Hary menjelaskan, saat gunung meletus, udara akan penuh material baterai akibat sesaknya partikel pasir hasil letusan itu. Muatan listrik positif dan negatif bertumbukan. Situasi itu berlangsung saat material dari gunung berapi terlontar ke udara.

"Petir yang terjadi dalam fenomena ini diakibatkan oleh peran awan kepulan uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik lain yang menyembur ke angkasa secara masif," kata Hary.

Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG), Kasbani, mengatakan peristiwa petir saat erupsi gunung berapi merupakan kejadian yang lumrah. Dia berpendapat itu murni aktivitas gunung, bukan dari aktivitas iklim lain.

"Petir ini terjadi karena adanya tumbukan dari partikel-partikel dari material erupsi yang terfragmentasi di mana hal ini bisa menghasilkan listrik statis. Oleh karena itu, kita melihat petir umumnya berada di dalam/sekitar kolom letusan," kata Kasbani.

Soal terjadinya petir ini juga dibahas Telly Kurniawan dkk dalam tulisan berjudul 'Terjadinya Petir pada Erupsi Gunung Berapi', diterbitkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG. Dijelaskan dalam tulisan itu, sumber sambaran petir biasanya ditimbulkan oleh awan cumulonimbus (Cb).

Prosesnya begini: Uap air naik (konveksi) berubah menjadi butiran es, jatuh, bertumbukan dengan molekul di awan, elektron (bermuatan negatif) terlepas dan jatuh terus ke bawah sementara yang tertinggal di atas karena tak ikut jatuh bermuatan positif. Kutub positif di atas, sementara negatif jauh ke bawah. Gara-gara muatan negatif berinteraksi dengan tanah yang netral, terbentuklah polarisasi positif. Muncul medan listrik dengan beda tegangan 100 juta volt. Terjadilah petir.

"Terjadinya petir saat erupsi gunung berapi tidak jauh berbeda," kata Telly Kurniawan dkk.

Beda teori soal petir gunung berapi

Misteri dari petir vulkanik ada pada penjelasan ilmiahnya. Para ilmuwan berbeda pendapat dalam menjelaskannya. Terlepasnya ion positif dengan ion negatif disebut sebagai ionisasi. Teori pertama, pada suhu 1.500 Kelvin saat erupsi, ion negatif akan terlepas dan ditangkap ion positif. Loncatan ini menimbulkan petir.

Teori kedua, petir vulkanik terjadi karena aerodynamic sorting, yakni pemisahan muatan negatif dan positif secara aerodinamis dari awan vulkanik. Saluran positif dan negatif tercipta, listrik pun mengalir di saluran tersebut, maka petir terjadi.


Teori ketiga, yang jatuh adalah partikel yang lebih besar, yakni partikel positif. Yang tinggal di atas justru partikel negatif karena berupa partikel lebih kecil.

Mana yang benar? Masih misterius. Washington Post pernah menerbitkan tulisan pada 2016 berjudul 'Ilmuwan berpikir mereka telah menyelesaikan misteri tentang terbentuknya petir vulkanik'.

Alexa Van Eaton dari US Geological Survey Cascades Volcano Observatory, Vancouver, berpendapat kristal es berperan besar memunculkan petir saat erupsi gunung berapi, bukan partikel debu gunung berapi yang berperan penting memunculkan petir. Ini menjelaskan soal petir yang terjadi di ketinggian erupsi gunung berapi karena petir mengikuti partikel es di atmosfer.

Namun Van Eaton juga memberi penjelasan sebaliknya, debu gunung berapi berperan penting menyebabkan petir vulkanik. Ini sekaligus menjelaskan kenapa petir juga terjadi di tempat yang rendah, tempat debu gunung berapi jatuh berguguran.

Vulkanolog dari Ludwig Maximilian University, Corrado Cimarelli, punya pendapat berbeda. Saat gunung berapi erupsi, partikel debu dan serpihan bergesekan satu sama lain menciptakan muatan listrik. Pelepasan listrik pasti terjadi saat erupsi, tak peduli apakah itu erupsi kecil atau besar. (h/dtk)

 Sumber : detikNews /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM