Petani Atsiri Kota Solok

Menyuling Rezeki, Merebak Wangi


Jumat, 17 Januari 2020 - 11:57:02 WIB
Menyuling Rezeki, Merebak Wangi Depi (40) memasukkan serai wangi ke dalam mesin penyulingan (ketel) di jalan Lingkar Utara, Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, Kamis (9/1). Mesin ketel ini mampu menampung 1 ton serai wangi dan menghasilkan 10 kg minyak. RIVO SEPTI ANDRIES


Laporan: Rivo Septi Andries

Pada siang terik, awal Januari. Setumpuk daun serai meruak wangi di atas ilalang. Di satu sudut gudang penyulingan minyak atsiri di jalan Lingkar Utara, Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, Djunaidi (64) menengok pekerja membongkar serai yang baru saja dipanen.

Hari itu, saat yang pas untuk menyuling serai menjadi minyak atsiri. Tiga bulan merawat, kini waktunya petani untuk menambah pundi.

“Rencana hari ini (penyulingan), karena ada petani dari kelompok yang panen. Dan sekalian mencoba mesin ketel habis renovasi karena sempat rusak,” ujar Djunaidi yang menjabat Ketua Perhimpunan Petani dan Penyuling Minyak Atsiri Sumbar.

Di gudang berdinding papan yang tak lebih besar dari lapangan badminton itu, berdiri mesin suling (ketel) berkapasitas 1 ton, bercorong asap menembus atap. Di sinilah semerbak harapan itu menuai. 

“Butuh waktu sekitar 6 sampai 7 jam untuk satu ton serai, dan menghasilkan 6, 7, bahkan sampai 10 kg minyak,” kata Edi sapaan akrabnya.

Edi dibantu seorang pekerja mulai memasukkan bongkahan serai ke dalam mesin ketel. Kayu menjadi bahan bakar api dari tungku untuk syarat menyuling. Masih tradisional, tapi justru proses ini dianggap dapat mengurangi campuran yang dapat mengurangi kualitas minyak.

Perlahan, tetes demi tetes memenuhi ember plastik yang sudah taruh di bibir pipa suling. Minyak yang menguning itulah yang dikumpulkan menjadi rupiah.
Hujan beberapa minggu terakhir yang mengguyur kota berjulukan Serambi Madinah itu tak mempengaruhi hasil panen. Justru harga yang merosot membuat petani kaget.

Petani serai wangi pada beberapa periode sebelumnya pernah merasakan kejayaannya dengan harga menembus Rp350 ribu per kg. Tapi kini turun menjadi Rp170 ribu per kg.

Meski begitu, minyak yang dikenal bermanfaat untuk kebutuhan manusia ini masih menjadi komoditas utama, karena dijadikan bahan utama parfum, pembersih lantai, mobil, sabun, sampo dan bahan lainnya.

Mencoba menelaah, Edi menyampaikan, ada kemungkinan turunnya harga karena kelebihan kuota dan spekulan, pola dagang tingkat “elit”  memasukkan minyak dari Cina. 

“Ini asumsi saya, minyak dari Cina itu masuk, tapi kandungan citronellanya di bawah 25 persen. Nah, kalau minyak Cina saja diekspor tentu tidak lolos, maka di-blendinglah dengan minyak kita (Indonesia), maka untuk lolos ekspor karena kandungan citron sudah mencapai syarat 35 persen,” tutur Edi.

Hal itu juga sempat disinggung Edi di salah satu forum di Kalimantan yang dihadiri para pengusaha (atsiri) kelas atas. Saat hal itu disampaikan, tak ada satu pun yang bisa menjawab.

 

Pemasaran Satu Pintu

Terlepas dari itu, ia bertekat bersama para petani untuk tetap menjadikan komoditas minyak atsiri khususnya serai wangi tetap jadi unggulan selain beras di Kota Solok.

“Pasarnya masih terbuka lebar. Jadi langkah yang kami ambil sekarang adalah membuat pemasaran di sini (Kota Solok) jadi satu pintu. Bagaimana caranya, ya dengan bersatunya kelompok tani dan sepakat untuk membuat koperasi, dan ini awal yang baik,” ujar Edi.

Ia mencontohkan, ada minyak petani 500 kg atau satu ton, lalu  ditawarkan melalui website milik koperasi, dengan menampilkan kandungan minyak (kualitas terbaik), warna minyak, lengkap dengan foto.

“Jadi bisa dilihat baik orang di dalam negeri atau pun dari luar negari, bahkan dari perusahan dari Indonesia atau perusaan yang menggunakan bahan serai wangi sebagai bahan produknya,” ucap Edi.

Lalu dengan adanya koperasi kini, Edi menyampaikan dengan adanya koperasi dan teknologi (website) petani bisa berbagi informasi, teknologi, perkembangan terbaru, dan harga. Selain itu koperasi bisa sebagai alat perjuangan.

“Jadi kami bisa mengusulkan (berjuang) sesuatu kepada pemerintah, dan pihak lainya.Contoh bisa dapat fasilitas dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Tenaga Kerja, dan di hilirisasinya bisa dari Kementerian Koperasi (UMKM),” tuturnya.

Operator Bersertifikat

Menyuling tentu harus ada teknisi, atau yang disebut operator. Bagi Edi dan petani lainnya menyuling bukan saja soal wangi, tapi juga resiko. Bahkan nyawa bisa jadi taruhannya.  

Mesin ketel memiliki tekanan gas yang cukup kuat karena berasal dari panas tungku. Ketel dikunci, dan disalurkan melalui proses pipa penguapan hingga menjadi minyak. Jika kurang teliti, mesin terbuat dari stainless stell ini bisa saja meledak.
 
Ia menceritakan, mesin ketel yang digunakan kelompoknya pernah meledak karena adanya penyumbatan di pipa suling. Sementara gas terus terpompa, dan baut kuncian tak bisa lagi menahan tekanan sehingga terjadi ledakan.

Satu orang pekerja dilarikan ke rumah sakit karena menderita luka karena tersiram uap panas. Sekitar 4 hari pekerja tersebut harus dirawat.
“Itu baru serai dan penutupnya aja yang terbang (lepas dari ketel). Atap dan kayu di atap itu jebol,” ucap Edi membayangkan.

Menyikapi hal itu, Edi mengaku saat ini sudah ada pelatihan bagi operator alat suling atsiri. Untuk Kota Solok baru ada dua orang yang bersertifikasi operator. Ia dan satu orang temannya bernama Supri.

“Saya mengikuti pelatihan uji kompetensi dan sertifikasi operator alat penyulingan, di Solok Saya dan Supri yang bersertifikasi. Di Sumbar hanya ada lima, yakni Kota Solok dua orang, Kota Padang  satu, Kabupaten Limapuluh Kota satu dan Kabupate Kepuluan Mentawai  satu orang,” ujar Edi.

Sementara di Kota Solok petani budidaya serai tergabung ke dalam kelompok tani ada sembilan. Untuk alat penyulingannya ada tujuh, semuanya dari bantuan pemerintah. Dua diantaranya dibantu oleh APBD Kota Solok 2016 dan 2017. 

Menurut Edi, masuknya serai wangi di Kota Solok sejak 1999, dan mulai berkembang pada 2004 melalui proram Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).
Serai wangi dengan nama latin (Cymbopogon nardus jenis rumput-rumputan dari ordo Graminales) terus berkembang terutama dari segi perluasan lahan.

Kadis Pertanian Kota Solok, Ikhvan Marosa, menyampaikan, pada 2017 Dinas Pertanian mambantu petani dengan pengadaan alat suling kapasitas 1 ton.

Upaya lain yang dilakukannya adalah pengembangan pada  2019 seluas 20 hektare. Pada 2020 ini bakal dibuat kebun benih serai wangi seluas 2 hektare. Pada 2019, total produksi serai wangi mencapai 67,50 ton, dengan luas lahan 21,43 hektare.

Ikhvan berharap, petani serai di Kota Solok harus lebih serius, dan kompak. Karena menurutnya, kapasitas ekspor, produksi minyak serai wangi Kota Solok akan tercapai jika petani serai wangi bersatu menjual hasil minyaknya pada satu pintu.

Wanginya Atsiri 

Atsiri mempunyai arti tanaman yang menghasilkan minyak (wangi-wangian) tapi mudah menguap. Ada banyak jenis minyak atsiri, mulai dari yelang -yelang, akar wangi, kayu putih, kayu manis,  serai wangi dan banyak lagi. Kota Solok sendiri lebih fokus pengembangannya ke serai wangi.

Kepala Kebun Percobaan, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Laing, Kota Solok, Erma Suryani menerangkan, tanaman serai wangi banyak dipilih karena kaya manfaat. Tidak hanya sebagai pewangi tapi juga sebagai peptisida nabati, bio adiktif, antiseptic, dan pengobatan.

“Bisa pengobatan, minyak rambut, pembersih lantai, sabun mandi, anti ketombe, sabun. Kalau bio adiktif bisa sebagai campuran bahan bakar, jadi minyak (BBM premium kalau dicampur dengan serai wangi  bisa setara dengan pertamax. Contoh 1 liter premium ditambah beberapa cc serai wangi oktannya bisa tinggi,” ucap Erma. 
Ia menyampaikan, Balitro tidak menjual produk hanya penyedia teknologi.

“Kami di bawah Kementan jadi setelah kami dapat teknologi itu kami lempar ke masyarakat, silakan masyarakat untuk mengembangkannya,” ujarnya.

Terkait dengan turunnya harga minyak serai wangi, Erma menyampaikan, untuk segi budidaya ia merasa belum rugi, karena biaya budidaya tidak terlalu tinggi tidak seperti berkebun sayur. Cukup dengan penggemburan, pemupukan dan pemotongan gulma.


 
Untuk waktu tanam, tahun pertama cukup 6 bulan sudah bisa panen, lalu panen kedua cukup 3 bulan (waktu tunggu). Jadi tahun pertama bisa 3 kali panen, tahun kedua bisa 4 kali. 

Cuaca tidak mempengaruhi, jutru saat panen melihat petani harus mengamati cuaca. Karena jika panen pada musim hujan kadar airnya tinggi, di saat penyulingan bakal menemukan rendemen (perbandingan jumlah (kuantitas) minyak yang dihasilkan dari ekstraksi tanaman aromatic) yang rendah.

Jika pun terpaksa panen, harus dijemur dahulu sekitar 3 hari baru disuling.  Karena menurut Erma, rendemennya bisa sekitar 0,7 hingga 1 persen, artinya 1 ton bahan baku akan menghasilkan 7 sampai 10 kilo minyak.
 
Permintaan bibit terutama saat minyak serai wangi tinggi, hampir seluruh Indonesia “gila-gilaan” dengan menanam serai wangi.
Bahkan kata Erma, kebun di Balitro ramai dikunjungi orang dari Aceh sampai Papua.

“Mereka banyak mencari bibit di sini, malahan sawit-sawit mereka ganti degan serai wangi,” tuturnya.

Bibit serai wangi menurut Erma, sudah dilepas tiga varietas. Pertama Serai Wangi 1, kedua Sitrona 1 Agribun , dan ketiga Sitrona 2 Agribun.

Masing-masing punya kelebihan, cuma yang ketiga varietas itu mempunyai agroklimat yang berbeda. Kalau Serai Wangi 1 bisa ditanam dataran rendah hingga sedang, sementara Sitrona 1 Agribun dan dua bisa ditanam di daerah dataran sedang hingga tinggi.

“Jadi yang ditanam di ketinggian 700 hingga 900 meter dari permukaan laut itu Sitrona 1 dan 2. Nah di sini (Solok) daerah sedang, jadi pakai Sitrona 1,”katanya.

Dari fisik serai wangi 1  daunnya berdiri lalu ujungnya menekuk. Sedangkan Sitron 2 daunnya berdiri seperti lalang.

Hal lainnya yang disukai dalam tanaman serai wangi adalah, bisa ditanam di lokasi tanah marjinal atau bekas tambang dan hanta ditumbuhi lalang. Selain itu serai dimanfatkan untuk konservasi daerah lereng, menahan erosi, karena akarnya serabut.

Erma mengimbau, petani berhati hati-hati dalam menanam jangan sampai ketemu serai yang daunnya tinggi, mereka menyebutnya serai balon, karena bisa menurunkan kualitas minyak serah wangi.

Selain itu serai wangi juga berbeda dengan serai dapur yang banyak ditemukan di pekarangan rumah. Serai dapur posisinya rumpunnya tetap berakar ke bawah, sementara serai wangi perakarannya di samping, jadi tumbuhnya ke samping,” kata Erma menambahkan.

Untuk itu fungsi pembumbunan syarat penting kalau budidaya.  Harus ditimbun pangkalnya supaya urat yang menggantung bisa masuk ke tanah mencari makan.

Selain itu, serai wangi dinilai mendekati stabil dalam permintaan harag pasar. Berbeda dengan nilam, kalau barangnya langka, harga jadi tinggi permintaan tinggi, tapi di saat kuota terpenuhi, permintaan tak ada, harga langung jatuh. Karena menurut Erma nilam hanya berfungsi sebagai pengikat.

“Umpamanya gini, si A buat produk sabun, ingin mengikat aroma mawar jadi untuk mengikatnya harus pakai minyak nilam. Jadi funginya sedikit, kalau serai wangi banyak manfaatnya, makanya harganya tidak fluktuatif hampir mendekati stabil walau pun harga sampai Rp150 ribu saat ini,” ucapnya.

Selain serai, ada tanaman yelang-yelang yang dikembangkan di kebun Balitro yang mempunyai luas 72,5 hektare itu. Tanaman sejenis kenanga ini memiliki bunga, nilai jualnya sangat bagus. Tetapi proses panennya perlu dijaga, karena harus pada  pada 06.00 WIB sampai 10.00 WIB, jika lewat jam itu, aromanya akan lepas.

“Yelang-yelang  digunakan untuk parfum, aromanya sangat harum sekali,”terang Erma.

Produk Hilir

Produk olahan minyak serai wangi bisa digunakan sebabagi aroma terapi, kesehatan kulit, pegal pegal, menyembuhkan penyakit kulit seperti eksim, dan kurap.
Ainul (40) staff Balittro salah satu orang yang mengambangkan minyak serai wangi menjadi produk.

Ia menciptakan sabun mandi dan pembersih lantai dan lainnya dari serai wangi. Kelebihan dari serai wangi adalah, jika umumnya pembersih lantai hanya menghasilkan  aroma saja, tetapi serai dapat mengusir serangga seperti lalat, nyamuk, dan kecoa.

“Seperti di rumah sakit cukup pakai model semprot, bisa juga untuk rumah makan. Kan ga nyaman kalau meja makan banyak lalat. Bahannya pun ramah lingkungan seperti pakai garam sehingga aman bersinggungan dengan kulit kita,” kata Ainul.

Namun, karena perizinan masih dalam proses, Ainul masih menunggu keluarnya hasil dari BPOM. Untuk sementara ia hanya menjual secara door to door.

Ainul mendapat ide ketika harga minyak serai wangi melonjak tinggi. Ia berpikir jika harga tinggi nantinya bakal ada yang bermain dalam harga (spekulan), untuk itu mensiasati dengan membuat produk.(*)
 

Reporter : Rivo Septi Andries /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM