Subsidi Elpiji 3 Kg akan Dicabut, Nitizen: Keterlaluan, Nyekiknya ke Rakyat


Senin, 20 Januari 2020 - 15:25:59 WIB
Subsidi Elpiji 3 Kg akan Dicabut, Nitizen: Keterlaluan, Nyekiknya ke Rakyat Ilustrasi. Foto/Dok Okezone

JAKARTA,HARIANHALUAN.COM - Kritik keras terhadap rencana pemerintah mencabut subsidi gas elpiji 3 kilogram (kg) terus menggalir. Penolakan ini banyak disampaikan masyarakat di sosial media Twitter.

Akun @soeyoto1 misalnya menilai konversi dari minyak tanah ke elpiji di jaman Pemerintahan SBY-JK tujuannya untuk meringankan beban rakyat. Dia mempertanyakan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sulit subsidi elpiji 4 kg justru dicabut. (Baca: Demokrat Kritik Alasan Pemerintah Ingin Cabut Subsidi Elpiji)

"Sekarang ekonomi lagi sulit kok yg meringankan Rakyat dicabutin semua. Partai penguasa ini katanya Partainya wong Cilik Kok tidak ada empatinya dg Rakyat Kecil?" ujarnya, Senin (20/1/2020).

"Keterlaluan nyekiknya ke rakyat, tidak smua orang berada untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari msih banyak rakyat yg pontang panting, lah ini di tambah bebannya, klau orang kaya mah gak begitu masalah, klau bagi rakyat yg kesulitan ekonomi, kasianlah," kata akun @BaahitsahIlmi.

Penolakan juga disampaikan akun @ErnaSyahriani yang mengaku sebagai pedagang kecil. Menurutnya, harga elpiji 3 kg yang akan melambung tinggi akan menyulitkan usahanya.

"Tidak setuju. Sy jualan makanan. Gila aja kl hrg gas segitu. Nih saya jual roti harga seribu, usaha ini selain buat tambahan pemasukan, jg pengen bantu orang susah. Kasihan org susah, pengen makan roti yg enak d toko" bermerk, mehong, mereka gak sanggup beli," tulisnya.

Namun, tak sedikit pula netizen yang mengaku pasrah jika pemerintah memutuskan mencabut subsidi elpiji 3 kg. Mereka beralasan tidak bisa berbuat apa-apa menolak keinginan pemerintah tersebut. 

"Setuju si tidak.....tapi ngga mampu mau berbuat apa.....saya hanyak sebagai Petani dan pengusaha kopi kecil kecilan...maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak samapai......tapi sayangnya kami tinggal di atas gunung. Mau tak mau harus terima," cuit akun @tegal_kopi.

"Mau di tolak pun nanti di tuduh Radikal intoleran ingin ganti pancasila. Mengumbar kebencian. Malas kerja. Gak bersyukur. Gak ingin maju. Plg parah nnti di tuduh makar atau di suruh pindah. Dgn berat hati di Terima. Biarkan waktu yg menjawab," ucap akun @LubisMadina2.

 Sebelumnya Rencana pemerintah mencabut subsidi elpiji  juga ditanggapi  Aktivis '98. Ricky Tamba, salah seorang Aktivis '98, menulis surat terbuka meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak mencabut subsidi elpiji 3 kg.

Dalam surat terbukanya, Ricky Tamba menyebut dirinya mewakili curahan hati jutaan rakyat Indonesia, khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang kian bersedih hati dalam menjalani hidup dari hari ke hari. "Harga-harga kian melambung tinggi, nafkah penghidupan kian sulit dan kebutuhan hidup keluarga kami harus terus terpenuhi tak peduli apa pun kondisinya," tulisnya.

Dia menambahkan, bila harga gas, BPJS, dan rokok naik, rakyat terpaksa mengubah menu makan dan gizi anak-anak, menghemat beli baju, peralatan sekolah anak, dan kebutuhan lainnya, hingga menyetop berbagai kegiatan rekreasi keluarga walau yang murah meriah sekalipun.

"Pak Presiden yang kami banggakan, perkenankan kami memohon kepada Bapak agar mengambil opsi kebijakan ekonomi lain yang lebih inovatif dan kreatif, daripada mengambil kebijakan tak populis yang membuat rakyat murung dan resah. Banyak hal produktif lain yang bisa disegerakan, seperti menyita aset para koruptor, menekan biaya belanja rutin para pejabat yang tak efektif, meningkatkan ekspor barang produksi Indonesia untuk meningkatkan pendapatan negara, mengurangi impor pangan yang bisa merugikan kaum petani lokal serta banyak upaya nasionalistik lainnya. Izin lapor Pak Presiden, hidup rakyat kian susah, mohon tak cabut subsidi gas, juga batalkan rencana kenaikan BPJS dan cukai rokok," tulisnya. (snd)

 Sumber : Sindonews.com /  Editor : Dodi

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]