Wawancara Eksklusif: Begini Kisah Yovandra, Mahasiswa Minang di Wuhan Univercity yang Lolos dari Virus Corona


Rabu, 29 Januari 2020 - 10:54:03 WIB
Wawancara Eksklusif: Begini Kisah Yovandra, Mahasiswa Minang di Wuhan Univercity yang Lolos dari Virus Corona Yovandra, mahasiswa asal Jorong Belakang Pajak, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar yang menempuh pendidikan di Wuhan Univercity.

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Ganasnya virus Corona atau wabah pneumonia menimbulkan keresahan mendalam bagi mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di sana. Ironinya, ulah virus yang mematikan itu, kini Kota Wuhan yang merupakan kota metropolitan terbesar ketujuh di China seperti kota mati tak berpenghuni.

Kota Wuhan yang diduga munculnya pertama kali virus Corona telah ditutup pemerintah setempat sejak 23 Januari 2020. Alhasil tak sedikit penduduk yang 'terperangkap' di sana. Sekitar 400 an di antaranya adalah mahasiswa Indonesia.

Namun ada satu mahasiswa asal Sumbar yang berhasil selamat sebelum Wuhan ditutup adalah Yovandra. Pria asal Jorong Belakang Pajak, Kabupaten Tanah Datar ini tak henti mengucap syukur terlepas dari penyebaran virus mematikan itu. Yovandra berhasil keluar dari Kota Wuhan lantaran tengah menjalankan kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia Mengabdi.

"Saya sudah pulang sebelum masalah virus ini meluas. Kondisi fisik saya juga fit. Kebetulan saya keliling ke beberapa wilayah di Indonesia untuk kegiatan PPI Dunia Mengabdi. Kebetulan saya ketuanya," ujar Yovandra saat dihubungi HarianHaluan.com, Rabu (29/1/2020).

Kini Yovandra dan rombongannya disibukkan dengan kegiatan PPI Dunia Mengabdi di Indonesia. Rencananya akan kembali ke Wuhan tanggal 15 Februari 2020 nanti. Namun pihak Universitas mengimbau kepada mahasiswa yang berada diluar Wuhan untuk tidak kembali ke sana hingga kondisi benar-benar kondusif.

"Saya sudah beli tiket kembali ke Wuhan tanggal 15 Februari ini, tapi dari pihak maskapai mengabarkan bahwa penerbangan pada tanggal itu dibatalkan. Pihak kampus juga menghimbau untuk tidak membeli tiket pesawat kembali ke Wuhan dulu sampai waktu yang belum ditentukan," jelas pria 23 tahun itu.

Adanya imbauan itu, mahasiswa yang berkuliah di Wuhan University ini mengurungkan niatnya kembali ke 'Kota Zombie' tersebut. Dia lebih memilih untuk berada di Sumbar selama 1 Minggu. Setelah dari Ranah Minang, Yovandra berencana terbang ke Jakarta dan Semarang untuk mengikuti rangkaian agenda lain dan akan berada di Semarang sampai kondisi di Wuhan aman.

"Kemungkinan saya akan reschedule tiketnya sampai kondisi aman. Kebetulan sudah satu minggu di Sumbar, karena ada dua wilayah di Sumbar yang dijadikan lokasi kegiatan PPI Dunia Mengabdi. Setelah ini saya akan ke Jakarta dan Semarang untuk agenda lain dan mungkin stay di Semarang sampai bisa berangkat ke Wuhan," jelas Yovandra.

Disamping itu, Yovandra juga menceritakan virus Corona mulai muncul sekitar akhir bulan Desember. Dirinya mengaku kaget karena virus mematikan teesebut menyebar sangat luas dan pada akhirnya tepatnya tanggal 23 Januari 2020 akses masuk dan keluar dari Kota Wuhan resmi ditutup.

"Kebetulan itu sudah mau masuk UAS. Jadi bulan Januari ini adalah libur semester. Saya pulang ke Indonesia tanggal 7 Januari. Saat itu keadaan kota Wuhan masih normal. Saya juga naik MRT menuju Bandara, tidak banyak warga yang menggunakan masker. Saya pun juga tidak pakai masker, karena memang saat itu virus ini masih temuan kecil," terang Yovandra.

Kendati demikian, Yovandra menyebut, sebelum dia berangkat ke Indonesia ada kabar dari salah seorang teman sebayanya memberitahukan bahwa nanti ketika tiba di Indonesia akan ada penjagaan ketat, seperti melakukan cek kesehatan oleh petugas. Namun saat di Bandara tidak ada pemeriksaan khusus bagi dirinya dan rombongan PPI Dunia Mengadi yang datang dari Wuhan.

"Saya ke Indonesia biaya sendiri, sama sekali tidak merasa khawatir saat itu karena saya berhasil keluar dari Wuhan saat virus tersebut belum meluas. Saya kurang tau pasti ya, tapi kayaknya mahasiswa asal Sumbar yang berkuliah di Wuhan kurang dari 10 orang. Kalau secara keseluruhan jumlah mahasiswa Indonesia di Wuhan ada 428 orang," ulas Yovandra.

Terakhir, Yovandra berharap pemerintah menjamin kesehatan dan pasokan makanan untuk mahasiswa Indonesia yang masih tertahan di Kota Wuhan, serta berusaha untuk memulangkan segera WNI yang masih tertahan di sana.

"Kalau di Wuhan saya tinggal di Dormitory International Student kampus. Barus selesai semester 1 untuk program Master. Saya berharap pemerintah Indonesia menjamin kesehatan WNI dan mahasiswa Indonesia yang masi terjebak di Wuhan," tukasnya. (*)

Reporter : Milna /  Editor : Milna
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]