Kondisi Terkini Mahasiswa Minang di Wuhan : Sampai Kapan Kami Bisa Bertahan?


Rabu, 29 Januari 2020 - 20:07:23 WIB
Kondisi Terkini Mahasiswa Minang di Wuhan : Sampai Kapan Kami Bisa Bertahan? Muhammad Habiburrahman, mahasiswa Hubei Polytecnic University asal Kota Padang Panjang, Provinsi Sumbar foto bersama kawan-kawan seperjuangannya saat berada di China.

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Pada 23 Januari 2020 lalu, Pemerintah Kota Wuhan di Provinsi Hubei mengisolasi daerahnya. Namun, sejumlah mahasiswa Indonesia masih memilih bertahan di kota yang pertama kali muncul virus Corona itu. Salah satunya Muhammad Habiburrahman, mahasiswa Hubei Polytecnic University asal Kota Padang Panjang, Provinsi Sumbar.

Sebagai mahasiswa Indonesia yang masih bertahan di Hubei, Muhammad Habiburrahman mengapersiasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China yang sangat sigap memantau kondisi mahasiswa Indonesia yang ada di daerah itu.

Selain itu, kata pria 22 tahun ini, KBRI juga melakukan rapat online dengan para ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok dari setiap kota yang di tempati oleh mahasiswa Indonesia di Hubei. Sebagai langkah awal, saat ini KBRI sudah memberikan bantuan berupa dana yang dikirimkan kepada Ketua PPI yang disebar setiap penempatan mahasiswa.

"Saat terjadinya penyebaran virus, pihak KBRI mulai mendata dan list seluruh mahasiswa yang ada di provinsi hubei. Setiap harinya KBRI selalu memantau mahasiswa Indonesia yang ada di provinsi Hubei. Mereka sangat sigap," kata Habib saat dihubungi HarianHaluan.com, Rabu (29/1/2020).

Habib membeberkan bahwa Pemerintah China menyarankan untuk memperbanyak kegiatan di dalam ruangan. Alasan Wuhan diisolasi supaya virus Corona tidak menyebar luas ke kota-kota lain. Dalam artian tidak adanya akses keluar dan masuk kota tersebut. Seperti, transportasi darat, bus, kereta dan subway hingga transportasi udara diberhentikan sementara.

Begitu juga toko-toko juga banyak yang tutup. Namun masih ada beberapa yang buka meski harga sembako dan barang-barang kali ini sedikit relatif mahal di akibatkan kejadian ini.

"Alhamdulillah hingga saat ini kami baik-baik saja, namun kondisi di Wuhannya sendiri sekarang lagi di isolasi, jadi lebih banyak beraktifitas di dalam ruangan. Kita juga tidak dilarang untuk keluar dari asrama untuk berbelanja," ulas Habib.

Kendati demikian, Habib menuturkan, bahwa para mahasiswa di Wuhan masih diperbolehkan keluar untuk membeli peralatan dan kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan sepeda motor atau kendaraan pribadi. Dia pun membantah Wuhan seperti 'Zombie Land', hanya saja memang kondisi saat ini terbilang sepi.

"Gak seperti Zombie Land juga, sekarang Wuhan sepi juga diakibatkan beberapa hal, seperti bertepatan dengan hari libur semester, dan liburan Imlek. Dimana setiap perayaan Imlek orang-orang China lebih banyak mengahabiskan waktu bersama keluarga didalam rumah," jelas pria yang terlahir dari pasangan berdarah Minang itu.

Meski hingga saat ini, Habib menyampaikan keadaan di Wuhan tidak kondusif namun Pemerintah China cepat tanggap dalam penanganan masalah tersebut. Ini terbukti dari pengiriman 6.000 lebih tenaga kesehatan dari berbagai daerah China ke Wuhan, dan membangunan rumah sakit khusus untuk menampung para pasien.

"Kondisi di Wuhan memang lagi tidak kondusif, namun tidak semengerikan dengan apa yang ada dalam berita-berita. Bahkan Perdana Menteri China juga langsung datang ke Wuhan untuk mensupport keadaan di sana," ungkap pria 22 tahun itu.

Habib juga menyampaikan, mahasiswa Indonesia di Kota Wuhan, Provinsi Hubei dalam kondisi sehat. Hingga saat ini belum ada yang terdeteksi paparan virus Corona. Karena setiap hari KBRI terus memantau keadaan mahasiswa Indonesin. Hanya saja dirinya tidak bisa memprediksi kondisi ini akan bertahan sampai berapa lama.

"Kami tidak tahu kondisi akan bertahan sampai kapan sehingga harus stay di Hubei. Jadi mahasiswa Indonesia di Hubei berharap ada langkah lebih dari pemerintahan Indonesia untuk menangani masalah ini, dan kita mohon do'a dari teman-teman dan saudara setanah air kita," harapnya.

Saat ini pria yang akrab disapa Habib ini tengah menempuh program pendidikan S1 di Hubei Polytecnic University, Kota Huangshi, Provinsi Hubei. Sekitar 224 orang mahasiswa WNI berada di sana. Mereka tersebar di 7 kota yang berbeda. Sementara di Wuhan nya, ada sekitar 93 mahasiswa yang masih bertahan disana.

"Untuk orang Sumbar sepengetahuan saya di Hubei ada sekitar 13 orang dan di Wuhan empat orang. Namun sekarang yang lagi stay di Hubei totalnya ada tiga orang, yang lainya pada liburan di Indonesia, berhubungan sekarang dalam rangka liburan semester," imbuhnya.

Terakir, Habib membantah bahwa Pemerintah China melarang mahasiswa Indonesia keluar asrama, bukan. Mereka hanya disarankan untuk tidak beraktifitas di luar supaya tidak terpapar virus corona. Jika hendak keluar disarankan untuk memakai masker, serta yang paling penting menjaga kebersihan dengan cara menjaga kesehatan tubuh, dengan berolahraga kecil dan mengkonsumsi vitamin.

"Tidak ada larangan, berita banyak yang bilang kita dilarang keluar asrama, itu bohong. Jika mau keluar masih bisa kok tapi pakai masker ya, dan jangan lupa sering-sering cuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, jangan lupa cuci baju yang sudah kotor, jangan makan daging yang mentah, masak properly supaya terhindar dari virus corona," tukasnya. (*)

Reporter : Milna /  Editor : Milna

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]