Kasus Gizi Buruk Menurun di Kota Padang


Selasa, 04 Februari 2020 - 11:06:08 WIB
Kasus Gizi Buruk Menurun di Kota Padang Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat terdapat 59 kasus gizi buruk yang terjadi di Kota Bingkuang ini selama tahun 2019 silam. Namun, angka tersebut cenderung menurun dalam kurun waktu tahun 2017 hingga 2018.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Padang, kasus gizi buruk tahun 2018 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 61 kasus ditahun 2017, dan 60 kasus pada tahun 2018.

"Jumlah kasus gizi 2019 ada 59 tapi sudah tertangani. Artinya dia tidak lagi berada pada gizi buruk, sudah jatuh ke gizi sedang. Tapi masih ada 5 dan 6 anak yang masih status gizi buruk dengan penyakit penyerta," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, dr. Feri Mulayni Hamid, baru-baru ini.

Masalah gizi buruk, menurut dr. Feri, sulit teratasi karena dibarengi dengan penyakit penyerta. Salah satu yang mempersulit pemulihan gizi buruk yaitu TB (tuberkulosis). Ini tidak cukup dengan pemberian makanan tambahan, penderita gizi buruk yang disertai TB perlu mendapat intervensi dalam bentuk pengobatan.

"Sebetulnya di Kota Padang bukan lah lokasi yang banyak ditemukan gizi buruk (locus stunting), karena yang menjadi locus stunting itu adalah Solok Selatam dan Pasaman," ujar dr. Feri.

Di Kota Padang terdapat dua puskesmas yang bisa melakukan rawat inap kepada penderita gizi buruk, yakni di Puskesmas Nanggalo dan Puskesmas Bungus. Jila tidak bisa ditangani di puskesmas atau komplikasi, kata dr. Feri, akan diberikan rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Maka dari itu, dr. Feri berharap anak-anak di kota Padang tumbuh dengan postur tubuh yang sempurna miliki tinggi yang ideal. Tentu ini perlu dorongan dari berbagai pihak yakni dengan cara memberikan makanan yang baik dari bayi hingga mereka beranjak remeja.

"Karena kalau kita berbicara locus stunting sama dengan berbicara HIV, itu sudah pada hilirnya karena hulunya ada pada remaja putri dan ibu hamil," ulas dr. Feri.

Ketika banyak ditemukan stunting, kata dr. Feri, pihaknya berupaya melakukan perbaikan terlebih dahulu kepada ibu hamil. Karena pada periode 1.000 hari kehidupan itu mulai dari melahirkan sampai usia dua tahun sangat mempengaruhi tumbuh kembang pada anak.

"Ketika kita ketemu stunting pada usia empat sampai lima tahun. Walaupun kita genjot dari luar naiknya (pemberian tablet) tidak akan banyak pengaruhnya," sebut dr. Feri.

Saat ini sebut dr. Feri, DKK memiliki sebuah program pencegahan stunting. Yakni, dengan pemberian tablet tambah darah bagi semua remaja putri. Oleh karena itu, dr. Feri berharap kepada orang tua yang mempunyai anak ditingkat SMP harus dingatkan untuk diminum tabletnya di rumahnya.

"Remaja putri harus minum satu tablet per minggu. Kalau anemia setiap menstruasi maka ditambah satu tablet. Artimya akan diminum 11 tablet selama sebulan untuk remaja putri," jelas dr. Feri.

Sedangkan untuk ibu hamil, sambung dr. Feri, jika kasusnya bertemu ibu hamil kekurangan kronis akan diberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Tujuannya, agar pertumbuhan bayi mereka sempurna, namun juga tetap diberikan tablet tambah darah selama 9 bulan dan vitamin A. (*)

Reporter : MILNA /  Editor : Milna
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]