Hama  Burung Pipit Mengganas, Petani di Pasaman Menjerit!


Rabu, 05 Februari 2020 - 21:59:30 WIB
Hama  Burung Pipit Mengganas, Petani di Pasaman Menjerit! Hamparan lahan persawahan Nagari Sitombol Padang Galugua, Kecamatan Padang Gelugur, saat ini lahan persawahan seluas 25 hektare lebih itu, terancam mengalami penurunan hasil panen akibat hama burung yang menyerang lahan milik petani setempat. Foto: dok HarianHaluan.com

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM - Ratusan petani di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, mengeluhkan gangguan hama burung jenis pipit pemakan padi (spesies Lonchura punctulata dari family Estrildidae) yang populasinya tercatat meningkat dari musim panen sebelumnya di daerah itu.
     
"Jumlah kawanan burung yang datang ke areal persawahan kami sangat banyak, melebihi dari yang pernah terjadi sebelumnya, padahal kami sudah melakukan upaya antisipasi untuk menahan laju potensi kerugian yang mungkin terjadi akibat berkurangnya hasil panen," kata salah seorang petani asal Nagari Sitombol, Kecamatan Padang Gelugur, P Harahap (51 tahun), Rabu(05/02).

     Menurutnya, upaya yang dilakukan tersebut antara lain memasang jaring pengaman yang menutupi seluruh lahan yang ada, memasang alat pengusir burung sederhana berupa orang-orangan sawah dan menjerat burung-burung tersebut dengan benang yang sudah dilumuri perekat khusus.

     Namun, lanjutnya, upaya tersebut tidak maksimal hasilnya sehingga hamparan sawah di lokasi tersebut yang mencapai luasan 25 hektare persegi, hampir dipastikan akan mengalami penurunan hasil panen nantinya.

     "Prilaku burung-burung tersebut lebih beringas dari sebelumnya, apapun antisipasi yang dilakukan seolah-olah bisa mereka atasi dan tidak menjadi halangan bagi mereka memakan hasil pertanian kami," sesalnya.

     Senada, salah seorang petani lainnya, Rahmat (45 tahun), menambahkan gangguan hama burung bukanlah satu-satunya tantangan yang harus mereka hadapi, gangguan hama tikus dan jenis hama lainnya juga acap mengintai.

     "Kondisi tersebut akan semakin parah ketika musim panen tiba, harga jual ditingkat petani rendah sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk bercocok tanam semakin meningkat akibat peristiwa kelangkaan pupuk, meminjam modal usaha dengan bunga tinggi dan iklim yang kadang - kadang tidak mendukung fase bercocok tanam," ungkapnya.

     Ia mengatakan, kondisi tersebut mungkin belum terlalu berpengaruh bagi para pemilik lahan yang luas dan modal yang cukup, namun bagi petani penggarap seperti mereka kondisi tersebut tentu sangat membahayakan kelangsungan hidup mereka dan keluarga.

     "Kami merindukan adanya keberpihakan pihak pemerintah melalui institusi terkait dalam mengatasi kesulitan kami, karena masalah pertanian itu tidak bisa selesai hanya dengan infrastruktur dan fasilitas fisik pendukung lain," harapnya.

     Sebelumnya, Wakil Bupati Pasaman, Atos Pratama mengatakan, mengatakan saat ini Kabupaten Pasaman menjadikan sektor pertanian sebagai sektor yang harus menjadi perhatian serius dan prioritas. Karena sebagian besar penduduknya sangat bergantung pada sektor ini.

     "Masyarakat Pasaman sangat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perikanan. Sekitar 70 persen PDRB Kabupaten Pasaman berasal dari sektor ini," katanya, Senin (23/12/2019).(Rully)

Reporter : RULLY FIRMANSYAH /  Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]