Gempa Bangkalan 6,3 M Dini Hari Tadi, Begini Hasil Analisis BMKG


Kamis, 06 Februari 2020 - 10:54:44 WIB
Gempa Bangkalan 6,3 M Dini Hari Tadi,  Begini  Hasil Analisis BMKG Pusat gempa Bangkalan 6,3 M. (BMKG)

PADANG,HARIANHALUAN.COM-- Gempa bumi berkekuatan 6,3 Magnitudo  goyang  Bangkalan Jawa Timur.  Gempa  berpusat di laut,  namun  tidak berpotensi Tsunami. Gempa terjadi pada Kamis (6/2/2020) pukul 01:12 WIB.


Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa dalam ini memiliki magnitudo  M=6,3 dengan episenter terletak pada koordinat 6,43 LS dan 113,04 BT tepatnya di Laut Jawa pada jarak 76 kilometer (km) arah timur laut Bangkalan, Madura, Jawa Timur dengan kedalaman 641 km.


Spektrum guncangan gempa ini dilaporkan dirasakan di wilayah yang sangat luas, seperti Bangkalan, Trenggalek, Pacitan, Yogyakarta, Kebumen, Cilacap, Pangandaran, Kuta, dan Kuta Selatan dalam skala intensitas II-III MMI.

"Beberapa warga yang sedang tidak tidur tentu merasa terkejut karena merasakan guncangan yang terjadi secara tiba-tiba. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa dan hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangan persnya Kamis (6/2/2020).

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dalam, akibat adanya deformasi slab Lempeng Indo-Australia di kedalaman lebih dari 600 km. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault).  

"Gempa dalam dengan hiposenter melebihi 300 km di Laut Jawa merupakan fenomena menarik karena jarang terjadi," ujarnya 

Secara tektonik, zona Laut Jawa terletak di zona tumbukan lempeng yang memiliki keunikan tersendiri. Sebab, di zona tersebut, Lempeng Indo-Australia menunjam dengan lereng yang menukik curam ke bawah Lempeng Eurasia hingga di kedalaman sekitar 625 km.

Jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempa Laut Jawa ini terjadi karena dipengaruhi gaya tarikan slab lempeng ke arah bawah (slab-pull). Karenanya, sudah sangat tepat jika hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa mekanisme sumber gempa ini berupa penyesaran turun.

"Dalam peristiwa itu, gaya tarikan lempeng ke bawah tampak lebih dominan. Dominasi gaya tarik lempeng ke bawah itulah yang memicu terjadinya gempa "deep fokus" di Laut Jawa pagi dini hari tadi," paparnya.

Di wilayah Indonesia, gempa dengan hiposenter dalam banyak terjadi di Laut Jawa dan Laut Flores. BMKG mencatat sejak 2016 di wilayah ini paling tidak sudah terjadi lebih dari tujuh kali gempa dalam, sebagai berikut:

1. 24 Agustus 2016 magnitudo 6,1 berpusat di Laut Flores pada kedalaman 537 km.

2. 19 Oktober 2016 magnitudo 6,3 berpusat di Laut Jawa pada kedalaman 615 km.

3. 5 Desember 2016 magnitudo 6,1 berpusat di Laut Flores pada kedalaman 517 km.

4. 24 Oktober 2017 magnitudo 6,4 berpusat di Laut Flores-Banda pada kedalaman 557 km.

5. 23 Juni 2018 magnitudo 5,3 berpusat di Laut Jawa pada kedalaman 662 km.

6. 7 April 2019 magnitudo 6,3 berpusat di Laut Flores-Banda pada kedalaman 545 km.

7. 19 Oktober 2019 magnitudo 6,1 berpusat di Laut Jawa pada kedalaman 623 km.

"Masih aktifnya deep focus earthquake di Laut Jawa dan Laut Flores merupakan bukti bahwa proses subduksi dalam di utara Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil (NTB-NTT) hingga kini masih berlangsung," paparnya. (dn/bmkg)

 Sumber : BMKG /  Editor : Dodi
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]