Luas Hutan Terbakar Tiap Tahun Bertambah, Presiden Jokowi Heran


Kamis, 06 Februari 2020 - 13:20:57 WIB
Luas Hutan Terbakar Tiap Tahun Bertambah, Presiden Jokowi Heran Presiden Joko Widodo (Foto: Biro Pers Setpres RI/Muchlis)

JAKARTA,HARIANHALUAN.COM- Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) heran luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tiap tahun terus bertambah. Padahal, sejumlah tindakan tegas telah diterapkan bagi pejabat TNI-Polri di daerah yang gagap menangani bencana itu.

Jokowi mengungkapkan hal tersebut saat memberi arahan di acara rapat koordinasi nasional (rakornas) pengendalian karhutla 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Dia mengatakan, ketika baru menjabat sebagai Presiden pada 2015, dirinya dihadapkan dengan peristiwa karhutla yang sangat besar. Luas wilayah yang dilalap api 2,5 juta hektare yang terdiri dari lahan gambut maupun hutan.

"Tapi begitu 2016 kita berkumpul, 2017 turun ini terkecil menjadi 150 ribu hektare yang terbakar dari sebelumnya 2,5 juta hektare," ucapnya.

Setelah berhasil turun di 2017, luas karhutla di 2018 kembali bertambah menjadi 590 hektare. Kemudian di 2019 naik lagi luas lahan yang terbakar. Jokowi heran dengan peningkatan tersebut padahal sudah memberi tindakan tegas kepada pejabat TNI-Polri yang gagap menangani karhutla di daerah.

"Tapi 2018 naik lagi menjadi 590 ribu hektare. Ini ada apa? Sudah bagus-bagus 150 kok naik lagi. 2019 naik lagi jadi 1,5 ini apa lagi? Apa kurang yang dicopot? Apa kurang persiapan?" kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

"Kita tidak ingin seperti kebakaran di Rusia mencapai 10 juta (hektare). Di Brazil 4,5 juta, Bolivia 1,8 juta, Kanada 1,8 juta. Dan terakhir kebakaran besar terjadi di Australia. Kalau informnasi yang saya terima sebulan lalu 6 juta tapi terakhir tadi pagi tadi saya cek sudah 11 juta hektare," terang Jokowi.

Luas lahan yang terbakar disebut telah menghancurkan habitat flora dan fauna. Dengan demikian, peristiwa karhutla dapat menghancurkan kekayaan alam yang tidak bisa dihitung dengan rupiah.

"Ada 500 juta satwa yang mati karena kabakaran di sana (Australia). Berarti kehilangan plasma nutfah, baik flora dan fauna. Ini yang kita tidak mau. Itu kekayaan yang tak bisa dihitung dengan nilai uang," tutupnya.(okz)

 Sumber : Okezone.com /  Editor : Dodi
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]