Mewujudkan Kampung Lalat 'Tentara Hitam' di Kota Solok


Kamis, 06 Februari 2020 - 17:43:28 WIB
Mewujudkan Kampung Lalat 'Tentara Hitam' di Kota Solok Gushendri (29) dan Sarmilon (39) memperliatkan belatung (maggot) yang dibudidayakannya di Desa Sawah Rimbo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, Senin (3/2). Belatung ini berasal dari lalat yang bersifat pathogen atau tidak membawa agen penyakit. RIVO SEPTI ANDRIES


Oleh: Rivo Septi Andries

KOTA SOLOK, HARIANHALUAN.COM - Dalam kehidupan sosial, pemuda mempunyai peran penting dalam perubahan, dan pembangunan. Di era milenial ini, mereka dituntut berpacu menampilkan ide, dan gagasan, terutama untuk mengembangkan daerahnya.

Hal ini yang menjadi pedoman bagi Gushendri (29), untuk menjadikan kampungnya di Desa Sawah Rimbo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, mandiri dan mempunyai lingkungan barbasis pengolahan limbah.

Bermodalkan semangat yang tinggi, serta pemanfaatan media sosial, ia menemukan ide untuk mengembangkan belatung atau yang disebut dengan maggot. Belatung ini berasal dari telur lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam dalam bahasa latin dikenal dengan nama Hermetia illucen. 

Bagi sebagian orang melihatnya belatung dan lalat mungkin merasa geli dan jijik. Namun, di tangan pria yang disapa Hendri ini, hewan pemakan buah itu justru “dimanja”agar terus berkembang. 

Lalat tentara hitam ini berbeda dengan lalat lainnya. Dari sekitar 800 jenis lalat yang ada, tentara hitam tidak membawa agen penyakit, atau bersifat patogen.

Budidaya lalat yang ditekuni Hendri ini berawal ketika ia melihat para petani atau peternak di kampungnya itu banyak gulung tikar karena faktor biaya pakan, serta banyaknya limbah organik yang terbuang sia-sia.

Pria dengan satu orang anak ini lalu mencari referensi dari berbagai sumber untuk mewujudkan idenya tersebut. Pucuk dicinta ulam tiba, ia pun menemukan cara budidaya dan berhasil mengambangkan hewan bersayap itu.

“Ini kegelisahan saya, dimana para peternak hampir di seluruh Indonesia yang selalu mengeluhkan pakan ternak semakin hari semakin mahal. Dari situ muncul mencari referensi lalu ketemulah ide mengembangkan ini.  Saya cari referensi di youtube, lalu saya juga punya teman dan saya belajar,” ucapnya.

Ia menjelaskan, lalat tentara hitam secara fisik berbeda dengan lalat biasa. Tubuhnya hitam dan sedikit panjang seperti lebah. Dari segi makanan, maggot memakan buah buahan dan sayur sayuran (organik).

Sementara lalatnya (indukan) justru tidak makan, ia hanya minum air yang sudah dicampur dengan madu. Lalat ini hanya memproduksi telur (belatung). Setelah bertelur lalat ini mati. Selanjutnya belatung inilah yang dijadikan pakan ternak. 

“Proses dari telur hingga menjadi lalat memakan waktu 45 hari. Setelah lalat ini bertelur ia akan mati. Jadi lalat ini ia hanya memproduki telur saja, lalu telur itu menjadi belatung. Satu gram telur bisa meghasilkan minimal dua kilo belatung. Dan ia akan terus bertelur jadi siklusnya tak pernah putus. Maggot ini kaya protein bagus buat ternak ayam, itik, bebek dan ikan,” ucapnya.

Hendri menjelaskan, para peternak yang memakai pakan dari belatung ini bisa menghemat 30 persen. Saat ini disampaikannya, satu karung pakan ternak seberat 50 kilo dibeli seharga Rp250 ribu, sehari peternak bisa mengahiskan 20 kilo pelet. 

Harga itu dan kebutuhan pakan, mengakibatkan peternak mengalami kesusahan untuk membiayai ternaknya.
Dengan menggunakan belatung tersebut, ia tak lagi mengeluarkan biaya yang tinggi. Bahkan dapat membantu masyarakat dari segi pengolahan limbah.

Limbah Rumah Tangga
Ia mengungkapkan, setiap rumah menghasilkan limbah, baik berupa bekas kulit buah, atau pun sayur mayur. Limbah itu dikumpulkan masing-masing rumah dengan menghasilkan 2 hingga 20 kilo selama beberapa waktu. Balatung tersebut mampu menghabiskan makanan (limbah organic) selama 18 hari.

“Harapan saya kampung ini menjadi kampung percontohan(lalat). Dimana setiap warganya membudidayakannya. Minimal, untuk beli pakan ternak mereka tak lagi mengeluarkan biaya besar,” kata Hen. 

Untuk menarik minat warga ia bertekat untuk memperlihatkan prospek lalat tersebut sampai berhasil dan terlihat oleh banyak orang.

Budidaya lalat itu dikatakannya sudah ia mulai sejak sebulan yang lalu. Ia memulai dari kandang yang kecil dan kini mulai bekembang sedikit lebih besar meski kandang itu masing terbuat dari bahan bekas.

Kandang yang ia buat ditutup pakai jaring dan terpal. Di dalamnya tergantung daun pisang yang sudah kering dengan posisi digantung sebagai sarana bermain dan bekembangbiaknya lalat.
 
Untuk minum lalat, sengaja digantung satu botol air yang sudah bercampur madu. Lalu di lantai kandang ada kotak berisi buah-buahan yang sudah membusuk sebagai makanan si belatung. Untuk pembuahan, si lalat dibuatkan papan sebagai tempat bertelur. Pengembangan lalat tentara hitam dinilai tidak rumit dan tidak mudah terserang penyakit.

“Lalat ini tahan terhadap cuaca. Yang penting aman di dalam kandang, sehinga tidak ada predator yang memakannya,” ucapnya.

Ide dan gagasan Hendri disambut baik oleh Ketua RT setempat, Sarmilon (39). Bahkan RT yang juga bekerja di Dinas Kebersihan itu pun turun lansung mencarikan makanan untuk belatung.

“Ide si Hendri ini banyak. Saya terpacu untuk ikut membangun ini, kenapa? Karena ini sangat membabtu warga, dimulai dari lingkungan yang jadi lebih bersih. Saya tahu karena saya bekerja di kebersihan kota, jadi saya lihat sampah-sampah organik itu terbuang percuma,” tuturnya.

Hal itu membuat Sarmilon bertambah semangat untuk mengajak warga desanya yang berisi sekitar 180 kepala keluarga itu berpatispasi mengumpulkan sampah organik. Kompensasinyanya, setiap rumah akan diberi belatung untuk dikembangbiakkan sendiri di rumahnya.

“Saat ini sudah ada lima orang pemuda yang bergabung dalam budidaya ini,” kata Sarmilon. 

Adanya budidaya itu tentunya menjadi proses pengolahan limbah organik partisipatif yang berguna bagi masyarakat. Selain dapat mengurangi biaya tambahan, warga pun dapat hidup sehat di lingkungan yang bersih.

Namun, keinginan Hendri dan Sarmilon belum maksimal karena masih adanya kekurangan terutama untuk mesin pencacah sampah serta tempat sampah organik untuk warga, seperti halnya tempat sampah yang berada di fasilitas umum milik Pemko Solok.(*)
 

Reporter : Rivo Septi Andries /  Editor : NOVA
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]