7 Tahun jadi Aktivis Kemanusiaan, Dana Kurnia : Saya Langsung Ingat Tuhan saat ke Lokasi Bencana Ini!


Sabtu, 22 Februari 2020 - 17:25:43 WIB
7 Tahun jadi Aktivis Kemanusiaan, Dana Kurnia : Saya Langsung Ingat Tuhan saat ke Lokasi Bencana Ini! Dana Kurnia saat berfoto bersama Aktor Fauzi Baadilla, disela-sela kegiatan kerelawanan. Foto/Yesi

Sejak mulai terjun didunia kerelawanan 2013 lalu, Dana Kurnia merasakan banyak sekali perjalanan spiritual dan religiusitas yang memberikan banyak arti bagi kehidupannya. Berbagai perjalanan ke tempat bencana, baik di Sumbar maupun di berbagai daerah di Indonesia membawanya pada rasa syukur dan perubahan cara pandang tentang kehidupan. Lalu bagaimana kisah menarik yang dilalui Dana selama menjadi aktivis kemanusiaan. Berikut wawancara khusus wartawan Harianhaluan.com dengan alumni Fisip Universitas Andalas itu.

Oleh : Yesi Swita

Tak banyak jiwa yang terpanggil menjadi aktivis kemanusian yang selalu siaga saat ada bencana. Kami mewakili pembaca harian haluan mengapresiasi langkah Anda untuk menjadi bagian dari aktivis kemanusiaan itu.

Bagaimana awal mula ketertarikan Anda pada dunia kemanusiaan ini?

Awalnya dulu di tahun 2013, sewaktu masih kuliah, semenjak organisasi di BEM KM UNAND. Memang dimasa itu ingin sekali menjadi relawan bencana, walaupun sempat dilarang orang tua, tapi alhamdulillah ada saja kemudahan di jalan ini. Awalnya ditawari di salah satu lembaga (Dompet Dhuafa) bekerja sebagai Surveyor Mustahik, hingga saya merasakan kenyamanan dalam lingkungan ini. Lingkungan yang membuat saya benar-benar merasa tenang. Hingga sekarang berada di ACT Sumatera Barat.

Apa hal yang paling bermakna selama menjadi aktivis kemanusiaan?

Saya bertemu dengan orang-orang yang membuat saya senantiasa bersyukur, saya sekarang benar-benar paham arti memberi dengan ikhlas. Menghadapi psikologis dari pada mustahik dan korban bencana. Dan Alhamdulillah saya mencintai pekerjaan kemanusiaan ini. Dari sini saya selalu banyak belajar bahwasanya membuat orang tersenyum adalah suatu kebahagiaan tersendiri dalam batin ini.

Selama jadi aktivis kemanusiaan, Anda sudah turun ke lokasi bencana mana saja?

Selama jadi aktivis kemanusiaan ini selain terjun di bencana lokal yang terjadi di Sumatera Barat, termasuk Mentawai, pernah juga diterjunkan sewaktu Gempa, Tsunami dan Likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala.

Dari semua perjalanan ke tempat terjadinya bencana, perjalanan ke daerah mana yang paling berkesan?

Pengalaman yang paling berkesan itu ya sewaktu di Palu yang mengalami Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi. Disana tidak hanya datang memberikan bantuan namun itu adalah perjalanan spiritual dan religius bagi saya. Karena begitu banyak hal-hal yang tidak saya duga dan diluar dari logika saya dan teman-teman yang langsung meninjau ke lokasi. Allah benar-benar memperlihatkan kekuasaan-Nya. Di sana saya bisa melihat bagaimana seluruh rumah habis masuk ke tanah di pusat Likuifaksi, akan tetapi sebuah Masjid yang berada di pelabuhan tidak tersentuh oleh Tsunami, padahal disekelilingnya habis diterjang Tsunami. Saya benar-benar merinding saat mengingat kembali suasana itu.

Disana juga, saya dipertemukan dengan seorang anak yang terombang ambing dilaut selama 3 hari namun berkat pertolongan Allah diapun selamat. Begitu sangat menggugah hati dan air mata. Allah benr-benar memperlihatkan kekuasaan-Nya disana. Saya takjub

Apa suka duka yang Anda rasakan saat bergelut di bidang kemanusiaan ini?

Lebih banyak sukanya daripada dukanya. Sukanya saya bisa lebih banyak mengenal karakter manusia yang saya temui. Banyak kisah yang ditemui di lapangan. Hanya ungkapan rasa syukur yang bisa diucapkan, hal ini dikarenakan masih banyaknya saudara-saudara kita yang sangat lebih membutuhkan. Seharusnya kita lebih banyak bersyukur, namun apa yang terjadi pada diri kita lebih banyak kufur nikmatnya. Makanya kadang melihat kisah mereka membuat diri ini selalu bermuhasabah diri.

Awalnya anda sempat tidak disetujui keluarga untuk menjadi aktivis kemanusiaan, sekarang bagaimana respon keluarga, saat anda menjadikan kemanusiaan ini pilihan hidup?

Awalnya dulu tidak diperbolehkan sama orang tua karena ada ketakutan tersendiri dari orang tua, kita harus turun saat bencana atau saat situasi di tempat tersebut masih belum stabil dan belum aman. Namun dengan berjalan waktu Alhamdulillah berkat izin Allah orang tua dapat menerima apa yang saya kerjakan hari ini.

Ada keinginan yang belum tersampaikan dalam misi anda menjadi aktivis kemanuisaan ini?

Harapan saya, saya punya ingin sekolah kemanusiaan yang mana menampung anak-anak jalanan yang saat ini masih banyak disekitaran kita yang dibiarkan berkeliaran. Mereka disekolahkan sesuai dengan keinginan dan kreativiatas mereka dan tetap memupuk sisi-sisi religius didalam diri mereka. (**)

Reporter : Yesi Swita | Editor : Milna
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]