Tak Tinggal Diam, Pemerintah Beri Efek Jera pada Pelaku Bullying


Senin, 24 Februari 2020 - 11:25:19 WIB
Tak Tinggal Diam, Pemerintah Beri Efek Jera pada Pelaku Bullying Foto/Suara.com

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Dewasa ini aksi perundungan atau yang sering disebut dengan istilah bullying baik berbentuk kekerasan fisik ataupun psikis marak terjadi di lingkungan sekolah. Salah satu contoh kasus bullying fisik di sekolah menimpa seorang siswa kelas VII di SMPN 38 Pekanbaru, Riau berinisial FA.

Beberapa waktu lalu pada November 2019 ia menjadi korban bully fisik oleh teman sekelasnya. FA mengalami babak belur dan hidung patah akibat kepalanya dipukul dan dibenturkan dengan kayu oleh pelaku yang merupakan teman sekelasnya. Perlakuan tidak mengenakkan itu terjadi di dalam kelas dan tengah berlangsung kegiatan belajar mengajar.

Guru yang sedang mengajar dalam kelas tersebut pun diketahui tidak acuh dengan kejadian yang terjadi di kelasnya.

Kasus bullying antar murid di lingkungan sekolah memang seolah tak ada habis-habisnya. Menurut Deputi Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Ghafur Dharma Putra aksi kekerasan dan penindasan antar murid di sekolah kemungkin terjadi karena murid meniru adegan kekerasan yang mereka amati di lingkungan ataupun di dunia maya.

Murid yang masih kanak-kanak, menurut Gafur, belum sepenuhnya mengetahui bahaya tindakan yang dilakukan. Sehingga menurutnya perlu ada sistem yang diterapkan sekolah untuk mencegah dan menghentikan kasus tersebut.

“Jadi kalau sistemnya sudah ada, bahwa anak itu harus memiliki katakanlah rambu perilaku dalam bergaul, ada guru yang mengawasi, dan ada peran teman untuk berempati. Begitu melihat adanya kasus seperti itu bukannya mensoraki. Dengan demikian ada suatu upaya untuk mengakhiri kasus bullying itu,” kata Ghafur, dikutip dari laman resmi Kemenko PMK, Senin (24/2/2020).

Nyatanya, saat ini pemerintah sudah membuat aturan untuk mencegah aksi kekerasan di sekolah sekolah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Pemerintah juga telah menggulirkan program Sekolah Ramah Anak.

Namun tetap saja kasus-kasus kekerasan terus terjadi. Hal tersebut salah satunya dikarenakan belum banyak sekolah yang memahami berbagai peraturan yang dibuat pemerintah untuk mencegah kekerasan di lingkungan sekolah.

Menurut Ghafur, banyaknya kasus tersebut menjadi tantangan pemerintah untuk menyiapkan dan mensosialisasikan peraturan pencegahan kekerasan anak yang lebih tegas. Ghafur menjelaskan seluruh pihak tidak hanya peran guru dan sekolah, tetapi orang tua dan masyarakat perlu memhami bahwa kasus kekerasan di sekolah adalah hal yang buruk dan kesemuanya perlu bersinergi untuk mencegah kekerasan-kekerasan terjadi.

“Ketika sudah ada aturannya sekolah harus mengerti apa yang harus dilakukan. Tadi satgas pencegahan satgas penanganan semuanya. Dan semua ini (sekolah, orang tua, masyarakat) harus terlibat. Saya percaya kita harus punya sistem seperti alarm alarm kebakaran, mencontoh Malaysia, ketika ada panic button semua orang bisa memencet, Jadi menurut saya kalau sistem ini berjalan itu akan sangat membantu,” jelasnya.

Pemerintah, kata Ghafur, tak akan tinggal diam dan akan memberikan efek jera kepada pelaku dan pihak yang terlibat dalam tindak bullying terhadap anak dalam memberikan hukuman. Hukuman yang diberikan sebagai efek jera agar pelaku tak mengulangi perbuatannya.

Selain hukuman yang tegas, menurut Ghafur yang menjadi garda terdepan dalam pencegahan kasus bullying yang menimpa anak adalah orang tua. Peran orang tua dalam memberikan nilai kebaikan, mengawasi tumbuh kembang anak, aktivitas anak di sekolah, lingkungan pertemanan anak, dan mendengarkan aspirasi anak sangat penting untuk mencegah terjadinya bullying.

“Yang terpenting adalah dialog dengan orang tua. Mereka itu (anak-anak) perlu didengar aspirasinya. Oleh karena itu orang tua harus mendengarkan anak dan selalu berdialog dengan mereka,” pungkas Ghafur. (*)

Editor : Milna | Sumber : Kemenko PMK
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]