Mulyadi: Saya Bukan yang Paling Hebat, tapi Saya akan Berikan yang Terbaik untuk Sumbar


Senin, 24 Februari 2020 - 20:45:28 WIB
Mulyadi: Saya Bukan yang Paling Hebat, tapi Saya akan Berikan yang Terbaik untuk Sumbar Mulyadi

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Pemilihan Gubernur Sumatra Barat yang akan dilakukan serentak dalam paket Pilkada 2020 menjadi ajang kontestasi dan kompetisi yang menarik.

Sejumlah kandidat bermunculan alias turun gunung untuk membangun Sumbar yang tidak hanya berwajah lokal tetapi juga berbicara di percaturan dunia internasional.

Di antara kandidat yang turun gunung itu adalah politisi Partai Demokrat, Mulyadi. Anggota DPR RI dua periode ini, merasa terpanggil untuk membangun tanah leluhurnya. Dalam istilah Mulyadi, "Kejayaan Sumbar harus kembali."

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai tekadnya bertarung dalam Pilgub 2020, Mulyadi yang datang secara khusus ke Kantor Haluan Media Group di Lantai 4 Hotel Basko Kota Padang, sempat diwawancarai Tim HMG sangat panjang dan menarik.

Berikut ini petikan wawancara selengkapnya.

Apakabar Pak?

Kabar saya alhamdulillah baik. Suasana di kantor Haluan sangat menyenangkan.

Bisa diceritakan perjalanan hidup Anda?

Memang perjuangan hidup saya samalah seperti umumnya orang Minang. Kecil di Minang setelah itu pergi merantau. Kan ada pepatah kita marantau la bujang dahulu, di umah pelunobaluan. Jadi saya lulus SMP di Agam saya berangkat ke Bandung, kemudian SMA di Bandung hingga saya juga mengenal tradisi Jawa Barat, Sunda ya. Termasuk makanan Sunda saya gemari.

Setelah itu selesai perguruan tinggi saya bekerja. Saya mengalami di Jakarta itu dulu transportasi masalnya belum memadahi. Dahulu naik bus gelantungan, saya kos di daerah Tebet. Naik bus dari Tebet ke Blok M, busnya enggak ada AC. Kita sempit-sempitan jadi saya itu dulu selesai sarjana, habis itu saya kerja di bidang teknik.

Kemudian jadi pengusaha. Bisa diceritakan prosesnya?

Setelah kerja 4 tahun relatif saya menghidupi diri sendiri berjuang sendiri setelah itu saya kuliah lagi sampai saya membuat perusahaan sendiri dan menjadi ketua asosiasi dan ikut terlibat di Kadin. Salah satu pengurus Kadin zamannya Pak Aburizal Bakrie. Zaman Pak Hidayat juga saya pernah menjadi pengurus.

Saya pengurus di pengembangan jasa konstruksi kemudian saya mulai terjun secara kebetulan ke dunia politik yaitu sekitar tahun 2006-2007.

Jadi, setelah saya punya perusahaan, saya mengembangkan bisnis saya di bidang konstruksi mulai dari yang kecil, proyek kecil kemudian bisa naik. Bahkan pekerjaan dari Bank Dunia, dari ADB dari Jepang, alhamdulillah kita bekerja dengan baik sehingga kita dipercaya. Artinya bukan kita melakukan tender pengaturan tetapi kita selalu mendapat kontrak dari Bank Dunia, ADB dan sebagainya.

Sejak itulah perusahaan kami terus berkembang. Alhamdulillah segala sesuatunya berubah dan akhirnya sampi pada titik yang saya sampaikan saya tidak pernah bercita-cita jadi politisi.

Nah, sepertinya seru awal terjun ke politik, seperti apa?

Menjadi politisi adalah sesuatu yang kebetulan saat itu ada seorang Dirut Indosat, Fahri Hartana, mengajak saya menjadi Litbang di Partai Demokrat. Beliau jadi Ketua Litbangnya saya menjadi pengurus. Di sana kita mencoba karena backround saya konsultan membuat konsep yang kita sampai kepada Ketum Demokrat yang saat itu masih Pak Hadi Utomo dan Pak SBY waktu itu adalah Presiden.

Memang saat itu saya tertarik pada figurnya Pak SBY sehingga saya bergabung ke Demokrat dan saya tidak pernah bercita-cita menjadi DPR.

Bahkan saat 2008-2009 disampaikan oleh ketum agar saya maju menjadi anggota DPR. Saya enggak bersedia. Saya ini adalah profesional, backround saya konsultan, saya lebih senang hal-hal terkait dengan profesional, politik ini kan bukan dunia saya, gitulah kira-kira waktu itu.

Tapi karena didorong terus, pada saat itu saya mau maju di daerah Sukabumi karena masih berdasarkan penentuan anggota DPR berdasarkan nomor urut, atau sistem tertutup, bukan dengan sistem suara terbanyak.

Sehingga saya mengambil yang paling terdekat Sukabumi saja. Okelah saya maju di Sukabumi tapi dalam perjalannya ternyata ada keputusan di internal kita dan keputusan keluar dari MK yang akhirnya juga mengacu suara terbanyak saya pindah ke Sumatera Barat.

Di internal kita juga ternyata ada ketentuan bahwa yang akan diprioritaskan adalah suara terbanyka walaupun UU waktu itu masih sistem semi tertutup, sistem nomor urut tapi ada ketentetuan kalau tidak tercapai 30 persen yang nomor satu itu ya tidak bisa terpilih akan diambil oleh nomor berikutnya yang perolehan suaranya banyak.


Katanya sempat nyaleg di Jawa Barat, bagaimana ceritanya?
Panjang cerita akhirnya MK menyatakan Pileg 2009 dengan sistem terbuka suara terbanyak. Saya merasa kalau saya maju di Jawa Barat walaupun bisa bahasa Sunda tetap orang akan menyampaikan Pak Mulyadi ini bukan orang Sunda. Oleh karena itu saya kembailah ke Sumatera Barat, kalau begini saya mencalonkan di Sumbar yang jelas ini adalah kampung saya sendiri. Apakah saya terpilih atau tidak saya berniat untuk memberikan bantuan atau support ke masyarakat Sumbar.

Pada 2009 saya maju menjadi anggota Legsilatif akhirnya saya terpilih menjadi DPR dari dapil Sumbar 2. Kemudian begitu saya menjadi anggota DPR rasanya memang kita sudah kecemplung ke politik mungkin juga tanpa kita sadari ternyat saya mungkin berbakat juga di politik sehingga saya terus.

Dan ketika saya menjadi anggota DPR RI saya termasuk satu-satunya orang baru yang dipercaya Pak SBY menjadi pimpinan komisi. Saat itu saya menjadi pimpinan Komisi V yang diusulkan dari Fraksi Partai Demokrat.

Biasanya yang diusulkan menjadi pimpinan komisi adalah orang-orang yang sebelumnya sudah pernah menjadi anggota DPR tapi saat itu 2009 saya baru menjadi anggota DPR saya langsung menjadi pimpinan Komisi V. Itu berdasarkan hasil dari psikotes dari Demokrat, dan sekaligus dilihat dari CV saya yang memang banyak berpengalaman dari bidang infrastruktur.

Selain infrastuktur saya juga banyak membuat konsep-konsep terkait pengembangan pemerdayaan masyarakat yang salah satunya zaman Pak SBY adalah PNPM yang sebelumnya P2KPK untuk di PU, kemudian untuk Kemendagri adalah Program Pengembangan Kecamatan kemudian disatukan sehingga dia menjadi program yang baru yaitu PNPM yang dikenal masyarakat.

Sekarang ada dana desa, bahkan ketika saya di Komisi V saya menginisiasi Peningkatan Infrastruktur Pedesaan yang sekarang setiap daerah setiap nagari itu dapat bantuan Rp250 juta itu bisa digunakan buat jalan, beton, irigasi kecil, air minum dsb. Dan 1.000 lebih jorong atau Nagari yang pernah saya perjuangkan untuk mendapatkan bantuan PPIP yang bernilai Rp250 juta dari program tersebut.

Jadi setelah saya dianggap sukses memimpin Komisi V DPR Periode 2000-2014 akhrnya yang namanya politik sudah kecemplung dan juga dianggap berbakat dan bisa melaksanakan tugas dengan baik saya mencalonkan di 2014 alhamdulillah terpilih lagi dan suara saya terbanyak di Sumatera Barat suara saya. Di dapil mencalonkan lagi 2019 terpilih lagi dengan suara terbanyak di seluruh Sumatera Barat sehingga saya berkesimpulan bahwa masyarakt Sumbar sangat menghargai kinerja seseorang baik itu politisi di legislatif maupun di eksekutif.

Saya punya kesimpulan di Sumbar kita kalau ingin menjadi pemimpin betul-betul memperhatikan apa yang inginkan oleh masyarakat dan apa yang bisa kita lakukan ke masyarakat dan apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat. Itu tidak akan pernah dilupakna oleh masyarakat Sumbar. Jadi mereka akan selalu teringat terhadapa apa yang sudah kita perbuat untuk mereka. Jadi itu akan memudahkan pemimpin ke depan apapun posisi yang akan mereka ingin raih pada tahap berikutnya.

Apa yang membuat Anda sukses seperti sekarang?

Jadi perjalanan saya, khususnya perjalanan hidup, pada masa-masa susah itu ya setelah lulus kuliah adalah masa-masa perjuangan.

Tapi Insya Allah tipikal orang Sumatera Barat ini kan tahan banting. Saya sering merasakan bagaimana perasaan kita dulu, kalau rasa-rasanya kita lakukan sekarang berat sekali tapi itu semua sudah kita lalui dan saat kita melakukan itu rasanya tidak ada masalah kita lakukan dengan senang hati. Kalau dulu pergi ke kantor naik bajai waktu kuliah di Bandung naik motor jadi semua itu nostalgia yang indah sebuah proses panjang yang membuat kita lebih bisa menghargai arti sebuah perjuangan.

Yang saya khawatirkan dari anak-anak sekarang, mereka itu kebanyakan, pesan saya, mereka itu jangan segala sesuatunya ingin mudah. Jadi kalau ingin berhasil kita harus melaukan sebuah perjuangan. Tidak ada nikmatnya sebuah keberhasilan tanpa sebuah perjuangan.

Jadi saya kadang-kadang sering teringat perjuangan masa lalu cukup luar biasa, tapi saya katakan ah saya mampu. Saya enjoy dengan perjuangan saya masa lalu.

Mungkin anak-anak masa sekarang disuruh seperti itu enggak mampu mereka karena memang sekarang sudah berubah.

Fasilitas umum sudah semakin baik perekonomian juga sudah semakin meningkat. Jadi anak-anak sekarang dari orang tuanya tidak seperti kita dulu. Saya dulu meminta uang ke orang tua dikirim surat dikirim pakai wesel pos, saya masih ingat itu. Saya harus ke kantor pos untuk mengambil uang yang dikirim orang tua saya yang juga penghasilannya sangat terbatas.

Bisa diceritakan tentang orangtua Anda?

Orang tua saya seorang pedagang kecil hanya menjual kerupuk (suaranya terbata-bata dan meneteskan air mata).

Tapi mereka mampu. Saya kalau ingat perjuangan orang tua saya sedih. Belum tentu ya kita bisa melakukan seperti yang pernah bisa dilakukan oleh orang tua kita.

Jadi saya berpesan kepada anak-anak sekarang, mari kita menghargai orang tua. Karena orang tua yang bisa membuat kita berhasil. Jadi saya sangat merasakan peran dari orang tua yang bisa memberikan semangat kepada kita.

Jadi kalau ditanya siapa yang paling mendominasi dari perjuangan hidup saya, yaitu Ibu saya.

Jadi, saya selalu berpesan jangan sekali-kali kita ini melupakan Ibu kita. Karena Ibu selalu mendoakan kita, ya ibu bapak kita. Tapi Ibu itu jauh lebih, bagaimana ya saya merasakan doa Ibu yang menyelamatkan hidup kita, doa Ibu yang bisa membuat kita menjadi sesuatu sehingga seperti sekarang. Itu saya rasakan betul dan saya sangat yakin semua itu karena doa Ibu kita.

Terkait Sumbar, sosok pemimpin seperti apa menurut Anda yang dibutuhkan oleh masyarakat?

Kalau kita bicara sosok pemimpin. Begini, saya melihat banyak sekali orang yang ingin menjadi pemimpin. Menurut saya itu sesuatu yang baik. Kita tidak boleh menyalahkan kalau banyak orang yang ingin menjadi pemimpin.

Saya melihat banyak sekali orang ingin menjadi pemimpin baik itu pemimpin level provinsi, kabupaten/kota, tingkat nasional, saya melihat semua itu baik. Itu tujuan yang baik.

Namun demikian, sebelum kita berniat untuk menjadi pemimpin yang perlu kita harus yakinkan pada diri kita bahwa kita harus betul-betul tujuan yang ikhlas untuk kepentingan orang banyak.

Jangan sekali-kali seseorang ingin menjadi pemimpin, tapi sebelum dia menjadi pemimpin dia sudah punya misi atau tujuan tertentu yang lebih kepada kepentingan pribadi atau kelompok itu sangat berbahaya. Jadi harus dimulai dari niat yang tulus.

Apalagi Sumatera Barat saya melihat saat ini sangat berat ya. Artinya Sumbar ini bisa kita katakan semakin lama semakin tertinggal dari daerah lain kenapa saya katakan demikinan, karena kita tidak punya SDA yang mencukupi, melimpah ruah, tidak punya industri pengelolahan dan sebagainya. Sementara sektor itu adalah kalau kita lihat dari daftar potensi penerimaan daerah, sektor itu adalah memberikan kontribusi pada daerah sementara kita tidak punya hal tersebut.

Maka dari itu tidak ada jalan lain adalah bagaimana seorang pemimpin pertama dia mampu menggerakkan semua potensi di daerahnya, dia harus mampu menjadi seorang leader. Kalau leader itu dia harus bisa menstimulasi, mengajak orang untuk berbuat sesuatu sesuai dengan tujuannya. Mengajak bupati, mengajak wali kota, kalau seorang gebernur, dia harus mampu mengajak semua potensi yang ada baik itu potensi pemimpin formal, non-formal sehingga ini menjadi kekuatan yang nyata untuk megajar ketertinggal kita dari daerah lain.

Meningkatkan potensi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, kelautan, pertanian, pendidikan ini tidak mudah tanpa adanya leadership dari seorang pemimpin. Nantinya akan terakumulasi potensi yang ada itu menjadi sebuah penerimaan baru yang ada di Sumatera Barat yang bisa mendukung program yang dicanangkan oleh pemerintah.

Kemudian secara simultan mereka juga harus mampu meyakinkan Pemerintah Pusat, meyakinkan DPR sebagai pengambil kebijakan politik anggaran di Indonesia sehingga pusat, DPR berpihak kepada kita.

Mereka tahu bahwa Sumbar itu tidak kaya, kalau Riau mereka punya minyak, gas, kalau Sumsel mereka sama punya minyak, kepala sawit, miliaran ton batu bara. Jambi begitu juga sementara Sumatera Barat kita punya keindahan alam.

Maka dari itu untuk bisa meningkatkan potensi di Sumbar tidak ada kata lain kita harus mendapat bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah pusat mau membantu kita tentu seorang pemimpin harus punya leadership yang kuat, punya kemampuan subtansial, meyakinkan pemerintah pusat. Sehingga pemerintah pusat mengerti persoalan di Sumbar.

Membantu Sumbar bukan berarti untuk kepentingan Sumatera Barat, membantu Sumatera Barat pasti memberi kontribusi kepada nasional. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat akan memberikan pertumbuhan pada ekonomi nasional.

Ini yang harus dilakukan kita semua dari sisi kepemimpinan. Pemimpin juga harus mampu mengatasi persoalan sosial di masyarakat.

Saya mendegar banyak sekali akhir-akhir ini persoalan sosial terutama di kalangan anak-anak muda. Saya di Padang ketemu ibuu-ibu. Dia khawatir anaknya terlibat narkoba, ada yang dikhawatirkan LGBT, ada HIV, ada prostitusi dan lain sebagainya. Persoalan-persoalan sosial ini harus kita bersama-sama hadapi dan tangani.

Konsep Adat Bersandi Sara', Sara' Bersandi Kitabullah itu bukan hanya ucapan indah di bibir tapi betul-betul jelas implementasinya seperti apa. Jadi saya sangat tertarik saya mencoba sekarang menghimpun berbagai informasi dari berbagai pihak sehingga kita punya ketahanan kita bisa menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang sangat mengkhawatirkan orang tua.

Kemarin saya bertemu dengan ibu -ibu dia betul-betul khawatir dengan anak-anaknya. Kalau zaman kita dulu kita enggak ada yang ngurus pun enggak ada masalah, persoalannya mungkin berbeda dengan sekarang.

Saya dulu mana pernah diurus sama orang tua, tapi kita enggak pernah berbuat yang aneh-aneh dan kita punya kesadaran sendiri betul-betul bertanggung jawab kepada diri kita dan keluarga atau orang tua kita tapi sekarang situasi berbeda, tantangan berbeda maka dari itu juga treatment-nya juga harus kita lakukan secara tepat dan akurat jangan salah ibarat kata orang gatal di kepala yang digaruk lutut sehingga anggaran yang diberikan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan sosial itu akhirnya tidak efektif hanya habis begitu saja persoalannya tidak teratasi.

Apa yang mendasari Anda mencalonkan diri jadi Cagub?

Sebetulnya saya ini kan masih sebagai anggota DPR sampai 2024. Banyak pihak yang bertanya kepada saya 'Pak Mul ngapain sih mau jadi Gubernur apa enaknya sih jadi gubernur? Enakkan di DPR lah apalagi Pak Mul sudah senior di DPR setiap saat bisa apapun yang dibicarakn bisa ngomong ke menteri. Saya sekarang di Komisi III bisa ngomong ke Kapolri ke Kejaksa Agung bisa kemana-mana.

Dari aspek kekuasaan kita mempunyai kekuasaan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat cukup besar sementara gubernur kan hanya terbatas, bahkan kalau ke menteri harus minta waktu untuk ketemu dengan menteri ini dan itu.

Tapi persoalannya bukan seperti itu. Saya berfikir bukan saya tidak mengatakan tidak ada orang yang mau mengurus Sumatera Barat dengan serius mungkin semua bercita-cita ingin mengurus Sumbar dengan serius tapi saya betul-betul punya tekad secara iklas ingin membangun Sumbar.

Bukan berarti saya merasa saya yang paling hebat untuk mengurus Sumbar, tapi saya ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Sumbar mari kita serahkan ke rakyat Sumbar siapapun yang dipilih masyarakat Sumbar maka itu kami anggap pemimpin yang terbaik oleh rakyat Sumbar. Mari kita dukung bersama, tapi dalam memilih pemimpin tentu saya sangat yakin masyarakat Sumbar itu punya kriteria, penilaian sendiri, karena masyarakat Sumbar adalah masuk kategori pemilih cerdas.

Saya menanyakan kepada lembaga survei kredibel mereka memang terkejut bahwa masyarakat Sumbar itu adalah masyarakat egaliter di Indonesia. Mereka enggak bisa di takuik-takuikan enggak bisa didikte, mereka berjalan dengan pikirannya sendiri sehingga dia melaklukan analisas sendiri memilih sendiri sesuai dengan keyakinan sehingga politik uang atau money politics di Sumbar tidak efektif. Dalam hal ini saya sangat bangga menjadi orang Sumbar karena dia cenderung lebih memilih berdasarkan hati nurani dia tapi di satu sisi kita juga harus memberikan pencerdasan kepada masyarakat agar masyarakat dapat informasi yang clear, benar.

Jadi pemilu dijadikan sebagai ajang mencerdaskan masyarakat, jangan sampai dijadikan ajang untuk mengadu domba, jangan karena kita berseberangan karena kita ingin bersaing, maju sebagai kepala daerah akhirnya kita saling menjelek-jelekan itu tidak boleh.

Kalau negatif campaign artinya ada seorang pemimpin berjanji kalau saya terpilih nanti saya akan melakukan ini dan itu itu boleh ditagih masyarakat. Kalau dia tidak melakukan itu masyarakat berhak mempertanyakan itu bukan black campaign, tapi kalau dia melakukan fitnah, hoaks, melakukan informasi bersifat ujaran kebencian itu tidak baik buat demokrasi dan akan menurunkan kualitas demokrasi.

Semakin meningkat kualitas demokrasi kita semakin baik kita memilih pemimpin akan semakin terpilih pemimpin yang sesuai diharapkan masyarakt jadi ini adalah kata kunci bagi saya, tingkatkan kualitas demokrasi kita.

Artinya jdikan pemilu sebagai ajang mencerdaskan masyarakat apalagi kita di Minang ini kalau kita bersenda gurau kita, bukan Pemilu ya, Pilkada badun sanak. Kalau pilkada badun sanak itu ya kita sekarang memang berkompetisi tapi sampai satu titik kita harus bersatu. Jangan sampai karena ada Pilkada akhirnya menciptakan kondisi permusuhan antara orang per orang kelompok per kelompok dan sebagainya.

Dukungan terus mengalir kepada Anda, apa tanggapannya?

Pertama saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat khususnya yang mendukung dan memberikan apresiasi kepada saya. Tentu yang kedua jangan sampai dukungan itu membuat kita berbangga diri dan bersombong diri. Harus kita lakukan semacam refleksi bahwa dukungan masyarakat yang besar itu artinya ada harapan yang akan ditopangkan di pundak kita ini enggak main-main artinya semakin besar dukungan masyarakat di sana ada harapan masyarakat yang cukup besar kepada kita. Artinya begitu kita mengecewakan masyarakat maka dukungan itu juga akan berubah menjadi kekecewaan yang sangat besar kepada kita. Itu yang perlu kita perhatikan.

Bagi siapapun pemimpin ingat saat ingin maju sebagai kepala daerah dia mendapatkan dukungan yang sangat besar itu adalah sebuah tanggung jawab yang tidak kecil bagi dirinya karena dia akan, apalagi kalau dia terpilih, dia akan mengemban amanah rakyat yang sangat berat. Jangan berikan harapan-harapan palsu kepada masyarakat. Maka dari itu saya selalu menyampaikan dan mengingatkan kepada diri saya sendiri bahkan kepada kader-kader saya yang mau maju Bupati/ Wali Kota jangan sekali-kali memberi janji yang Anda tidak mampu melaksanakannya.

Karena itu akan membuat masyarakat kecewa, jangan memberikan janji-janji muluk, jangan berikan janji sehingga dengan janji itu masyarakat memilih Anda dan hanya akan Anda gunakan janji itu untuk kepentingan sesaat. Itu sangat berbahay bagi kita, Anda berjanji Anda pikirkan betul apakah Anda mampu melaksanakan apa yang anda janjikan.

Karena janji itu bukan hanya utang kepada rakyat tapi juga kepada Tuhan yang Maha Kuasa jadi Tuhan mendegar apa yang kita janjikan, jangan kita pakai janji hanya sekadar untuk permainan, untuk menyenang-nyenangkan masyarkat yang pada akhirnya kita tidak mau dan mampu melaksanakan apa yang sudah kita janjikan.

Jadi saya tetap melihat dukungan dan apresiasi yang besar kepada kita adalah sebuah tanggung jawab yang perlu kita waspadai bahkan kalo ngak salah Sayidina Umar begitu terpillih menjadi khalifah dia justru mengucapkan innalilahi wainnailahirojiun artinya apa dia merasakan betul sebentar lagi saya akan melaksanakan amanah rakyat akan dimintakan pertanggungjawabannya dunia dan akhirat.

Jadi pemimpin itu jangan karena kita sudah tidak ada lagi kegiatan kita ingin maju gubernur karena kita sudah tidak ada lagi yang dilakukan kita ingin menjadi bupati/walikota. Tapi betul-betul dengan niat yang tulus dan keyakinan sendiri bahwa dia bisa berbuat sesuatu yang betul-betul bermanfaat bagi masyarat. Jadi saya melihat dukungan itu adalah sebuah tanggung jawab.

Permasalahan apa yang paling mendasar di Sumbar dan bagaimana cara mengatasinya?

Sumatera Barat ini kalau kita bicara dalam konteks ekonomi memang tadi saya mencoba berkeliling ke beberapa daerah, keluhan yang hampir disampaikan ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapak pertama adalah masalah lapangan kerja.

Mereka mengatakan bahwa banyak anak-anak kami yang sudah lulus sekolah sekarang tidak bekerja, dulu bekerja sekarang menganggur jadi pengaguran ini persoalan cukup serius.

Kalau ini tidak kita tangani ini akan menjadi permasalahan sosial apalagi kalau yang menganggur itu adalah anak-anak yang berpendidikan , karena mereka kan mikir apa yang akan dia lakukan, nah ini berbahaya.

Kedua adalah mahalnya bahan pokok artinya menurunya daya beli masyarakat dan tidak stabilnya bahan pokok ini menjadi bagian dari situasi yang menjadi rumit. Itu semua tidak lepas dari ekonomi kita. Ekonomi nasional sekarang menurun, terakhir ini saya dengar di rapat kabinet sudah dipastikan berat untuk mencapai pertumbuhan 5 persen itu dampak dari global maupun situasi lain.

Apa potensi Sumbar yang seharusnya dikembangkan?

Pertama kita punya potensi pertanian, komoditi pertanian apa yang bisa kita unggulkan di Sumbar. Sektor kelautan nyaris belum kita eksplor sebetulnya kita punya potensi tapi belum kita eksplor begitu juga Sumbar terkenal dengan provinsi yang bagus pendidikannya kenapa sekarang enggak kita lakukan revitalisasi supaya orang belajar di Sumbar.

Kita bikin perguruan tinggi atau sekolah unggulan yang lebih banyak, dengan sendirinya akan menerima potensi penerimaan. Tapi itu semua tidak bisa kita lakukan hanya dengan waktu yang pendek, pemerintah sekarang sudah berlangsung 10 tahun.

Pak Irwan Prayitno sudah berlangsung 10 tahun saya belum mempelajari secara detail apa keberhasilan dan yang tidak bisa beliau lakukan pada saatnya ketika saya resmi menjadi Cagub tentu akan saya kemukan secara komperhensif dan berdasarkan data yang akurat.

Saya tidak mau berbicara hanya berdasarkan perkiraan-perkiraan tanpa data, tapi harus betul-betul berdasarkan data yang bisa dipertanggungjawabka. Tapi secara kasat mata persoalan-persoalan seperti yang saya sampaikan itulah yang ada di Sumbar. Bagaiman kita meningkatkan pendapatan di Sumbar memperbanyak peluang kerja, meningkatkan sektor pariwisata yang semua itu adalah harus punya komitmen mulai dari pemerintah provinsi kabupaten maupun kita meminta dukungan dari pemerintah pusat.

Tidak bisa hanya mengadalkan provinsi bekerja sendiri, kabupaten bekerja sendiri dengan mainset berbeda-beda sangat berat bagi kita. kita harus melakukan konslidasi mulai dari Kabupaten/Kota dan provinsi dan juga melakuakn lobi ke pusat sebagai provinsi penerima asli daerah (PAD) sangat kecil.

Sementara persoalan kita hadapi sangat banyak maka fungsi dari pemimpin itu adalah di Sumbar sangat sentral, penting. Karena kita bukan daerah kaya. Beda dengan tetangga kita ya pemimpinnya santa-santai saja mereka uangnya masih banyak mereka masih bisa membelanjakan uang dengan pendapatan dari daerah dia, kalau kita enggak seperti itu.

Harapan Anda untuk Sumatra Barat ke depan?

Kalau harapan saya untuk Sumatera Barat ke depan, tentu saya ingin Sumbar menjadi provinsi yang terkemuka di Sumatera. Dulu kita adalah provinsi yang terkemuka di pulau Sumatera, maka dari itu kejayaan itu harus kita raih kembali dan kita semua komponen masyarakat yang ada di Sumbar harus bersatu.

Kita jangan terjebak pada suasana untuk saling menyalahkan karena itu tidak akan ada habisnya. Karena manusia tidak ada yang sempurna semua orang punya kekurangan yang paling penting kalau menjadi pemimpin jadilah pemimpin yang konsisten masyarakat juga harus kita ayomi.

Sehingga kami berharap ke depan Sumbar menjadi berkah dan sejahtera, maju sehingga akhirnya dengan berjalannya waktu pendapatan masyarakat Sumbar bisa menjadi masyarakat yang makin makmur tapi juga masyarakat dan daerah Sumbar mendapat berkah.

Dari sisi agama kita tidak boleh melupakan ketahanan dari aspek agama ini karena persoalan sosial banyak yang harus kita hadapi ke depan dari berbagai hal yang saya himpun di tengah masyarakat.

Saya rasa itu yang dapat saya sampaikan tidak ada yang secara khusus, karena sekarang itu saya sedang menghimpun berbagai masukan dengan saya berjalan ke beberapa daerah insya Allah pada suatu saat saya akan sampaikan kepada Haluan secara khusus dan secara komperhensif apa yang harus dilakukan dan apa yang kita lakukan ke depan.(*)

Reporter : Tio Pirnando /  Sumber : haluan.co (Haluan Media Grup) /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM