Peluang Mahathir Dipilih Jadi PM Malaysia Lagi Tipis Setelah Parpol Berubah Sikap


Rabu, 26 Februari 2020 - 14:40:07 WIB
Peluang Mahathir Dipilih Jadi PM Malaysia Lagi Tipis Setelah Parpol Berubah Sikap Mahathir Mohamad

KUALA LUMPUR, HARIANHALUAN.COM - Peluang Mahathir Mohamad dipilih oleh Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah untuk menduduki jabatan perdana menteri semakin kecil. Ini karena partai-partai politik, koalisi Pakatan Harapan maupun oposisi dari Partai Organisasi Nasional Malaysia Bersatu (UMNO) dan Partai Islam se-Malaysia (PAS), mengubah sikap mereka.

Awalnya Mahathir didukung oleh partai-partai politik dari kedua pihak untuk bisa melanjutkan jabatan PM. Dengan begitu, dia bisa membentuk 'pemerintah persatuan' dengan memilih anggota kabinet dari berbagai faksi, namun tampaknya keinginan tersebut akan kandas.

Baca Juga : Bantah Soal Vaksinnya Kurang Manjur, China: Cuma Salah Paham

Dilaporkan The Star, Rabu (26/2/2020), dari pernyataan yang disampaikan berbagai partai politik, jelas mereka mengubah sikap dan strategi mengenai dukungan terhadap pria 94 tahun itu.

UMNO dan PAS yang mulanya ingin membentuk aliansi baru bersama partai yang didirikan Mahathir, Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), mengumumkan lebih memilih digelarnya pemilu ulang. Dengan demikian, parlemen harus dibubarkan terlebih dulu.

Baca Juga : Ucapkan Selamat Puasa, Joe Biden Sebut Muslim Telah Memperkaya Amerika

Dari total 222 anggota parlemen Dewan Rakyat, UMNO dan PAS mengumpulkan 58 kursi serta ditambah sekutu mereka MCA yang memiliki dua kursi.

Usulan untuk digelarnya pemilu ulang sudah disampaikan kepada Sultan Abdullah pada Selasa (25/2/2020).

Baca Juga : Jepang Akan Buang 1,25 Juta Ton Air Nuklir Fukushima ke Laut

Pada malam harinya, giliran koalisi Pakatan Harapan menarik dukungan untuk Mahathir. Tiga partai dalam koalisi Pakatan yang masih bertahan, yakni Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Aksi Demokratik (DPA), dan Partai Amanah Negara, menyatakan dukungan mereka kepada Anwar Ibrahim untuk menjadi PM Malaysia kedelapan.

Sebelum Mahathir mundur, Anwar memang dijanjikan akan menduduki posisi PM, sebagaimana kesepakatan di internal Pakatan Harapan sebelum pemilu Mei 2018. Namun setelah pengunduran diri Mahathir semua menjadi berubah karena posisi PM selanjutnya tetap harus ditentukan berdasarkan suara mayoritas parlemen melalui persetujuan Raja.

Baca Juga : Terkuak, Penyebab Peningkatan Kasus Covid-19 di India

Masalahnya, berdasarkan situasi saat ini tak ada kelompok mayoritas di parlemen setelah Pakatan Harapan pecah kongsi. Seorang PM kemungkinan bisa dipilih oleh Raja jika mendapat setidaknya 122 dukungan di parlemen dan tak ada kelompok partai yang mencapai jumlah tersebut.

Meski demikian, Anwar dalam posisi unggul karena dukungan dari tiga partai tersebut akan memberikan 92 suara di parlemen. Suara PKR sudah berkurang setelah 11 anggotanya keluar untuk membentuk aliansi baru.

Sementara itu suara untuk Mahathir dari PPBM serta beberapa partai pendukung lainnya mencapai 70, masih di bawah suara dukungan untuk Anwar.

Kondisi ini membuat Raja Malaysia harus bekerja keras. Dia memanggil 222 anggota parlemen pada Selasa dan Rabu untuk mengetahui pandangan mereka mengenai situasi politik yang berkembang, termasuk dalam menentukan kepemimpinan.

Keputusan terakhir tetap berada di tangan Sultan Abdullah untuk menentukan pemerintahan Malaysia ke depannya.

"Biarkan saya melakukan tugas. Saya berharap kita akan menemukan solusi terbaik bagi negara," katanya. (h/*)

 

Editor : Heldi | Sumber : iNews.id
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]