Pisang Revolusioner: Dari Konservasi Sampai Perang antar Negara


Kamis, 27 Februari 2020 - 00:49:23 WIB
Pisang Revolusioner: Dari Konservasi Sampai Perang antar Negara

“Bahkan, pisang pun menjadi isu internasional mulai dari isu pangan, isu kesehatan, isu lingkungan, dan juga isu perdagangan, apakah mungkin pisang juga menyebabkan perang? Artikel ini akan menguraikan tentang sangat strategisnya tanaman pisang untuk konservasi mulai dari tubuh manusia, lingkungan hidup, sampai ekonomi nasional, selain itu, buah pisang adalah salah satu komoditas perdagangan internasional yang sangat penting.”  

Oleh: Virtuous Setyaka

Dalam sebuah artikel berjudul "Perubahan Paradigma Pemberdayaan Masyarakat" di harianhaluan.com (Ahad, 23 Februari 2020 - 21:44:01 WIB), pada salah satu sub-judul disebutkan tentang "Revolusi Batang Pisang Di Sungkai", di bawahnya menguraikan tentang Majelis Dosen Muda Universitas Andalas (MDM Unand) yang sedang mempersiapkan penyelenggaraan penelitian dan pengabdian masyarakat di kawasan salingka kampus sejak awal tahun 2020 sebagai inisiatif hasil refleksi tentang tidak efektif dan efisiennya penelitian dan pengabdian masyarakat oleh para dosen Unand selama ini yang seringkali "hit and run". Sekali meneliti dan mengabdi sudah itu mati dan tidak berkelanjutan. Oleh sebab itu penelitian dan pengabdian masyarakat di Sungkai sangat diupayakan sebagai sebuah program kerja dengan adanya penanggungjawab khusus yang akan bekerja selama tiga sampai lima tahun sebagai satu periode.

Pisang untuk Konservasi Manusia dan Lingkungan
Sejauh ini, proses penelitian dan pengabdian masyarakat di Sungkai memang diupayakan untuk dijaga dan berfokus dari ide atau gagasan masyarakat setempat yang juga sedang membangun Koperasi Petani dan Peternak Mandiri (KP2M).  "Sungkai itu baiknya kita sulap jadi kawasan buah dan ternak, kuliner dan homestay akan nyusul." Demikian pesan salah satu inisiator sekaligus anggota KP2M dalam sebuah diskusi pagi Minggu/Ahad, 23/02/2020, pukul 09.39. KP2M adalah koperasi tani yang kegiatan hulunya pertanian dan peternakan ramah lingkungan/LEISA (low external input sustainable agriculture), sedangkan kegiatan hilirnya adalah perdagangan dan pengolahan hasil untuk kuliner. 

Contohnya adalah menanam pisang untuk diproduksi dan diolah menjadi pisang sale. Pisang merupakan buah kaya manfaat untuk pencernaan, menurunkan tekanan darah, menurunkan risiko stroke, meningkatkan stamina olahraga, mengandung serat tinggi, meredakan nyeri ulu hati, mencegah tukak lambung, dan sebagainya. Daun pisang diolah untuk makanan ternak dengan diproses terlebih dahulu melalui pakan ternak fermentasi. Batang pohon pisang bisa juga untuk pakan ternak. Selain itu, pohon pisang juga sangat efektif untuk menyimpan air tanah atau sebagai tanaman konservasi tanah. Minimal ada tiga jenis pisang hebat atau unggulan untuk dikembangkan, yaitu pisang masak semalam, pisang batu, dan pisang raja serai. 

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, tanaman pisang toleran terhadap kekeringan dan berpotensi sebagai tanaman pionir dan konservasi. Bahkan untuk mengkonservasi lahan-lahan bekas penambangan, seperti tambang batu bara yang perlu direklamasi agar dapat dimanfaatkan kembali. Untuk memperbaiki agroekosistem lahan bekas tambang diperlukan tanaman pisang, karena mempunyai perakaran rapat, batangnya sukulen dan menahan air. Varietas pilihan yang disarankan adalah yang mempunyai daya adaptasi bagus dan menunjang industri pedesaan, misalnya pisang kepok atau pisang sepatu amora.

Pisang untuk Konservasi Pertumbuhan Ekonomi Nasional 
Di sisi lain, gejolak global dengan beragam isu termasuk penyebaran virus corona belakangan ini juga berdampak terhadap neraca perdagangan Indonesia. Untuk mengantisipasi potensi ancaman terjadinya degradasi pertumbuhan ekonomi tersebut, maka pemerintah pun menyiapkan strategi sebagai bentuk “konservasi pertumbuhan ekonomi”. Salah satu upayanya adalah mendorong ekspor produk-produk potensial yang berdaya saing tinggi di pasar global. Selain dari produk-produk hasil industri, pemerintah juga mendorong peningkatan kinerja ekspor produk-produk sektor lain, seperti sektor pertanian. Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyampaikan bahwa selama Januari-Desember 2019 ekspor produk pertanian sebesar US$ 3,61 miliar atau meningkat 5,31% dibandingkan periode sama di 2018 sebesar US$3,43 miliar. Salah satunya didorong peningkatan ekspor subsektor hortikultura, khususnya buah-buahan tahunan. 

Salah satu komoditas buah-buahan yang menjadi andalan ekspor adalah pisang karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi pasar terbuka luas. Indonesia saat ini termasuk ke dalam negara penghasil pisang terbanyak di dunia. Produksi pisang Indonesia mencapai lebih dari 50% produksi pisang di negara-negara Asia. Jenis-jenis pisang unggulan Indonesia adalah pisang ambon, pisang raja bulu, pisang nangka, pisang cavendish, dan sebagainya. Negara-negara penghasil pisang terbesar di dunia adalah India sekitar 27.575.000 ton pisang setiap tahunnya; Uganda mampu menghasilkan pisang hingga 9,8 juta ton; Tiongkok mampu menghasilkan lebih dari 12 juta ton pisang per tahun; Filipina menjadi produsen pisang terbesar nomor lima dunia; pada 2011 produksi pisang Ekuador mencapai 8 juta ton atau sekitar 6% hasil produksi pisang dunia; Honduras mengandalkan pisang sebagai sumber pendapatan utama negaranya; Indonesia dengan daerah-daerah penghasil pisang terbesar di Jawa, Sumatra, dan Bali; di kawasan tengah Afrika, penghasil pisangyang berada di sekitar gurun Sahara, bernama Republik Chad; Brasil menjadi penyokong 10% total produksi pisang dunia; dan Kosta Rika yang merupakan negara pertama menanam pisang di Amerika Tengah pada 1878, hingga kini masih menjadi negara penting produsen pisang terbesar di dunia.

BPS dan Direktorat Jenderal Hortikultura menyebutkan tahun 2016, Indonesia memproduksi pisang sebanyak 7 juta ton, tahun 2017 sebanyak 7,16 juta ton, dan tahun 2018 meningkat kembali sebanyak 7,26 juta ton. Kemenko Perekonomian pun memprogramkerjakan “Pengembangan Hortikultura Berorientasi Ekspor” sebagai salah satu Program Prioritas (Quick Wins) melalui kerjasama kemitraan pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan petani. Program yang diharapkan meningkatkan produktivitas, kualitas, dan kontinuitas komoditas pisang, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pisang di tingkat nasional seperti hotel, restoran, dan katering; selain juga dapat memenuhi keberlanjutan ekspor ke berbagai negara. Ada 16 negara tujuan ekspor buah pisang segar Indonesia, di antaranya Timur Tengah, Malaysia, Iran, China, Korea Selatan, dan sebagainya.

Data Trade Map atau Peta Perdagangan dari International Trade Statistics (ITC), sepanjang 2018, Indonesia telah mengekspor pisang sebanyak 30.373 ton atau senilai US$14.610 ke seluruh dunia. Terbesar ke China/Tiongkok sebesar 17.793 ton atau senilai US$8.623, kemudian ke Malaysia sebesar 4.132 ton atau senilai US$1.114, dan ke Uni Emirat Arab (UAE) sebesar 2.563 ton atau senilai US$1.435. Selain itu juga ke Singapura dan Jepang. Di dalam pasar Jepang, Filipina menguasai pasar pisang setidaknya 80%, melampaui Ekuador dan Meksiko yang sebelumnya ekspotir terbesar pisang di dunia.
 
Perang (Dagang) Pisang
Dari uraian di atas, maka pisang pun menjadi isu internasional mulai dari isu pangan, isu kesehatan, isu lingkungan, dan juga isu perdagangan, apakah mungkin pisang juga menyebabkan perang? 

Ada Peperangan Pisang (Banana Wars), namun itu adalah istilah yang digunakan sejumlah sejarawan, diantaranya Lester D. Langley (1986) dan Mark T. Gilderhusrt  (2000), untuk menyebut pendudukan, aksi polisi, dan campur tangan yang melibatkan Amerika Serikat di Amerika Tengah dan Karibia antara Perang Spanyol–Amerika Serikat dan penerapan Kebijakan Tetangga Baik. 

Selain itu, dalam the guardian.com (5/3/1999) juga ada “perang dagang pisang". Yaitu puncak dari pertengkaran dagang enam tahun antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. AS mengeluh bahwa skema UE yang memberi produsen pisang (dari bekas koloninya di Karibia) akses khusus ke pasar Eropa telah melanggar aturan perdagangan bebas. Hanya tujuh persen pisang Eropa yang berasal dari Karibia, perusahaan multinasional AS yang menguasai tanaman pisang Amerika Latin menguasai tiga perempat pasar UE, dan AS sendiri tidak mengekspor pisang ke Eropa. Meskipun demikian, AS mengajukan keluhan terhadap UE dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 1997, dan memenangkannya. UE pun diperintahkan untuk mengubah peraturannya tersebut.

Penulis adalah Dosen HI FISIP Unand, Direktur SANGKAKALA, Aktivis MDM, dan Mentor GSC Indonesia.

 Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM