Bagaimana Wabah Virus Corona Memengaruhi Dompet Anda?


Kamis, 27 Februari 2020 - 08:01:12 WIB
Bagaimana Wabah Virus Corona Memengaruhi Dompet Anda? Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Siapa yang sangka seorang pengantin wanita asal Amerika Serikat akan kehilangan gaun pengantin akibat virus corona di China? Namun, itulah yang terjadi.

Hal ini menunjukkan sejauh mana masyarakat global dipengaruhi oleh percobaan terbesar sepanjang masa dalam upaya membatasi penyebaran sebuah penyakit.

Berbagai perkiraan dan prediksi telah muncul mengenai dampak dari karantina di China terhadap kesediaan barang di seluruh dunia - serta perekonomian global.

Sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di London, Capital Economics, memperkirakan bahwa kerugian akibat wabah akan mencapai lebih dari $280 miliar hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2020.

Nilai itu lebih dari seluruh anggaran tahunan Uni Eropa, pendapatan tahunan Microsoft, maupun pendapatan tahunan Apple - dan delapan kali lipat dari total anggaran tahunan pemerintah Nigeria, sebagai sebuah contok dalam konteks negara.

Itu karena China, ekonomi terbesar kedua di dunia - yang dikenal sebagai "pabrik dunia" - adalah negara yang paling terpengaruh oleh penyebaran penyakit itu sejauh ini.

Tetapi bagaimana pengaruhnya terhadap dompet Anda dan apa yang dapat Anda beli?

Sebagai permulaan, sangat mungkin bahwa komputer, tablet atau layar ponsel dimana Anda baca artikel ini dibuat di China atau menggunakan komponen yang dibuat di China.

Selain gadget, Anda mungkin terkejut mengetahui apa lagi yang terdampak oleh wabah virus Covid-19.

Gaun pengantin tidak akan sampai ke acara pernikahan

Dari semua hal yang dapat memengaruhi rencana pernikahan, Marianna Brady tidak menyangka bahwa dia tidak akan memiliki sebuah gaun untuk dikenakan dalam acara pernikahannya yang dijadwalkan pada 3 Juli mendatang.

Ketika ahli media sosial BBC itu memesan sebuah gaun di toko pengantin Chicago pada bulan Desember lalu, dia tidak menyadari fakta bahwa gaun itu akan datang dari China.

Satu kota di China saja, yaitu Suzhou, diperkirakan bertanggung jawab atas 80% pasokan gaun pengantin dunia.

Namun, pakaian pernikahan hanya merupakan satu sektor dari sekian banyak yang terpukul oleh langkah-langkah sanitasi yang diterapkan untuk mengatasi penyebaran virus corona.

Penutupan pabrik untuk menghindari terjadinya kerumunan orang telah membekukan produksi. Pembatasan perjalanan telah menghambat rantai pasokan untuk barang apa pun yang tersisa di gudang.

Brady diberitahu melalui email bahwa pengiriman gaun yang ia pesan, yang sebelumnya diperkirakan akan dilakukan pada bulan Maret, telah ditunda hingga bulan Juli hampir seminggu setelah pernikahannya.

"Saya terutama terkejut dengan kurangnya pengetahuan saya bahwa gaun itu akan dibuat di China," kata Brady kepada BBC.

"Situasinya tidak pernah membuatku marah, aku hanya benar-benar terkejut dengan efek virus corona pada orang yang merasa jauh darinya seperti aku."

Orang Amerika itu sekarang rela mengenakan gaun bekas untuk pernikahannya.

Kelangkaan ponsel

China adalah raksasa industri. Tetapi sektor smartphone menjadi salah satu yang paling terdampak, karena negara ini adalah produsen dan pengekspor perangkat terbesar di dunia.

Daftar ponsel yang mengalami kekurangan suku cadang termasuk iPhone Apple, salah satu smartphone terlaris di planet ini.

Perusahaan teknologi itu mengumumkan pada 17 Februari bahwa produksi dan penjualan produk andalannya itu telah dipengaruhi oleh wabah - dan menyatakan bahwa pasokan iPhone di seluruh dunia "akan sementara dibatasi".

Riset pasar oleh Canalys telah memperkirakan penurunan hingga 50?lam pengiriman smartphone di China antara Oktober 2019 dan Maret 2020.

Tas desainer yang terdampar di rak pertokoan

China adalah penyumbang wisatawan terbesar di dunia. Uang yang para wisatawan itu keluarkan melebihi wisatawan dari kewarganegaraan lainnya.

Angka-angka terbaru dari China Tourism Academy, sebuah lembaga penelitian, menunjukkan bahwa wisatawan China melakukan hampir 150 juta perjalanan ke luar negeri pada tahun 2018.

Mereka menghabiskan lebih dari $270 miliar dolar, jauh lebih besar dari $ 144,2 miliar yang dihabiskan turis Amerika di luar negeri, menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB.

Namun, perjalanan di China sekarang sangat dibatasi akibat wabah virus corona.

Itu berita buruk bagi Myanmar, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, sebab pengunjung dari China merupakan lebih dari seperlima dari total kunjungan wisatawan di negara-negara itu.

Bahkan negara-negara yang lebih kaya merasakan kesulitan. Contohnya di Paris, di mana rata-rata turis China menghabiskan sekitar $1.100 per perjalanan, atau hampir dua kali lipat lebih besar dari jumlah wisatawan lain, toko barang mewah melaporkan penurunan pengunjung dari China yang tajam.

"Jika terus seperti ini, saya tidak akan memiliki pekerjaan lagi," kata Chomphunut Supraditapron, seorang manajer di Paris Look - outlet bebas bea di pusat kota - kepada kantor berita Reuters.

Tarif pesawat kemungkinan turun

Pembatasan perjalanan akibat virus corona mencakup gangguan parah pada penerbangan nasional dan internasional di China.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan pada 21 Februari bahwa maskapai penerbangan akan kehilangan sekitar $29,3 miliar pendapatan pada 2020 akibat wabah virus corona.

Ini adalah berita buruk bagi perusahaan-perusahaan di China dan wilayah Asia Pasifik lainnya, yang diproyeksikan menderita kerugian kolektif lebih dari $27 miliar.

Hal itu tidak menjadi suatu kejutan karena wilayah ini memang mendorong peningkatan permintaan untuk perjalanan udara.

"Berbagai maskapai mengambil keputusan yang sulit untuk memangkas kapasitas dan dalam beberapa kasus rute penerbangan," kata direktur jenderal IATA Alexandre de Juniac.

"Ini akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi maskapai penerbangan."

Anehnya, itu bisa berarti tahun yang baik bagi penumpang: beberapa ahli percaya bahwa maskapai penerbangan harus menurunkan harga tiket secara umum untuk mencoba mengambil kembali uang apa pun yang mereka bisa untuk mengimbangi kerugian.

"Perusahaan penerbangan harus menanggapi [dampak dari virus corona] dengan tarif lebih rendah," analis industri penerbangan Peter Harbison mengatakan kepada majalah Traveller.

Minyak dan mineral yang lebih murah akan merugikan perekonomian Afrika

China menggantikan AS sebagai mitra dagang utama Afrika pada 2009.

Hubungan ini terutama disebabkan oleh komoditas.

Angola, misalnya, mengekspor sebagian besar minyaknya ke China, - 67%, menurut Observatory of Economic Complexity.

Tetapi kantor berita Bloomberg melaporkan pada awal Februari bahwa permintaan minyak China secara keseluruhan turun 20% - dan itu menjatuhkan harga.

Nilai tembaga, komoditas lain yang diekspor ke China oleh negara-negara Afrika, juga terpukul.

"Negara-negara Afrika menghadapi kerugian $4 miliar dari pendapatan ekspor," begitu perkiraan Dirk Willem te Velde, seorang peneliti di Overseas Development Institute di London.

Penyeberan virus ke lokasi-lokasi baru

Wabah Covid-19 yang telah menyebar ke Iran dan Italia juga sudah mempengaruhi bisnis.

Di Italia, toko-toko dan restoran ditutup di daerah yang terinfeksi ketika sistem karantina yang pertama diperkenalkan di China mulai berdampak di sana - meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil.

Pertanyaan besarnya adalah: apakah langkah-langkah keamanan yang berjalan sudah cukup, atau karantina yang meluas akan memiliki efek berentet yang tak terduga untuk perekonomian yang berjarak ribuan mil dari tempat Covid-19 dimulai.(*)

 Sumber : vivanews.com /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM