Gizi Buruk Masih jadi Persoalan Besar Pemkab Pasaman


Jumat, 28 Februari 2020 - 18:36:05 WIB
Gizi Buruk Masih jadi Persoalan Besar Pemkab Pasaman Ilustrasi

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM - Tingginya angka stunting di Kabupaten Pasaman masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan oleh Pemerintah Kabupaten Pasaman, tidak terkecuali bagi Dinas Kesehatan setempat.

Untuk itu, penanganan kasus stunting terus diupayakan dengan berbagai upaya terukur. Pasalnya, butuh waktu lama agar Kabupaten Pasaman dapat terbebas dari permasalahan stunting dan balita kurang gizi.

Baca Juga : Pemerintahan Kecamatan IV Jurai Lakukan Vaksinasi Covid-19

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, dr Arnida mengatakan, pada awal tahun ini, pihaknya berupaya mencatat dan mendokumentasikan capaian indikator program gizi mulai dari tingkat Puskesmas, kabupaten hingga provinsi.


"Dari kegiatan itu, kami bakal melakukan evaluasi terhadap hasil yang telah kami lakukan di waktu sebelumnya (tahun 2019). Hasilnya, kami dapat menentukan langkah kerja dan inovasi untuk waktu yang akan datang, terutama di tahun 2020 ini,” kata Arnida kepada Haluan Media Group (HMG), Jumat (28/2).

Baca Juga : Lakukan Safari Khusus, Pemkab Pessel Bagi-bagi Bantuan untuk Masjid Rp7,5 Juta 

Puskesmas sebagai ujung tombak penanganan stunting, harus dapat melakukan inovasi dan terobosan baru dalam penanganan stunting. Selain itu, Puskesmas diminta melakukan pelaporan secara terus menerus.

"Laporan periodik kepasa dinas dan Pemkab Pasaman, akan cakupan program gizi, upaya penanganan dan hasilnya," kata Arnida.

Baca Juga : Pantauan Perkembangan Virus Corona di Sumbar: Positif 208, Sembuh 140, dan Meninggal Dunia 7 Orang

Diakui Arnida, bahwa penanganan kasus stunting dititikberatkan kepada Dinas Kesehatan.

Namun, OPD lainnya tetap harus terlibat. Seperti Dinas Sosial, PUTR, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta dinas lainnya.

Baca Juga : Denda Pelanggar AKB di Sumbar Terkumpul Rp90 Juta

Kabid Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas), dr Rahadian Suryanta Lubis menambahkan, untuk menekan angka stunting harus dilakukan dengan cara penanganan secara sensitif dan spesifik.


"Penanganan stunting itu dimulai dari 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) mulai dari 0 hari dalam kandungan sampai dengan anak usia 2 tahun," katanya. 

Dikatakan, untuk ibu hamil dan balita bermasalah gizi akan diberikan asupan makanan tambahan, berupa biskuit dan susu.

Dengan jangka waktu pemberian disesuaikan dengan kondisi ibu hamil dan balita. Bagi bayi utamakan pemberian ASI ekslusif sampai dengan usia 6 bulan.

"Untuk ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis, akan mendapatkan makanan tambahan. Jumlahnya ada sekitar 600 orang ibu dan 4.312 orang balita stunting," katanya.

Penyebab dari stunting itu banyak. Bisa karena minimnya akses air bersih, sanitasi tidak bersih dan sehat, asupan gizi kurang dan kurang gizi. Kekurangan yodium, juga bisa menjadi penyebab stunting pada anak. 

"Jadi, banyak faktor yang mempengaruhi. Tidak satu saja.

Tapi yang jelas, sanitasi buruk, air tidak bersih dan asupan gizi kurang salah satu penyebab stunting terjadi pada anak," ulas dr Rahadian. (*)

Reporter : Yudi Lubis | Editor : NOVA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]