Muhyiddin Yassin, Keturunan Jawa-Bugis, Penakluk Mahathir Muhamad


Ahad, 01 Maret 2020 - 17:27:42 WIB
Muhyiddin Yassin, Keturunan Jawa-Bugis, Penakluk Mahathir Muhamad Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin (kiri) melambaikan tangan sebelum berangkat untuk upacara pelantikan di Istana Nasional di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (1/3/2020). Muhyiddin diangkat sebagai perdana menteri pada 29 Februari oleh raja negara itu untuk mengakhiri pergolakan enam hari perebutan kekuasaan setelah Mahathir Mohamad tiba-tiba mengundurkan diri pada hari Senin karena pertengkaran dalam koalisinya yang dulu. Bloomberg - Samsul Said

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM — Langkah zig-zag Tan Sri Mahiaddin Md Yasin atau biasa disebut Muhyiddin Yassin menggalang dukungan dari lawan politik tentu di luar nalar Mahathir Muhamad.

Apalagi dukungan minoritas tersebut sampai diyakini oleh Yang Dipertuan Agung Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah untuk ditetapkan menjadi Perdana Menteri ke-8 Malaysia hari ini, Minggu (1/3/2020).

Sebagai politisi senior, bahkan kelewat senior Mahathir Muhamad bisa disebut kecolongan. Apa pasal? Pria yang nyaris berusia seabad (95 tahun) itu, tengah mengatur strategi untuk ‘meninggalkan ‘rekan koalisinya, Anwar Ibrahim.

Mahathir Muhamad sempat berjanji menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Anwar Ibrahim. Janji itu setelah 2 tahun menjadi perdana menteri, merebut kekuasaan dari Najib Razak, yang dituduh korupsi.

Namun, Mahathir tampaknya belum ‘iklas’. Setelah melakukan pengunduran diri, dia masih ingin menjabat sebagai perdana menteri. Mahathir hanya ingin menggugurkan janji kepada Anwar Ibrahim dengan mengundurkan diri. Untuk selanjutnya mencalonkan lagi.

Muhyiddin Yassin rupanya memiliki langkah sendiri. Dia telah merapat ke partai lamanya, UMNO, dan PAS. Muhyiddin memiliki ideologi yang keras. Dia menginginkan dominasi orang Melayu di pemerintahan.

Dia orang yang paling kecewa di dalam koalisi Pakatan Harapan. Koalisi ini meraih mayoritas parlemen pada 2018 dengan 121 kursi. Mereka juga merekrut sejumlah politikus oposisi, terutama dari UMNO, sehingga mencapai 139 kursi.

Dalam koalisi ini melibatkan partai milik Anwar Ibrahim (Partai Keadilan Rakyat/PKR) dengan kekuatan 40 kursi parlemen, partai Tionghoa (Partai Aksi Demokrasi/DAP) 42 kursi, Partai Pribumi Bersatu besutan Mahathir dan Muyiddin sebanyak 26 kursi, serta Partai Amanah.

Koalisi ini dibentuk untuk menggulingkan kekuasaan Najib Rajak yang kala itu disokong oleh koalisi Barisan Nasional. Koalisi ini melibatkan 13 partai dengan penyokong utamanya United Malays National Organization (UMNO) yang memiliki 39 kursi.

Selain itu, di Malaysia ada koalisi Gagasan Sejahtera, yang terdiri atas Partai Islam Pan Malaysia (PAS), Partai Ikatan Bangsa Malaysia (Ikatan), Berjasa dan Partai Cinta Malaysia (PCM)

Dinamisnya partai politik di Malaysia membuat Muhyiddin bebas bermanuver untuk melancarkan gagasannya. Mengangkat harkat orang Melayu, seperti dikutip di blog Dahlan Iskan yang berjudul Malay First.

Muhyiddin Yassin disebut-sebut orang yang sangat Islam ideologis. Ayah Muhyiddin adalah orang Johor, seorang kiai keturunan Bugis, Sulawesi. Ibunya adalah wanita Jawa.

MAHATHIR KECEWA

Dengan manuver Muhyiddin Yassin tersebut, Mahathir mengaku kecewa. Bahkan merasa dikhianati. "Saya merasa dikhianati, terutama oleh Muhyiddin. Dia telah bekerja cukup lama untuk hal ini dan kini dia berhasil," ujarnya dalam konferensi pers di Yayasan Albukhary seperti dilansir Malaysiakini, Minggu (1/3/2020).

Langkah zig-zag membentuk pemerintahan lewat jalur belakang disinyalir diprakarsai oleh mantan wakil presiden PKR Azmin Ali dan Muhyiddin, bersama dengan UMNO dan PAS.

Hal tersebut yang membuat Mahathir Muhamad sempat mengundurkan diri sebagai perdana menteri dan keluar dari koalisi. Namun, dia juga membangun koalisi untuk melawan Muhyiddin, dan lagi-lagi dibantu oleh Anwar Ibrahim yang sebelumnya hendak ditinggalkan. Bahkan, dijebloskan ke penjara dulu ketika berkuasa.

Mahathir mengakut menerima dukungan dari 114 anggota parlemen. Sebanyak 112 adalah jumlah minimum yang diperlukan untuk mendapatkan suara mayoritas di parlemen, yang memiliki 222 anggota, sebagai syarat konstitusi untuk menentukan Perdana Menteri Malaysia.

Pada 8 Maret 2020, menurut rencana, parlemen akan bersidang untuk menentukan koalisi. Keputusan raja bisa saja dianulir apabila suara mayoritas parlemen tidak terpenuhi. Apakah Muhyiddin Yassin mampu mempertahankan kekuasaannya? (h/*)

 Sumber : kabar24 /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM