Salju Merah Darah Muncul di Antartika, Ini Bahayanya Menurut Ilmuwan


Ahad, 01 Maret 2020 - 20:26:43 WIB
Salju Merah Darah Muncul di Antartika, Ini Bahayanya Menurut Ilmuwan Sebagian salju di Antartika berubah warnanya menjadi merah darah.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Sebagian salju di Antartika berubah warnanya menjadi merah darah. Fenomena ini ternyata selain menyajikan pemandangan unik, juga di baliknya mengandung bahaya tersendiri.

Diberitakan sebelumnya, ilmuwan yang bermarkas di stasiun riset milik Ukraina, Vernadsky Research Base, dikelilingi oleh salju semacam itu. Penyebabnya sejenis ganggang dengan pigmen merah bernama Chlamydomonas Chlamydomonas nivalis.

Baca Juga : Ini Sebabnya Burung Hantu Mampu Memutar Kepala hingga 270 Derajat

Jadi saat musim dingin melanda Antartika, mereka mampu bertahan hidup. Tumbuhan yang hidup di berbagai area dingin ini berada jauh di bawah lapisan salju sehingga tak terlihat.

Barulah ketika temperatur lebih hangat muncul di sana, pada musim panas antara Oktober sampai Februari, ganggang tumbuh ke permukaan salju dan mengubahnya jadi merah.

Baca Juga : Perseverance Temukan Batu Hijau Aneh di Mars, Apakah Ini Jejak Alien?

Warna merahnya berasal dari karotenoid di kloroplas ganggang itu. Pigmen ini berperan untuk menyerap panas dan melindungi ganggang dari sinar ultraviolet. Namun ada konsekuensi lain.

"Merekahnya ganggang ini berkontribusi pada perubahan iklim," sebut National Antarctic Scientific Centre Ukraina yang dikutip detikINET dari Science Alert.

Baca Juga : Ilmuwan Sebut Cara Ini Bisa Hentikan Naiknya Permukaan Air Laut

Studi tahun 2016 mengungkap jika perkembangan ganggang menurunkan jumlah cahaya yang direfleksikan oleh salju di kutub. Tahun 2017, studi terpisah menyebut bahwa ganggang ini berkontribusi dalam mencairnya seperenam salju di Alaska.

Jadi, area yang banyak ganggangnya mengalami es meleleh lebih cepat. Musim panas di Antartika sendiri makin sering diwarnai mencairnya es seiring naiknya temperatur. Nah, kondisi ini membuat ganggang semakin subur dan kemudian, makin banyak lagi es mencair.

Baca Juga : NASA Pastikan Asteroid 'Dewa Kekacauan' Tidak Berpeluang Menabrak Bumi

"Peristiwa semacam ini sekarang terjadi lebih sering," kata ahli salju, Mauri Pelto dari Nichols College. Seperti diketahui, mencairnya es bukanlah berita bagus karena berpotensi menambah kenaikan air laut.

Antartika sendiri baru saja mengalami 9 hari gelombang panas bulan ini dan juga mencatat rekor temperatur tertinggi, yaitu 18,3 derajat Celcius di stasiun riset Argentina.(*)
 

Editor : NOVA | Sumber : detik.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]