Rawat Anak yang Menderita Meningitis

Perjuangan Rita, Wanita Tangguh Pemecah Batu Sungai di Padang


Senin, 02 Maret 2020 - 17:48:56 WIB
Perjuangan Rita, Wanita Tangguh Pemecah Batu Sungai di Padang Rita, wanita tangguh pemecah batu di kawasan Ulu Gadut, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan. (Agoes Embun)

Ketika orang lain sibuk berbahagia dengan keluarganya, lain cerita dengan Rita, seorang wanita beranak tiga yang tinggal di kawasan Ulu Gadut, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan ini. Wanita yang sudah ditinggal sang suami tujuh tahun silam harus melakoni pekerjaan laki-laki untuk menghidupi keluarganya dan merawat si bungsu yang menderita meningitis. Bagaimana kisahnya?

AGOES EMBUN -- PADANG

Saban hari, wanita 39 tahun ini mulai menyiapkan palu, linggis, cangkul dan ember yang akan dibawanya ke sungai. Tak lupa, dia pun membawa selimut dan bantal yang disiapkan untuk tempat bergolek Seno, anak bungsunya yang menderita meningitis (sakit di jaringan otak). Sebab, jika ditinggal, Seno kerap menangis menanyai sang ibu.

"Setiap hari jika memecah batu, Seno saya bawa. Karena, kakaknya kan sekolah. Kalau ditinggal sendirian kadang dia menangis. Makanya, saya bawa saja dia ke sungai," kata Rita kepada harianhaluan.com, Senin (2/3) siang. 

Rita membawa Seno menggunakan gerobak ke sungai.

Tak lupa, Rita pun menyiapkan sebuah gerobak dorong untuk mengisi pasir yang digunakan sebagai alat membawa Seno ke sungai berikut dengan perkakas pemecah batunya. Selama bekerja memecah batu, Rita membuatkan sebuah pondok kecil yang beratapkan terpal dan alasnya dari selimut serta bantal yang dibawa dari rumah di pinggir sungai.

"Kadang saya juga was-was akan ancaman ular dan biawak, tapi mau diapakan lagi. Kalau dia tak dibawa, nanti dia menangis karena lapar siapa yang tahu. Tapi, sejak dibawa ke sungai, beban Seno terlihat lepas karena bisa terus melihat bundanya bekerja," katanya. 

Terlihat rona kesedihan mendalam dari wajah Rita. Tapi, dia tak bisa berbuat banyak selain harus selalu berusaha mendapatkan uang untuk Seno dan kakaknya yang sudah kelas 6 SD. "Kalau dikatakan terpaksa, ya tidak juga. Sebab, jika tak bekerja, saya dan anak-anak mau makan sama apa," sebutnya. 

Sehari Dapat Rp45 Ribu
Dari hasil kerjanya itu, kata Rita, kadang dia hanya membawa uang Rp45 ribu setiap kali muat. Tapi, beberapa minggu belakangan ini, pesanan batu sungai pun sepi, sehingga dia pun terpaksa berutang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Setidaknya, dalam sehari itu Rita harus menyiapkan uang hingga Rp50 ribu untuk belanja anak dan belanja dapur.

"Saya dapat uang kalau ada yang membeli batu. Jika tidak, saya manfaatkan dulu apa yang ada. Kadang saya bantu-bantu cuci baju atau mengambil upahan cuci piring orang yang helatan. Hasilnya, cukup juga untuk kebutuhan sehari-hari," sebut Rita. 

Namun, wanita yang sudah ditinggal suami sejak 7 tahun silam ini tetap yakin dia masih mampu membiayai anak-anaknya. Baginya, takkan ada yang menolong selain dirinya dan usaha kerasnya. "Saya yakin Tuhan itu tak sia-sia, salah satunya dengan memberikan hasil alam untuk saya jadikan tempat berusaha," ujarnya sambil menyeka airmata. 

Sakit Sejak Usia Setahun
Rita pun mengenang penyakit meningitis yang menimpa Seno sejak tujuh tahun silam. Ketika lahir, kenang Rita, Seno sama seperti anak-anak lainnya dan bisa memanggil bunda serta menangis seperti anak seusianya. Namun, penyakit itu mulai terlihat saat Seno berusia satu tahun.

"Sejak berusia setahun, Seno mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak normal. Responnya terhadap panggilan, kemudian tubuhnya yang terlihat melemah dan cara berbicaranya mulai tak jelas. Saya pun sempat membawa Seno ke rumah sakit. Ketika itu, dokter mengambil tulang sumsumnya dan sampai sekarang Seno hanya bisa berbaring lemah," jelasnya. 

Sekarang, katanya, Seno hanya dirawat sendirian saja di rumah dengan asupan makanan seadanya. Ada anjuran saat itu jika Seno harus selalu mendapatkan susu untuk menguatkan kondisinya. "Tapi, kehidupan saya yang seperti sekarang ini tidak mungkin juga bisa terus-terusan memenuhi kebutuhan Seno. Namun, saya takkan menyerah," sebutnya. 

Sempat Dibantu
Tahun 2019 lalu, Rita mengatakan sempat mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui BAZNas Padang dan bisa mengangsur sedikit demi sedikit rumah yang ditempatinya. Bahkan, dia sempat dijanjikan untuk mendapatkan bantuan usaha, sayangnya sampai sekarang belum ada realisasinya. 

"Rumah ini adalah punya orangtua saya. Beliau sakit stroke dan sudah meninggal enam bulan lalu. Sekarang, saya yang menghuni bersama Seno dan kakaknya. Bisa juga diangsur sedikit lebih baik berkat bantuan saat itu. Namun, tetap saja saya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk mereka," ucap Rita.

Selain itu, pada tahun lalu, Rita juga sempat dinobatkan sebagai Wanita Inspiratif Kota Padang karena usaha kerasnya tersebut dan dikunjungi oleh istri Wali Kota Padang, Harneli. Sekarang, itu hanya menjadi kenangan bagi Rita. Sebab, hari ke hari dia harus kembali ke sungai untuk memecah batu dan memberi nafkah untuk anak-anaknya. Tetap semangat Uni Rita! (**)

 Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 18 Mei 2019 - 11:57:26 WIB

    Perjuangan Maria Febe Memeluk Islam

    Perjuangan Maria Febe Memeluk Islam JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Tidak ada paksaan atau ajakan yang didapat Maria Febe Kusumastuti untuk memeluk agama Islam. Pebulutangkis tunggal putri Indonesia itu resmi jadi mualaf sejak 2013 lalu di Jakarta..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM