Masker Langka dan Mahal di Kota Padang, IDI Sumbar Tanya Kenapa?


Selasa, 03 Maret 2020 - 09:03:11 WIB
Masker Langka dan Mahal di Kota Padang, IDI Sumbar Tanya Kenapa? Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumbar, dr. Pom Harry Satria mempertanyakan perihal kelangkaan masker di sejumlah apotek di Kota Padang. Diketahui, selain ketersediaan masker yang mulai susah didapatkan, harga masker di sejumlah apotek seperti di daerah Tarandam, Sawahan dan Jati meningkat tajam dari yang sebelumnya Rp25.000-Rp30.000 /kotak menjadi Rp150.000 /kotak.

"Tentang ketersediaan masker, itu masalah kita sekarang. Jadi pertanyaan besar juga itu kenapa masker itu harganya bisa naik dan cenderung langka," ungkap dr. Pom kepada Haluan, Senin (2/3).

Lebih lanjut, dr. Pom mengatakan perlu intervensi dan kebijakan serta dukungan bersama dalam mengatasi kelangkaan masker di kondisi seperti ini.

"Karena untuk mengantisipasi penularan penyakit-penyakit melalui saluran nafas ini kan, kebutuhan masker menjadi pencegahan yang penting. Sehingga perlu intervensi dan kebijakan pihak berwenang dan juga tentunya dukungan bersama dalam mengatasi kelangkaan masker.

IDI sumbar, sambungnya mengimbau pihak berwenang untuk segera menyikapi kelangkaan masker ini. 

"Imbauannya agar kebutuhan akan masker ini bisa terpenuhi dengan mudah dan murah. Harganya terjangkau dan gampang didapatkan bagi masyarakat. Terutama anak-anak yang daya tahan tubuhnya lebih rendah, sedangkan aktivitas mereka di sekolah dan di luar rumah sangat tinggi. Juga para pekerja yang sering beraktivitas di luar ruangan yang tak kalah penting," jelasnya.


Supply Harus Imbangi Demand

Sementara itu, pengamat ekonomi yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Economic Action (ECONACT) Indonesia, Ronny P. Sasmita menanggapi fenomena langkanya ketersediaan masker di sejumlah apotek di Kota Padang.

Menurutnya, kelangkaan masker dipengaruhi oleh faktor penawaran dan permintaan (supply-demand).

"Soal masker, mau tak mau, semakin masifnya pemberitaan corona memicu peningkatan permintaan pada produk masker, dan pada titik-titik penjualan tertentu harganya menjadi naik," ungkap Ronny.

Ronny menjelaskan saat permintaan naik, dan ketersediaan/supplynya konstan, otomatis memicu kelangkaan dan kenaikan harga.

"Untuk itu, dinas terkait harus mengambil langkah tegas atas oknum-oknum penjual masker tersebut, dan jika dimungkinkan, pemerintah daerah ikut dalam mendorong peningkatan persediaan masker agar penawaran bisa mengimbangi permintaan, agar tidak terjadi kelangkaan dan kenaikan harga yang berlebihan," katanya lagi.

Sebelumnya, hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Feri Mulyani Hamid. Ia mengatakan kewaspadaan masyarakat akan virus corona menyebabkan daya beli masyarakat menjadi meningkat.

"Ketersediaan masker di e-katalog sevara nasional juga sedang kosong, hal tersebut terkait adanya kewaspadaan masyarakat terhadap virus corona sehingga daya beli masker meningkat," ungkap Feri.

Feri mengatakan kondisi Sumbar yang masih aman, sehingga yang disarankan untuk menggunakan masker adalah orang sakit.

"Masker itu kan bagian dari bahan medis yang habis pakai, kita menyarankan penggunaan masker bagi pasien atau orang sakit seperti batuk, dan sebagainya. Sementara kondisi di tempat kita kan masih aman. Kalau penjual di apotek kan memakai prinsip ekonomi, ketika permintaan naik dan stok barang jumlahnya terbatas, tentu mempengaruhi harga. Sejauh ini yang bisa kita sarankan adalah penggunaan masker oleh pasien/orang sakit, kalau sehat-sehat saja tidak perlu pakai masker. Karena masyarakat yang membeli masker untuk perlindungan yang membuat ketersediaan masker jadi langka," katanya menutup. (*)

Reporter : Yessi Swita /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM