IDI Sumbar: Vaksin Virus Corona dari Israel Belum Tentu Bisa Dimanfaatkan di Indonesia


Selasa, 03 Maret 2020 - 09:42:03 WIB
IDI Sumbar: Vaksin Virus Corona dari Israel Belum Tentu Bisa Dimanfaatkan di Indonesia Ilustrasi

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Baru-baru ini, ilmuwan di Israel yang tergabung dalam The Galilee Research Institute (MIGAL) dikabarkan telah menemukan vaksin untuk melawan virus corona (COVID-19). Dikutip dari laman Jerusalem Post, vaksin itu baru bisa dilepas ke pasar setelah melalui proses perizinan yang berlangsung setidaknya selama 90 hari.

Menanggapi hal itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Sumbar, dr. Pom Harry Satria mengatakan vaksin dari Israel tersebut belum tentu bisa dimanfaatkan di Indonesia.

"Belum tentu vaksin virus corona tersebut bisa dimanfaatkan di negara kita, kalau seandainya bisa dimanfaatkan di negara kita, tentu departemen kesehatan akan mengambil sikap. Jadi kita masih menunggu," terangnya kepada Haluan.

Terkait vaksin, menurut dr. Pom ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.

"Mulai dari tingkat keberhasilan, hal yang berkaitan dengan regulasi, kerjasama negara dan persoalan agama, semua harus dipertimbangkan," kata dia.

Lebih lanjut dijelaskannya, hingga saat ini pemerintah terus mencari solusi terbaik dan tetap serius menanggapi fenomena virus corona ini. 

IDI dan Dinkes Sumbar khususnya, sangat intens untuk melakukan pencegahan, sosialisi dan pencerahan kepada masyarakat, prinsip perilaku hidup sehat tadi.

"Tentu pemerintah kita dalam posisi terus mencari solusi, pastinya. Seperti masyarakat yang masuk dari daerah-daerah yang dicurigai corona pasti diisolasi dulu. Karena infeksi itu, inkubasinya 2-14 hari, jadi tujuan observasi untuk melihat dalam 2-14 hari itu ada infeksi atau tidak. Setelah lewat 14 hari, secara klinis dinyatakan bebas dari masa inkubasi berarti tidak ada infeksi yang terjadi," ucapnya lagi.

Menurut dr. Pom, dikarenakan saat ini virus corona belum ada obatnya, ia menyarankan beberapa langkah antisipatif dan pencegaham.

"Sesuai imbauan yang pernah kita sampaikan kepada masyarakat, berkaitan dengan penyebaran virus yang sampai saat ini belum ada pengobatannya, berarti pilihan kita adalah menghindari kontak maksudnyan menghindari penularan di tempat-tempat yang sudah dinyatakan travel warning. Jika tidak terlalu mendesak dan penting sekali, sebaiknya dihindari. Jika harus dilakukan sebaiknya dilakukan pencegahan," jelasnya.

Pencegahan yang terbaik, sambung dr. Pom adalah pemaiakan masker, menjaga kebersihan diri, membiasakan mencuci tangan, menjaga bersentuhan dengan cairan-cairan kontaminasi tertentu terurama di rumah sakit atau di keramaian, pola hidup sehat yanh tidak dibutuhkan biaya mahal, istirahat yang cukup makanan yang sehat dan olahraga yang seimbang.

Bagi anak-anak dan orangtua yang daya tahan tubuhnya lebih rendah, disarankan untuk menjaga aktivitas di luar ruangan.

"Aktivitas anak-anak tentu dijaga, tidak dalam artian membatasi sepenuhnya, selagi dalam lingkungan yang tidak dicurigai kontaminasi ya aktivitas dengan pencegahan seperti biasa," ungkapnya.

Selain itu juga menghindari penyakit yang berhubungan dengan daya tahan tubuh. 

"Salah satu penyakit yang berhubungan dengan daya tahan tubuh kan penyakit yang disebabkan oleh virus, selain itu pula yang tak kalah penting adalah saling peduli dengan lingkungan yang perlu ditingkatkan. Kalau ada sakit, apalagi yang termasuk ke dalam tanda-tanda infeksi tersebut, saling dikomunikasikan. Terus yang tak kalah penting saat menderita sakit, langsung dicari solusi pengobatannya, hindari pemakaian obat-obatan bebas, karena tkdak menyelesaikan masalah," katanya menambahkan. (*)

Reporter : Yessi Swita /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM