Potong Sapi Betina Bisa Dipidana, Pengawasan RPH di Pasaman Ketat


Rabu, 04 Maret 2020 - 17:54:53 WIB
Potong Sapi Betina Bisa Dipidana, Pengawasan RPH di Pasaman Ketat Ilustrasi

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM - Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman kembali mengingatkan rumah pemotongan hewan (RPH) dan pemilik ternak tidak menyembelih sapi atau kerbau betina produktif. Sebab, sanksinya cukup berat, bisa dipidana penjara. 

"Tentang itu, sudah. Malah, sudah berulang-ulang diingatkan, RPH dilarang menyembelih sapi betina produktif, apalagi masyarakat. Hal itu dilakukan untuk mempercepat program swasembada daging," ungkap Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian Pasaman, Romi Zuswandi, Rabu. 

Baca Juga : Antisipasi Curanmor saat Ramadan, Ini Imbauan Polda Sumbar

Sampai saat ini, kata Romi, pihaknya belum pernah menemukan adanya kasus penyembelihan sapi betina produktif di RPH tersebut, demikian pula di tempat pemotongan milik masyarakat, karena proses pemotongan selalu diawasi dengan ketat. 

"Pemotongan baik di RPH dan di luar RPH, pengawasannya ketat. Di RPH, kita punya petugas medis dan paramedis. Pemotongan juga diawasi aparat kepolisian. Di luar, diawasi petugas kita dari Poskeswan," ujarnya. 

Baca Juga : Berkunjung ke Sumbar, Doni Monardo Minta Perantau Lebaran Virtual

Larangan penyembelihan sapi/kerbau betina produktif tertuang dalam Pasal 18 ayat 4 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. 

Di mana, isinya menyebutkan bahwa setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif.

Baca Juga : Pengurus DPD Ikadin Sumbar Dilantik, Siap Lahirkan Hotman Paris dari Minang

Sementara dalam pasal 86 pada undang-undang yang sama diatur sanksi pidana kurungan bagi orang yang menyembelih ternak ruminansia besar betina produktif paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun, serta denda paling sedikit Rp 100 juta serta paling banyak Rp 300 juta.

"Kami juga gencar menyosialisasikan soal pelarangan pemotongan sapi betina bunting ini ke RPH hingga ke masyarakat di berbagai pelosok nagari," pungkasnya.

Baca Juga : Diburu Waktu, Wagub Sumbar Perintahkan Dinkes Kejar Target Vaksinasi Lansia

Di Pasaman, kata Romi, jumlah populasi sapi baru mencapai 4.000 ekor, tertinggi di Kecamatan Tigo Nagari. Sementara jumlah kelahiran sapi per tahunnya di daerah itu baru mencapai 490 ekor kelahiran. 

Sementara data pemotongan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Lubuksikaping, pada 2019 lalu, sebanyak 488 ekor sapi. Pemotongan paling tinggi terjadi pada saat perayaan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. (*)
 

Reporter : Yudi Lubis | Editor : NOVA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]