Prof DR Dra Diana Kartika

Sang Profesor Sekaligus Pengusaha Sukses yang Fashionable dari Universitas Bung Hatta


Rabu, 04 Maret 2020 - 20:41:17 WIB
Sang Profesor Sekaligus Pengusaha Sukses yang Fashionable dari Universitas Bung Hatta Diana Kartika saat mendapat penghargaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak di Universitas Bung Hatta.

SOSOKNYA yang dinamis dan modern, gigih serta lihai melihat peluang, cekatan dan pintar secara akademis, fashionable dalam berpenampilan, supel dan disenangi banyak orang membuat predikat Kartini zaman now, cocok disematkan pada pada wanita kelahiran Palembang, 15 April 1967 ini. Dialah Diana Kartika, sang pengusaha sukses, dan akademisi yang telah berhasil mencapai predikat guru besar.

 

LAPORAN : YESSI SWITA

 

Diana Raih Gelar Profesor Pendidikan Bahasa Jepang pertama di Sumatera

Di bidang akademis, istri dari Ir. Aulia Weno Durin ini sudah menorehkan pencapaian tertingginya. Tak main-main, ialah Profesor Pendidikan Bahasa Jepang pertama di Sumatera.

"Saya tercatat sebagai guru besar ke-27 di LLDIKTI, Profesor Pertama di Sumatera untuk Pendidikan Bahasa Jepang. Dan setelah 12 tahun kering, kampus tempat saya mengabdi Universitas Bung Hatta (UBH) kembali mengukuhkan 3 orang guru besar, 2 dari Teknik dan saya satu-satunya dari Bahasa Jepang," ungkap Diana.

Diana Kartika, Raih Gelar Profesor Bahasa Jepang Pertama di Sumatera.

 

Diana juga memiliki Sederet Bisnis di Beberapa Kota

Di bidang Bisnis, usaha ibu dua orang anak (Muhammad Fadhlan Rifki B.Bus,M.A dan Raisa Hulia Putri, B. Des,M.Des.) ini pun berjejer. Ia adalah pemilik salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Barat, pemilik salon kecantikan dengan nama "Panggaya" di Jakarta. Salon yang diawali dari kesenangannya didunia kecantikan yang juga turut membuatnya nampak kian cantik dan fashionable di usianya saat ini.

Ia juga mendirikan lembaga pendidikan LIA di Palembang, Sumatera Selatan dengan tekad mendidik siswa pintar berbahasa asing.

Jika sekilas menilai, dari hasil usahanya saja, sebenarnya Diana tidak perlu lagi bekerja keras dan bersusah-susah mengurus ini dan itu. Tapi prinsipnya patut ditiru, sebagai seorang wanita harus multitalent dan multitasking.

Bersama Sandiaga Uno 

 

"Tanpa meninggalkan peran sebagai istri dan ibu, seorang wanita harus multitalenta dan multitasking. Gaungnya harus terdengar. Meskipun tiap akhir pekan, saya bolak-balik Padang-Jakarta, menjalankan tugas sebagai istri dan ibu, mengurusi semua bisnis dan berhasil meraih gelar profesor, tak ada kata lelah. Saya sangat mengapresiasi diri saya," ungkap Diana.

Pencapaian anak dari pasangan Alm. Drs. Mansyurdin Arma tokoh birokrat kelahiran Padang Panjang, dan Hilma Durin ini bukan tanpa perjuangan. Kepada awak HarianHaluan.com ia bertutur sepak terjang yang disimpannya selama ini.

"Di awal berbisnis, saya pernah menggadaikan mobil pemberian mertua, ketika merintis salon kecantikan di Kota Padang. Dengan sederet perjuangan lainnya, sekarang salon dengan nama 'Panggaya' itu, sudah berdiri megah di Kota Jakarta dan menjadi langganan artis-artis ibukota. Orang yang tidak tau sepak terjang saya, hingga sampai di titik ini, mungkin mengira saya bisa mencapainya dengan cara mudah. Karena saya anak ini, menantu ini, dan lain-lain. Tapi saya lebih memilih berjuang, dengan cara saya sendiri," ungkap Diana di ruangannya beberapa waktu lalu.

Lain tantangan di dunia bisnis, lain pula tantangannya meraih gelar profesor. Diana sempat diremehkan, nyaris gagal, namun dengan segala tekad ia berhasil membuktikan dan meraih gelar yang bahkan tak pernah dibayangkan akan diraihnya ini.

"Saya tidak masuk dalam daftar dosen percepatan untuk meraih gelar doktor, tapi saya berjuang dengan secara mandiri, dan terwujud dalam waktu 2.5 tahun," sebutnya.

Bermula Jadi Dosen Hingga Dipercayakan jadi Wakil Rektor

Awal karir, putri bungsu dari 5 bersaudara ini menjadi Dosen PNS-DPK di Program Studi Sastra Jepang Universitas Bung Hatta.

Pada tahun 1997 Diana mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah S2 dan S3 pada jurusan Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta. Alhasil berkat kerja keras dan usahanya, ia dapat mengikuti program transfer akademik (tanpa tesis dan wisuda S2 dan langsung lanjut ke S3) dan berhak menyandang gelar Doktor Tahun 2009.

Selain menjadi dosen, Diana Kartika, juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta.

 

Pada tahun 2013-2016, Diana menduduki jabatan struktural sebagai ketua program studi Sastra Jepang di Fakultas Ilmu Budaya. Pada 2016 -- 2020, Diana dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Wakil Rektor Bidang III yaitu bidang kemahasiswaan, kerjasama, dan alumni.

Sebagai sosok yang menginspirasi, tak jarang Diana juga diminta menjadi seorang pembicara dalam Pelatihan Karakter dan Soft Skills Bagi Mahasiswa.

Selain itu, salah satu prestasi yang ditoreh Diana untuk UBH selama menjabat sebagai Wakil Rektor III juga cukup membanggakan, yaitu pada 2019 Bidang Kemahasiswaan Universitas Bung Hatta meraih peringkat ke-101 perguruan tinggi di Indonesia. Hal itu merupakan hasil pemeringkatan Sistem Informasi Manajemen Pemeringkatan Kemahasiswaan (SIMKATMAWA) oleh Kemenristekdikti.

Di sisi lain, pada 2017, Diana Kartika dipercaya oleh Kepala Kopertis Wilayah X yang sekarang menjadi LLDikti Wilayah X menjadi Chief Editor Jurnal Kata (Jurnal Penelitian Ilmu Bahasa, Sastra dan Seni).

Ia juga merupakan Ketua Asosiasi Studi Jepang Indonesia dari 2011 - Sekarang. Diana juga diamanahkan sebagai Ketua Forkomawa LLDikti Wilayah X tahun 2019 -- 2022. Dan di tengah banyak kepercayaan yang diberikan padanya, Diana ternyata juga aktif menjadi anggota Masyarakat Linguistik Indonesia dari tahun 2003-Sekarang.

Diana Kartika menerima SK Fungsional Lektor Kepala pada Tahun 2014 dan SK Kepangkatan Pembina (IVa) yaitu tahun 2016. Awal Tahun 2017 Dr. Diana Kartika mulai memikirkan bagaimana caranya mendapatkan gelar Seorang Profesor yang merupakan Jabatan akademik tertinggi dari seorang Dosen.

Oleh karena itu, sejak 2017, ia mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti Konferensi Nasional dan International. Selama melewati proses itu, Diana Kartika rajin menulis artikel ilmiah dan dimanapun ada konferensi beliau selalu mengikutinya.

Hal itu dijalaninya di tengah kesibukan dan aktifitasnya sebagai seorang Wakil Rektor III di UBH yang tentunya sangat sibuk dengan kegiatan kampus.

"Kenapa saya cinta sekali kampus ini, karena banyak perjuangan dan pencapaian disini," ungkapnya menutup sedikit cerita perjuangan yang telah dilaluinya.

Tak banyak yang diharapkan Diana dari apa-apa yang telah dilakukannya. Ia hanya ingin bermanfaat untuk orang lain, sebagaimana orangtuanya pernah berpesan.

"Membeli kesenangan itu mudah. Menyenangkan orang lain itu yang susah. Tugas kita, dengan segala keilmuan dan apa yang kita miliki harus bermanfaat bagi orang lain," tutupnya. (h/*)

Reporter : YESSI SWITA /  Editor : Heldi
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]